Kolumnis The Guardian, Barney Ronay, mengaku baru saja “dihajar” oleh Simon Jordan di udara—dan ia mendedikasikan satu kolom penuh untuk membahas pengalaman itu. Hajarannya bukan berupa pukulan, melainkan sindiran tajam dari mantan pemilik Crystal Palace yang kini jadi komentator di TalkSport. Pemicunya adalah tulisan Ronay soal stadion yang dipenuhi anak-anak sekolah pada laga Kroasia versus Inggris di Rijeka.
Sekilas ini cuma gesekan kecil antara wartawan dan pundit. Tapi Ronay menjadikannya contoh bagaimana percakapan sepak bola hari ini digerakkan mesin atensi: potongan klip pendek, reaksi berantai, lalu gelombang kemarahan yang dipanen sebagai tontonan. Ia bahkan mengakui ikut memperbesar polemik itu sendiri, mempromosikan diri sebagai pihak yang memang layak “dihajar”. Dari situ, persoalannya bergeser dari soal siapa benar menjadi soal mengapa kita begitu sulit berhenti menontonnya.
Apa yang Sebenarnya Terjadi: Ronay “Dihajar” Simon Jordan
Ronay mengaku tidak tahu dirinya jadi sasaran sampai rekannya sesama jurnalis, Barry Glendenning, mengabarinya. Menurut Ronay, Glendenning memang punya kebiasaan semacam itu: setiap kali ada yang “dibungkam”, “dimiliki”, atau dihabisi di internet, ia akan memberi tahu—sebagai bentuk perhatian, bukan karena menikmatinya. Ronay menyebut kebiasaan itu seperti punya anjing penjaga yang setia dan sigap mengabari setiap kali namanya disebut di dunia maya.
Yang menarik, Ronay juga tidak benar-benar menonton seluruh isi “hajaran” itu. Klipnya hanya sekitar dua menit, dan menurutnya hidup terlalu singkat untuk menuntaskan tontonan seperti itu. Ia bahkan terang-terangan mengakui bahwa sebagian dari narasi “diserang” ini ia rawat sendiri, karena citra sebagai orang yang layak dimarahi terasa menguntungkan secara sosial.
Pada akhirnya, Ronay sendiri tidak sepenuhnya paham bagian mana dari pendapatnya yang memicu kemarahan sebesar itu. Ia menilai reaksinya berlebihan untuk sesuatu yang ia sampaikan secara sambil lalu. Justru ketidaksesuaian antara besar reaksi dan kecil pemicunya yang membuat kasus ini menarik untuk dibedah.
Duduk Perkara: Anak-Anak di Stadion Rijeka
Ronay menulis tentang laga Kroasia versus Inggris di Rijeka yang sedianya digelar tanpa penonton. Hukuman itu dijatuhkan menyusul kerusuhan yang melibatkan suporter Kroasia di Paris pada tahun sebelumnya, termasuk tuduhan bahwa sebagian di antaranya melakukan salut Nazi. Larangan kehadiran penonton adalah bentuk sanksi yang lazim dalam sepak bola Eropa untuk kasus seperti ini.
Masalahnya, Federasi Sepak Bola Kroasia lalu memenuhi stadion dengan anak-anak sekolah, memanfaatkan celah dalam regulasi. Bagi Ronay, pemandangan itu terasa janggal sejak awal. Ia tidak menuduh anak-anak itu bersalah, tetapi menilai solusi tersebut tidak sejalan dengan semangat hukuman yang seharusnya menutup tribun dari publik.
Kritik itulah yang dianggap sebagian orang sebagai gaya menggurui khas kaum liberal. Ronay membalas dengan argumen sederhana: yang diperdebatkan bukan sensitivitas berlebihan, melainkan orang-orang yang benar-benar menyukai simbol swastika dan berbicara dengan nada simpatik tentang Ustase, salah satu faksi paling kejam dalam mesin perang Reich Ketiga. Ia menambahkan, dalam pekan yang sama, suporter Hajduk Split terdengar berjalan di belakang peti mati sambil menyerukan kata “Auschwitz”.
Dari situ ia melontarkan pertanyaan retoris: kalau pesan antirasisme memang sudah meresap, seberapa banyak lagi anak sekolah yang perlu dilibatkan agar pesannya sampai? Menurutnya, memenuhi stadion dengan murid tahun kedelapan bukan cara yang tepat untuk menyampaikan pelajaran sejarah, betapapun menyenangkannya melihat anak-anak bahagia di tribun.
Siapa Simon Jordan dan Mengapa Kritiknya Terasa Menusuk
Simon Jordan bukan nama asing di industri sepak bola Inggris. Ia pernah memiliki Crystal Palace, dan kini dikenal sebagai komentator vokal di TalkSport, termasuk dalam program pagi bersama Jim White. Menurut Ronay, pengetahuan industrinya nyata karena ia benar-benar pernah menjalankan klub, bukan sekadar mengomentari dari luar.
Ronay bahkan mengaku menyukai sosok itu. Ia menikmati gaya bicaranya yang meledak-ledak, memuji penampilannya di berbagai potongan klip, dan mengakui bahwa banyak pendapat Jordan soal arah dunia memang masuk akal. Ronald menilai kekuatan Jordan justru ada pada sikapnya yang tak ragu menyatakan bahwa keadaan sedang buruk dan perlu diperbaiki.
Karena itu, kritik Jordan terasa lebih menusuk: orang yang diserang bukan lawan ideologisnya, melainkan seseorang yang selama ini menikmati mendengarkannya. Namun Ronay tetap mencatat satu poin penting—benar bahwa dijajahi ceramah itu menjengkelkan, tetapi yang sedang dibicarakan di sini bukan soal nyaman atau tidak nyaman. Yang dibicarakan adalah simbol-simbol fasisme dan bagaimana sepak bola menanganinya.
Algoritma, Beef, dan Ekonomi Atensi Sepak Bola
Bagi Ronay, inti persoalan bukan pada Jordan atau dirinya, melainkan pada mesin yang mempertemukan keduanya. Ia mengakui konten semacam ini sangat adiktif, dan itu bukan kebetulan: banyak sekali keahlian serta sumber daya dicurahkan untuk membangun mesin atensi yang nyaris mustahil ditolak. Setelah satu benturan selesai, algoritma langsung menyodorkan benturan berikutnya untuk dikonsumsi.
Ia mencontohkan kartunis David Squires yang pekan itu merilis komik tentang menjamurnya acara bincang sepak bola berbasis selebritas. Menurut Ronay, acara-acara semacam itu—produksi obrolan berskala industri yang dibiayai modal besar—harus membenarkan ruangnya dengan cara berteriak paling keras di antara kebisingan. Konsekuensinya, format tersebut selalu condong ke budaya benturan dan narasi saling berhadapan.
Contoh konkretnya mudah ditemukan. Ronay menyebut algoritma di beranda miliknya sudah dipenuhi benturan baru yang melibatkan Jordan, termasuk adu argumen dengan Dale Vince soal Robbie Savage—sebuah trio yang, menurutnya, sudah cukup untuk membuat siapa pun penasaran. Ia juga mengaku berusaha keras menahan diri agar tidak masuk ke lingkaran itu, antara lain dengan menolak tawaran radio dan televisi. Alasannya bukan malas, tetapi karena ia melihat tidak ada yang benar-benar bersih dari pusaran tersebut: sekali masuk, seseorang bisa tiba-tiba terlibat adu jotos amal dengan pesepak bola lain.
Konteks Lebih Luas: Sepak Bola yang Selalu Marah
Ronay menilai tingkat kemarahan di sekitar sepak bola saat ini benar-benar luar biasa. Ia mengambil contoh vonis terhadap Manchester City: secara substansi, itu adalah keputusan regulator soal pelanggaran aturan keuangan. Namun reaksi publik di dunia maya jauh melampaui isi putusan, berubah menjadi dorongan untuk menyerang, mengobjektifikasi, dan mendehumanisasi pihak lain hanya karena perbedaan tafsir atas praktik akuntansi.
Pengalaman serupa ia alami sendiri saat meliput laga di Etihad. Ia menyebut harus menghadapi berbagai ancaman kekerasan sebagai buntut artikel yang dimuat di medianya. Meski ia menyindir bahwa ancaman-ancaman itu kemungkinan datang dari akun-akun anonim yang tak jelas siapa, ia tetap melihat pola: semua ini bagian dari desain, sesuatu yang memang dirancang untuk terjadi.
Untuk menjelaskan pola tersebut, Ronay merujuk buku berjudul Our Minds Under Siege karya Bruno Giussani, mantan kurator global TED. Buku itu menguraikan bagaimana kehidupan yang diatur algoritma secara aktif mengubah perilaku manusia—bukan hal baru, karena pemasaran sudah menginginkannya sejak awal abad ke-20 melalui teori sugesti Walter Dill Scott dan teori dorongan motivasi. Sekarang semuanya berjalan dengan bahasa baru yang tak tertahankan secara komersial: kejar-kejaran dopamin, validasi sosial yang berubah-ubah, dan lingkaran umpan balik tanpa ujung.
Bahkan kegiatan menggulir layar tanpa tujuan pun diatur dan diukur, dirancang untuk memunculkan keinginan yang selalu menyala di kepala. Platform teknologi, kata Ronay, secara terbuka mendefinisikan manusia sebagai mata, hasrat, kebutuhan, dan rasa lapar. Dalam kerangka itulah ledakan kemarahan seperti kasus Jordan bukan kegagalan sistem, melainkan keluarannya.
Catatan Penutup
Yang tampak seperti pertengkaran kecil soal satu stadion di Rijeka ternyata menyentuh lapisan yang lebih dalam: cara media sepak bola dibentuk oleh mesin atensi yang menghargai benturan di atas penjelasan. Ronay tidak menyangkal bahwa ia ikut menikmatinya, dan justru pengakuan itu yang membuat tulisannya terasa jujur. Ia tahu dirinya bagian dari sirkuit yang sama dengan orang yang mengkritiknya.
Karena itu, ia menutup dengan sikap yang hampir menantang: ia ingin lebih banyak, bukan lebih sedikit. Biarkan dirinya “dihajar” lagi, biarkan ia merasakan sesuatu, biarkan ia hidup di dalam mesin itu bersama semua pihak yang saling berteriak. Bagi pembaca, poin yang layak dibawa pulang sederhana—sebelum ikut marah pada potongan klip berikutnya, ada baiknya bertanya siapa yang diuntungkan ketika kemarahan itu tersaji begitu rapi di beranda.
