Pelatih timnas Czechia, Santi Denia, melontarkan pujian yang cukup mengejutkan terhadap winger Inggris, Anthony Gordon. Menurutnya, Gordon berada di level yang sama dengan bintang muda Spanyol, Lamine Yamal. Pernyataan itu keluar di sela rentetan pertemuan Denia dengan Inggris dalam waktu yang sangat singkat, mulai dari kekalahan 0-2 di Praha hingga persiapan menghadapi ulangan di Wembley.
Pujian tersebut bukan sekadar basa-basi dari seorang pelatih tamu. Denia menghabiskan 15 tahun di federasi Spanyol dan ikut membesarkan banyak pemain yang kini menjadi tulang punggung juara dunia, termasuk Rodri dan Lamine Yamal sendiri. Karena itu, komentarnya tentang Gordon sekaligus menjadi cermin bagaimana ia memandang kualitas pembinaan usia muda di Inggris, negara yang ia sebut hanya berjarak sangat tipis dari final Piala Dunia.
Menghadapi Inggris Dua Kali dalam Sepekan
Selepas kekalahan 0-2 dari Inggris di Praha, Denia berjalan menyusuri garis lapangan, menjabat tangan Thomas Tuchel, lalu mengucapkan sesuatu yang menurutnya belum pernah ia lontarkan di akhir pertandingan: “See you soon.” Tuchel membalas dengan kalimat yang sama. Tujuh hari kemudian, kedua tim memang bertemu lagi, kali ini di Wembley.
Perjalanan menuju laga kedua itu tidak mulus. Czechia lebih dulu melakoni pertandingan di Oviedo — menghadapi Spanyol, negara yang Denia kenal betul — sebelum melakoni laga lain di Rijeka. Denia mengeluhkan padatnya jadwal Nations League: empat pertandingan dalam 11 hari, tanpa waktu untuk berlatih apa pun. “Saya belum pernah mendengar satu pun pelatih nasional mengatakan mereka menyukai format baru ini,” ujarnya, meski ia tetap tersenyum lebar saat membicarakannya.
Menariknya, Denia menilai undian kali ini justru berada di dua kutub ekstrem sekaligus. Di Oviedo, ia berhadapan dengan negaranya sendiri dan pemain-pemain yang pernah ia tangani. Di London, untuk kedua kalinya dalam sepekan, ia menghadapi negara yang paling ia kenal, dengan begitu banyak pesepakbola yang ia saksikan tumbuh dari kecil.
15 Tahun Membesarkan Generasi Emas Spanyol
Denia bukan sosok asing bagi sepak bola Spanyol. Selama 15 tahun ia bekerja di federasi, menangani kelompok umur 15, 17, 19, 21, dan 23 tahun, serta terlibat di seluruh struktur akademi. Dari 26 pemain Spanyol yang menjadi juara dunia di New Jersey, 23 di antaranya pernah dilatihnya. Mereka adalah anak-anak asuhnya yang mengangkat trofi, dengan segudang cerita tentang Rodri yang masih kecil dan Lamine Yamal yang lebih kecil lagi.
Tentang Rodri, Denia menyimpan kenangan yang sangat spesifik. Ia pertama kali melihatnya di Atlético bersama José María Amorrortu, saat itu kepala akademi, ketika mengamati sesi kelompok infantil (U-14) dari balkon di atas lapangan. Ada seorang anak kecil yang luar biasa, dan Amorrortu langsung menyebut namanya. “Dia satu langkah lebih cepat dari semua orang, tapi tubuhnya mungil,” kata Denia, seraya mengingat bahwa orang tua Rodri yang berdiri di tribun bertubuh sangat tinggi sehingga mereka memutuskan menunggu pertumbuhannya.
Saat debut Rodri di tim U-17 di Swedia, Denia memberi nasihat yang ia ingat betul: jangan ikut berperang karena lawan akan menang, jadilah anak pintar yang berpikir lebih cepat. Lonjakan tinggi badan Rodri baru datang kemudian, saat ia di Villarreal. Menurut Denia, berbicara dengan Rodri kini seperti berbicara dengan seorang pelatih sekaligus kakek yang siap memberi nasihat.
Kisah serupa terjadi pada Lamine Yamal dan Pau Cubarsí, yang ia lihat pertama kali di turnamen U-15 di Swedia ketika José Lana masih menjadi pelatih. “Saya bertanya: dari mana kamu dapat pemain-pemain ini?” kenang Denia. Ia kemudian menaikkan Lamine ke tim U-19 saat usianya baru 14 tahun, sebuah rekor. Ia juga menyebut Isco, Thiago Alcântara, dan Sergio Canales sebagai pemain luar biasa yang pernah ia tangani. Melihat Ferran Torres mencetak gol kemenangan di final Piala Dunia memberinya sensasi déjà vu, sebab Ferran juga pernah mencetak gol di final Euro U-19 dan menjuarai Euro U-17 bersama tim asuhannya.
Pujian untuk Anthony Gordon dan Perbandingan dengan Lamine Yamal
Ketika ditanya soal komentar Anthony Gordon yang menilai Inggris tidak perlu meniru Spanyol, reaksi Denia spontan. “Gordon? Pemain yang luar biasa!” katanya. “Sungguh pesepakbola hebat. Dia berada di level yang sama dengan… entahlah, tadi saya hampir bilang Lamine. Muda, berani, kuat dalam duel satu lawan satu, dan cepat.” Ia menambahkan bahwa sepak bola Inggris telah melakukan pekerjaan besar dalam melahirkan pemain-pemain seperti Gordon.
Meski mengagumi Spanyol, Denia menegaskan setiap negara memiliki esensi yang harus dihormati dan dipeluk, bukan ditinggalkan. Perubahan tidak bisa terjadi dalam semalam dan kesuksesan tidak datang instan, melainkan lewat proses panjang yang pasti mengandung kesalahan. “Lihat apa yang dilakukan federasi lain. Itu bukan menyalin, itu belajar,” ujarnya.
Denia secara terbuka membela FA dan generasi pemain Inggris saat ini. Ia menyebut Inggris sangat dekat dengan final Piala Dunia, sambil menunjukkan celah terkecil antara ibu jari dan telunjuk untuk menggambarkan betapa tipisnya jarak itu. Menurutnya, Inggris selalu berada di antara dua atau tiga tim terbaik dunia, dan FA sudah tepat berinvestasi pada pemain muda, St George’s Park, serta pembinaan pelatih. Ia mengingatkan bahwa pada 2006, jumlah trofi Spanyol setara dengan Czechia sebelum akhirnya menjadi juara dunia dua kali.
Filosofi: Pelatih adalah Seorang Guru
Bagi Denia, ada sesuatu yang melampaui urusan taktik dan hasil pertandingan. Seorang pemain pernah mengatakan kepadanya bahwa ia bukan sekadar pelatih, melainkan seorang guru — terutama ketika menangani kelompok umur. Ia ingin menang, tentu saja, tetapi ada kewajiban untuk mengajar di dalamnya. Ada pula unsur psikologis dan kebapaan, karena setiap anak memiliki perkembangan emosional yang perlu diperhatikan, mulai dari masalah pribadi hingga proses pendewasaan mereka.
Ada kalanya Denia dan Luis de la Fuente harus mengorbankan pemain demi kebaikan kelompok. “Dia pemain bagus, tapi dia akan menciptakan masalah,” ujarnya menggambarkan situasi semacam itu. Prinsipnya jelas: tidak ada pemain yang menang sendirian. “Satu orang: Messi. Selain dia, tidak ada,” tegasnya.
Saat Spanyol menjuarai Piala Dunia, Denia duduk bersama David Gordo, pelatih tim U-21 Spanyol. Keduanya berpelukan tanpa bicara, hanya bertukar pandangan yang seolah berkata, “Kita sudah menjalankan bagian kita.” Ia mengaku tidak merasa bertanggung jawab penuh, tetapi merasa ikut menyumbang sebutir pasir dalam kesuksesan itu. Dalam 15 tahun kariernya, hampir semua pemain Spanyol pernah melewati tangannya, kecuali David Raya, Víctor Muñoz, dan Aymeric Laporte — dan Laporte dulu adalah lawannya.
Kini ia bersaing melawan mereka. “Dan saya ingin mengalahkan mereka,” katanya sambil tertawa. Ia menyebut akan menelepon Luis dan berkata bahwa sudah cukup. Menurutnya, Luis de la Fuente punya pemain terbaik di dunia, tetapi mengelola mereka adalah hal lain, dan Luis adalah maestronya — yang terbaik di dunia tanpa keraguan. Kenyataannya memang tak cukup: pada Sabtu di Oviedo, Czechia menjadi korban terbaru dengan kekalahan 3-1 dari Spanyol.
Dari New Jersey ke Praha: Bagaimana Denia Tiba di Czechia
Peluang menjadi pelatih Czechia datang dari sebuah percakapan dengan teman lama. Saat itu Denia berada di Piala Dunia dan menonton Spanyol mengalahkan Argentina, puncak dari perjalanan panjang yang ia jalani bersama para pemainnya. Pelatih Czechia sebelumnya, Miroslav Koubek, mengundurkan diri, dan Denia sedang menonton pertandingan bersama Radek Bejbl, mantan pemain internasional Ceko yang pernah menjadi rekan setimnya di Atlético. Bejbl menyarankan ia mengirimkan résumé dan memaparkan apa yang ia kerjakan di Spanyol.
Presiden federasi Czechia, David Trunda, juga berada di New York saat itu. Mereka bertemu di sana dan kembali bertemu di Praha bersama Pavel Nedved, general manager Czechia, untuk membicarakan bagaimana tim akan dibangun. Denia mengaku sangat senang dengan kesepakatan itu, dan Bejbl kini menjadi bagian dari stafnya.
Denia memuji Czechia dan Praha dengan antusias. Sepanjang wawancara, ia sesekali menyelipkan kata atau istilah bahasa Inggris, dan itu ada alasannya: ia dan tim berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Pablo Amo, asistennya, fasih berbahasa Inggris, sementara Bejbl menerjemahkan sebagian hal. Bila ada tiga atau empat kata kunci dalam bahasa Ceko dan sisanya bahasa Inggris, semuanya berjalan lancar. “Sepak bola adalah bahasa universal,” katanya.
Lolos ke Piala Dunia ia sebut sebagai sebuah pencapaian, tetapi target berikutnya adalah berkembang, tumbuh, dan membuka jalur bagi pemain muda. Ia ingin membangun struktur dengan departemen yang saling bekerja sama dan peran yang jelas, mulai dari medis, media, pemasaran, hingga perjalanan. Jika federasi menghendaki, ia siap memberi masukan untuk pembinaan kelompok umur dengan membawa ide-ide dari Spanyol. Namun ia mengakui timnya baru saja tiba dan belum punya waktu untuk itu.
Memilih Pemain, Kualifikasi Euro, dan Mimpi di Inggris
Hal pertama yang harus dilakukan dengan sebaik mungkin, menurut Denia, adalah memilih pemain yang tepat. Itu berarti memantau pertandingan, menentukan profil yang diinginkan, lalu memilih pemain yang paling cocok dengan gaya tersebut. Setelah itu, waktu yang tersedia hanya beberapa hari untuk membentuk tim. Waktu selalu terbatas, dan dengan format kompetisi seperti sekarang, tantangannya bahkan lebih berat.
Czechia kalah dari Kroasia, tetapi mampu bersaing, begitu pula ketika menghadapi Inggris. Denia menegaskan dirinya dan federasi tidak memiliki keraguan soal jalur yang ditempuh, dan ia menyebut Trunda serta Nedved memberi kepercayaan penuh kepada timnya. Mereka harus setia pada esensi sepak bola Czechia sekaligus meninggalkan jejak sendiri. Target langsung yang dibebankan kepadanya adalah lolos ke putaran final Euro.
Jika Euro digelar di Inggris, Denia tak perlu berpikir dua kali. “Daftarkan saya!” katanya sambil melirik ponsel yang bergetar, tanda waktunya berdiskusi sudah habis. Ia mengaku mengenal stadion dan pusat latihan di sana, dan masih ingat saat mengunjungi Aitor Karanka di Middlesbrough. Bagian tersulit baginya saat berada di Inggris adalah mengemudi, sedangkan soal sepak bola, ia menyukainya. Ia bahkan bermimpi kembali melakoni final melawan Inggris — sebuah ambisi tinggi yang menurutnya tidak ada salahnya dipertahankan.
Perjalanan Santi Denia bersama timnas Czechia baru memasuki babak awal, tetapi jejak gagasan yang ia bawa sudah terlihat jelas: pembinaan pemain muda sebagai fondasi, kesetiaan pada identitas sebuah negara, dan keberanian mengambil pemain muda selama mereka siap. Pujiannya terhadap Anthony Gordon, yang ia setarakan dengan Lamine Yamal, menunjukkan bahwa ia menilai Inggris sebagai kekuatan yang berada di jalur benar. Sementara itu, target yang lebih mendesak sudah menanti: membawa Czechia kembali ke putaran final Euro.
Dengan jadwal padat, waktu latihan yang minim, dan lawan-lawan kelas atas, hasil di lapangan memang belum berpihak kepadanya. Namun bagi Denia, membangun sebuah tim jelas bukan pekerjaan satu atau dua pertandingan. Ia sudah pernah menjalaninya selama 15 tahun, dan kali ini ia melakukannya bukan untuk Spanyol, melainkan untuk Czechia.
