Tottenham kalahkan Crystal Palace lewat gol Archie Gray dan Jan Paul van Hecke dalam pertandingan yang berubah drastis sejak menit ke-13, ketika Jean-Philippe Mateta diganjar kartu merah. Tambahan tiga poin itu membuat Spurs mencatat kemenangan beruntun ketiga, capaian yang terakhir mereka rasakan 616 hari lalu, sekaligus mengangkat mereka ke paruh atas klasemen.
Namun di balik cerita kebangkitan tuan rumah, ada pihak yang justru semakin tertekan. Kekalahan ini adalah yang ketiga berturut-turut bagi Crystal Palace di liga dan membuat mereka terpuruk di tiga terbawah, sementara masa depan manajer Pierre Sage kini bergantung pada keputusan chairman Steve Parish. Sebelum jeda internasional, Palace masih harus menjamu Liverpool di kandang, dan nama Sean Dyche serta Thomas Frank disebut-sebut sudah menunggu di belakang layar.
Kartu Merah Mateta di Menit ke-13 Jadi Titik Balik
Insiden bermula ketika Micky van de Ven menyodorkan bola ke belakang menuju Antonin Kinsky. Mateta sebenarnya tak punya peluang mengejar bola lebih dulu, tetapi ia tetap melesat dan stud sepatunya mengenai bagian belakang tumit bek Tottenham tersebut. Wasit Michael Oliver awalnya hanya mengeluarkan kartu kuning, namun keputusan itu berubah setelah VAR mengarahkannya meninjau ulang lewat monitor.
Sebagian pendukung tuan rumah sampai terkesiap saat melihat tayangan ulang lambat di layar raksasa stadion, meski rekaman itu memang membuat pelanggaran terlihat jauh lebih buruk dari aslinya. Apa pun reaksinya, hasil akhirnya sudah tak bisa dihindari: Palace harus bermain dengan sepuluh pemain untuk sisa pertandingan yang masih sangat panjang. Sage hanya bisa menggelengkan kepala saat Mateta berjalan lunglai menuju terowongan.
Ini bukan pertama kalinya Palace harus kehilangan pemain di musim ini. Bulan lalu mereka juga harus bertahan dengan sepuluh orang setelah Axel Disasi mendapat kartu merah ketika menghadapi Ipswich, dan pola yang sama kembali terulang di momen yang paling tidak mereka butuhkan.
Gol Gray dan Penyelesaian Cerdik Van Hecke
Palace sempat menahan gempuran Tottenham untuk sementara waktu, tetapi kembali terlibat dalam kejatuhan mereka sendiri. Tidak ada pemain yang mengawal Gray di tiang jauh saat menerima umpan silang dalam Mohammed Kudus, dan sundulan pemain muda itu masuk tanpa perlawanan berarti. Kamera televisi langsung menyorot Parish di tribun, yang tampak jauh dari kata puas.
Pada jeda, De Zerbi menarik keluar Gray yang sudah mengantongi kartu kuning dan memasukkan Pedro Porro. Palace makin mundur ke belakang, dan Van Hecke seharusnya bisa menambah keunggulan dari jarak dekat lewat sepak pojok berikutnya, tetapi bola justru melambung jauh ke arah penonton. Sage lalu mencoba meredakan tekanan dengan memasukkan Eddie Nketiah, mantan penyerang Arsenal, walau langkah itu disambut cemoohan pendukung Spurs. Dwight McNeil sempat mendapat peluang langka yang berhasil diblok, dan Palace nyaris dihukum lewat serangan balik cepat ke arah sebaliknya.
Harapan Palace untuk mencuri sesuatu dari laga ini benar-benar habis pada 17 menit sebelum bubaran. Fernandes mengirim bola kepada Van Hecke, dan bek asal Belanda itu dengan cerdik menyundul bola melewati garis gawang dari posisi terjatuh setelah tembakan kepalanya sebelumnya ditepis Henderson dan membentur mistar. Andai Kudus berhasil mencetak gol setelah diarahkan oleh pemain 18 tahun Luca Williams-Barnett, sore itu akan menjadi penutup yang benar-benar sempurna bagi De Zerbi.
Tottenham Kalahkan Crystal Palace dan Temukan Momentum
Kemenangan ini terasa istimewa karena Tottenham sebelumnya hanya meraih dua kemenangan kandang di liga sepanjang tahun. Dua kemenangan beruntun atas Coventry dan Chelsea sudah memberi alasan bagi pendukung untuk berharap, dan hasil atas Palace mempertegas bahwa tren positif itu bukan kebetulan. Dalam catatan program pertandingan, De Zerbi memang mengingatkan para pemainnya agar tidak cepat puas, tetapi tanda-tanda momentum kini sulit dibantah.
Manajer asal Italia itu secara khusus memuji penampilan rekan senegaranya, Sandro Tonali, yang didatangkan pada musim panas dengan harga 100 juta poundsterling, di lini tengah. Pujian tersebut menunjukkan bahwa ia mulai menemukan keseimbangan skuadnya setelah masa transisi yang tidak mulus.
De Zerbi sendiri tidak ingin kemenangan ini dibaca berlebihan. Ia menegaskan bahwa timnya perlu mengingat di mana posisi mereka sebelum jeda internasional, tetapi ia juga senang karena sekarang Tottenham tampil sebagai sebuah kesatuan. Sejak 616 hari lalu, Spurs sudah berganti tiga manajer tetap, sehingga euforia di akhir pertandingan bisa dimaklumi.
Posisi Pierre Sage di Ujung Tanduk
Berbeda dengan De Zerbi, Sage menghadapi kenyataan yang jauh lebih pahit. Sebelum laga ini pun sudah beredar ekspektasi bahwa ia bisa dipecat bila Palace kembali kalah, dan hasil di London utara membuat situasi itu semakin nyata. Meski kartu merah Mateta jelas tidak menguntungkan, tetap saja Palace belum mampu memanfaatkan peluang apa pun untuk menyelamatkan diri.
Sage menegaskan bahwa ia tidak akan menyerah dan tetap bertanggung jawab atas kondisi tim. Ia mengaku sudah menyampaikan kepada para pemain bahwa ia ingin menjadi orang pertama yang menginjak lapangan pada Senin nanti dan akan menjalani sesi latihan sebaik mungkin. Menurutnya, ia kini justru punya energi lebih untuk berlatih karena pertandingan yang ia saksikan tidak sejalan dengan keyakinannya.
Ia juga menegaskan bahwa keputusan soal masa depannya bukan berada di tangannya. Jika hanya diberi waktu satu jam, ia akan memberikan yang terbaik dalam satu jam itu, dan bila diberi sepuluh tahun, ia akan melakukan hal yang sama. Yang terpenting, ia mengakui bahwa dirinyalah yang bertanggung jawab atas situasi ini dan dirinyalah yang harus menemukan solusinya.
Konteks Lebih Luas: Sepak Bola Berubah dalam Hitungan Menit
Duel ini memperlihatkan betapa tipis garis pemisah antara krisis dan kebangkitan di sepak bola. Tottenham datang dengan modal dua kemenangan, lalu mendapat bantuan besar berupa keunggulan jumlah pemain sejak menit ke-13. Di sisi lain, Palace datang dengan tekanan besar, lalu kehilangan pemain kuncinya di periode yang sama, dan sejak itu harus bertahan sepanjang sisa pertandingan.
Bagi Palace, persoalan kartu merah kini menjadi pola yang mengganggu. Dua laga berbeda dalam sebulan terakhir berakhir dengan mereka bermain sepuluh orang, dan pada kedua kesempatan itu lawan akhirnya memanfaatkan keunggulan jumlah pemain. Menghadapi Liverpool di kandang berikutnya, disiplin akan sama pentingnya dengan strategi, karena satu kesalahan kecil bisa kembali mempercepat tekanan terhadap kursi manajer.
Sementara itu, Tottenham berada di jalur yang berlawanan. Kemenangan ini menempatkan mereka di paruh atas klasemen dan memberi bukti bahwa De Zerbi mulai menemukan formula, terutama dengan kontribusi Tonali di lini tengah dan peran pemain muda seperti Gray. Pertanyaannya kini bukan lagi soal apakah Spurs bisa menang, tetapi apakah mereka bisa menjaga ritme itu setelah jeda internasional.
Penutup
Singkatnya, Tottenham kalahkan Crystal Palace lewat dua gol dari bola mati dan sebuah keunggulan jumlah pemain yang berlangsung hampir sepanjang laga. Gray dan Van Hecke menjadi penentu, De Zerbi mendapat kemenangan beruntun ketiga pertamanya setelah 616 hari, dan Spurs naik ke paruh atas klasemen. Bagi Palace, kekalahan ini memperpanjang tren buruk dan menempatkan mereka di tiga terbawah menjelang laga berat kontra Liverpool.
Yang tersisa sekarang adalah keputusan Steve Parish, satu-satunya orang yang berwenang menentukan nasib Sage. Di sepak bola, sebagaimana ditunjukkan pertandingan ini, posisi seorang manajer bisa berubah hanya dalam 13 menit pertama sebuah pertandingan.
