Derby Dockers antara Millwall dan West Ham kembali tersaji setelah 14 tahun, dan laga kali ini tercatat sebagai pertemuan kompetitif ke-100 antara kedua klub. Bertempat di The Den pada Sabtu lalu, pertandingan berakhir 2-2 dengan ketegangan yang bertahan hingga menit-menit akhir.
Dua klub ini dipisahkan sekaligus dihubungkan oleh Sungai Thames. Keduanya tumbuh di sekitar industri berat kawasan dermaga London timur pada akhir abad ke-19, dan kala itu jarak mereka jauh lebih dekat daripada sekarang. Millwall berbasis di Isle of Dogs, sementara Thames Ironworks—cikal bakal West Ham—berada di sekitar Canning Town. Sebelum Millwall pindah ke selatan sungai menuju New Cross pada 1910, kedua klub sama-sama berada di utara Thames dengan jarak hanya sedikit lebih dari dua mil.
Derby ke-100 di The Den: hasil 2-2 yang dramatis
West Ham datang ke The Den sebagai pemuncak klasemen dan baru saja menghajar Wrexham 6-0. Namun Millwall, yang tengah berurusan dengan sejumlah pemain cedera, justru mendominasi sebagian besar babak pertama dan menutup paruh pertama dengan keunggulan dua gol. Keunggulan itu membuat tribun tuan rumah bergemuruh sejak menit-menit awal.
West Ham perlahan menemukan ritme permainannya dan menyamakan kedudukan 10 menit sebelum laga usai. Setiap gol memicu reaksi eksplosif dari tribun, tetapi gol penyama itu menjadi satu-satunya momen ketika kerumunan penonton tampak berpotensi meluap, sampai dukungan polisi tambahan dipanggil masuk.
Pada menit ke-89, Kyrell Lisbie menerobos ke arah gawang dan ditarik jatuh oleh Mohamadou Kanté. Wasit langsung memberikan kartu merah kepada Kanté, sekaligus kemungkinan besar menggagalkan peluang Millwall mencetak gol kemenangan. Laga pun berakhir 2-2, hasil yang menyisakan alasan untuk kecewa sekaligus puas di kedua kubu.
Setelah peluit panjang, sempat terjadi beberapa perkelahian singkat antara suporter Millwall dan polisi di luar stadion, tetapi keributan itu cepat mereda. Hanya berselang beberapa menit, suporter muda sudah berbaris menunggu tanda tangan pemain, sementara yang lain berkumpul membahas jalannya pertandingan.
Pengamanan ketat, siaran langsung, dan kecurigaan pada media
Pertandingan ini disiarkan langsung oleh ITV, dan jam kick-off digeser ke pukul 12.30 siang. Perubahan jadwal itu secara praktis mempersempit waktu bagi suporter untuk minum alkohol sebelum laga dimulai. Di sisi lain, aparat menyiapkan operasi pengamanan besar dengan melibatkan sekitar 400 personel kepolisian.
West Ham hanya menerima 1.774 tiket dari total penonton sekitar 20.000 orang, dan sebagian besar pendukung mereka memilih tidak mengenakan warna klub. Mereka diarahkan menempuh rute melalui London Bridge menuju South Bermondsey, lalu dikawal hingga masuk ke tribun tandang.
Di antara kedua basis suporter, ada kecurigaan terhadap jurnalis, termasuk fotografer. Beberapa orang dari kedua kubu memperingatkan agar tetap berhati-hati selama berada di sekitar stadion. Beberapa kalimat kasar memang sempat dilempar ke arah peliput, tetapi itu datang dari kelompok minoritas.
Yang jauh lebih mencolok justru kuatnya rasa komunitas di sekitar kedua klub, serta keramahan dan kehangatan mayoritas suporter yang ditemui dan difoto. Di media sosial, unggahan bernada panas dan cemoohan memang sulit dihindari. Meski begitu, sebelum hari pertandingan ada perasaan umum bahwa laga akan berjalan tanpa gangguan serius—dan sebagian besar memang demikian.
Asal-usul nama Dockers dan Irons
Pada masa-masa awal pembentukannya, Millwall dikenal sebagai the Dockers, julukan yang kemudian memberi nama pada laga ini. Sementara itu, julukan West Ham, the Irons, merujuk pada asal-usul klub dari kalangan pekerja Thames Ironworks and Shipbuilding Company.
Pekerjaan di dermaga saat itu penuh ketidakpastian dan sangat menguras tenaga. Setiap pagi, para lelaki datang ke titik kumpul tanpa jaminan akan dipilih untuk bekerja, dan persaingan memperebutkan upah sehari bisa sangat keras. Tidak ada kepastian penghasilan, sementara beban fisiknya nyata setiap hari.
Dunia seperti itulah yang menumbuhkan gagasan tentang ketangguhan, kesetiaan, dan kerja keras. Nilai-nilai tersebut hingga kini masih menjadi bagian dari cara kedua klub memahami dan mempresentasikan diri mereka kepada publik.
Mitos Pemogokan Umum 1926 dalam derby Dockers
Karena sejarah kedua klub sangat panjang, memisahkan fakta dari cerita rakyat menjadi pekerjaan yang tidak mudah. Salah satu kisah yang bertahan lama menempatkan akar rivalitas ini pada Pemogokan Umum 1926, ketika buruh dermaga West Ham disebut mendukung pemogokan sementara buruh di Millwall tidak.
Versi itu dibantah oleh sejarawan David Sullivan dan Brian Belton. Belton menegaskan bahwa pemogokan berjalan solid di dermaga Millwall, dan hanya segelintir pekerja yang membelot di sekitar Canning Town. Kendati demikian, kisah tersebut bertahan hampir seabad dan telah menjadi bagian dari mitologi yang menyelimuti laga ini.
Jejak sejarah kedua klub pertama kali bersinggungan pada 1890-an, saat Millwall Athletic berhadapan dengan Thames Ironworks. Belton mengingatkan agar Thames tidak diperlakukan sekadar sebagai West Ham versi lebih awal, karena tim perusahaan itu dibubarkan sebelum klub baru berdiri pada 1900.
Baik Sullivan maupun Belton meragukan anggapan bahwa derby Dockers sudah berusia sangat tua. Sebagian besar permusuhan yang melekat pada laga ini justru tumbuh belakangan, terutama sepanjang dekade 1970-an.
Jejak kekerasan: dari 1970-an hingga Upton Park 2009
Pada 1972, kerusuhan serius terjadi dalam laga testimonial Harry Cripps, meski Cripps sendiri sangat dicintai di kedua klub. Empat tahun kemudian, seorang suporter Millwall meninggal setelah terjatuh dari kereta, dan sebagian pihak meyakini suporter West Ham terlibat dalam insiden itu. Ketika kedua klub kembali bertemu di laga kompetitif pada 1978 setelah lama tak bersua, kekerasan pun mengiringi pertandingan.
Sepanjang 1980-an, 1990-an, hingga awal 2000-an, reputasi rivalitas ini terus ditegaskan oleh titik-titik bentrokan yang jarang terjadi tetapi sulit dilupakan. Puncaknya terjadi di Upton Park pada 2009, ketika laga Piala Liga dinodai perkelahian di luar stadion, sebuah penikaman, dan invasi suporter ke lapangan.
Dua pertemuan di Divisi Championship pada musim 2011-12 berjalan tanpa kerusuhan yang mendekati peristiwa 2009. Setelah itu, kedua klub tidak lagi bertemu dalam laga kompetitif hingga musim ini. Reputasi kekerasan yang melekat pada keduanya juga diperkuat oleh film seperti ID dan Green Street, dan derby ini kian memperbesar mitologinya.
Mengapa rivalitas memuncak saat dermaga London tutup
Mungkin bukan kebetulan bahwa rivalitas ini memuncak pada periode yang sama ketika dunia industri yang melahirkan kedua klub perlahan menghilang. Dermaga-dermaga London ditutup, industri tradisional memangkas puluhan ribu lapangan kerja, dan banyak komunitas di sekitarnya mengalami pengangguran serta kemunduran ekonomi.
Menarik garis lurus antara kemunduran industri dan hooliganisme sepak bola tentu terlalu menyederhanakan persoalan. Namun kedua hal itu terjadi secara bersamaan. Sepak bola menyediakan ruang di mana teritori, maskulinitas, rasa memiliki, dan kebanggaan lokal masih bisa ditegaskan, tepat ketika lembaga-lembaga yang sebelumnya menyediakan identitas tersebut mulai hilang.
Dua klub yang lebih mirip daripada berbeda
Dari sudut pandang orang luar, persamaan antara Millwall dan West Ham bisa tampak lebih besar daripada perbedaannya. Banyak suporter yang ditemui punya teman atau kerabat di kubu seberang. Kedua klub sama-sama menimba nilai-nilai London kelas pekerja seperti ketangguhan, kesetiaan, dan keaslian.
Meski begitu, ketika keduanya bertemu, permusuhan nyata tetap muncul di sebagian basis pendukung. Bisa jadi itulah yang membuat rivalitas ini begitu intens: kedua klub sama-sama bersaing, dengan cara masing-masing, untuk mewakili tempat, budaya, dan identitas yang serupa—sekaligus mengklaim diri sebagai ekspresi yang lebih otentik darinya.
Derby yang bertahan melintasi tiga abad
Millwall dan West Ham kini telah saling berhadapan melintasi tiga abad. Dermaga yang memberi nama pada laga ini sebagian besar sudah hilang, jarak kedua klub semakin berjauhan, dan pertemuan kompetitif di antara mereka kian jarang terjadi.
Namun kompetisi soal apa yang diwakili masing-masing klub—dan kebutuhan untuk membedakan satu kubu dari kubu lain—ternyata tetap bertahan. Itulah warisan yang tersisa dari derby Dockers: bukan sekadar soal hasil 2-2 di The Den, melainkan soal identitas yang terus diperebutkan.
