Duel Arteta lawan Liverpool di Anfield akhir pekan ini membawa beban sejarah yang tidak ringan bagi pelatih Arsenal tersebut. Ia punya catatan buruk di stadion itu, baik semasa masih aktif sebagai pemain maupun setelah duduk di bangku cadangan, dan laga nanti digelar hanya lima hari setelah Arsenal tersingkir dari Piala Carabao lewat adu penalti melawan Fleetwood. Hasil itu jelas menambah tekanan sebelum timnya bertandang ke markas lawan yang selama bertahun-tahun menjadi momok.
Yang menarik, Liverpool saat ini ditangani Andoni Iraola, sahabat masa kecil Arteta. Bagi pelatih berusia 44 tahun itu, pertemuan ini bukan hanya soal taktik dan tiga poin, tetapi juga soal membuktikan bahwa dirinya mampu mematahkan kutukan Anfield sekaligus menjawab keraguan soal mentalitas timnya di laga besar. Sejarah menyediakan satu contoh yang bisa ia tiru, dan contoh itu datang dari era George Graham.
Kenangan “Bajar” dan Rekor 13 Laga Tanpa Kemenangan di Anfield
Arteta pernah memakai satu kata dalam bahasa Spanyol untuk menggambarkan rasa tidak berdaya saat membela Everton di Anfield pada 2011, yakni bajar. Ia menganalogikannya dengan pesepeda yang tengah mendaki dan tampak perkasa, lalu tiba-tiba kehabisan tenaga hanya dalam satu kilometer berikutnya. Dalam dokumenter All or Nothing, ia mengenang bagaimana pertandingan awalnya berjalan normal, sebelum tiba-tiba yang terlihat hanya seragam merah berlarian di sekitarnya dan ia sama sekali tidak bisa bereaksi. Pengalaman itu ia sebut sebagai satu-satunya momen sepanjang kariernya ketika merasa benar-benar hancur di lapangan.
Rasa getir di Anfield tidak berhenti saat ia pindah ke Arsenal. Pada September 2012 ia akhirnya merasakan kemenangan di sana setelah lima kali gagal di derby Merseyside, tetapi malam itu justru berakhir di rumah sakit karena gegar otak usai bertabrakan dengan Jordan Henderson. Insiden tersebut ia gambarkan sebagai ketakutan terbesar dalam hidupnya. Enam bulan kemudian Arsenal menang lagi di Anfield lewat gol dua rekrutan baru, Lukas Podolski dan Santi Cazorla, dan itulah kemenangan terakhir mereka di liga di stadion tersebut.
Sejak itu Arsenal tidak pernah lagi menang di Anfield dalam 13 pertandingan Premier League, menyamai rekor terburuk klub saat bertamu ke Liverpool. Satu-satunya kesuksesan di periode tersebut datang di ajang Piala Liga pada 2020 melalui adu penalti, pada kunjungan kedua Arteta sebagai manajer. Upaya pendekatannya pun pernah terasa sia-sia ketika pada November 2021 ia memutar lagu You’ll Never Walk Alone lewat pengeras suara di pusat latihan, dan hasilnya justru kekalahan 4-0.
Tekanan Setelah Tersingkir dan Kritik Soal Mentalitas
Musim lalu Arteta kembali mendapat sorotan tajam setelah Arsenal kalah di Anfield pada akhir Agustus. Gol tendangan bebas Dominik Szoboszlai di menit-menit akhir memutus rangkaian tiga hasil imbang Arsenal di kandang Liverpool, dan banyak pihak menilai Arteta gagal melepas “rem tangan” timnya, terutama karena ia memainkan Mikel Merino sebagai gelandang nomor 10. Kritik itu bukan sekadar soal susunan pemain, melainkan soal keberanian mengambil risiko di laga besar. Gary Neville bahkan menegaskan bahwa Arsenal kurang memiliki mentalitas untuk menang di markas lawan-lawan besar.
Penilaian tersebut tentu menyakitkan bagi Arteta, meski ada dasar faktualnya. Arsenal belum lagi mengalahkan Manchester City di Premier League di Etihad sejak 2015, ketika tim masih dilatih Arsène Wenger. Artinya, pertanyaan tentang kemampuan menaklukkan tim papan atas di kandangnya sendiri memang belum terjawab tuntas hingga kini. Pertandingan melawan Liverpool menjadi salah satu panggung paling tepat untuk membantah anggapan itu.
Kondisi skuad pun tidak sepenuhnya ideal menjelang laga ini. Arsenal tampil amat kesulitan menghadapi tim yang berada 84 peringkat di bawah mereka di piramida sepak bola Inggris, di stadion yang kapasitasnya kurang dari 6.000 penonton. Kai Havertz dan Viktor Gyökeres secara mengejutkan dimainkan berdua sejak awal di Fleetwood, kemungkinan untuk mengurangi beban Martin Ødegaard, meski keduanya sedang jauh dari performa terbaik. Bukayo Saka absen karena cedera paha, ada kekhawatiran soal pergelangan kaki Noni Madueke, dan banding Arsenal atas kartu merah Max Dowman ditolak sehingga remaja itu harus absen tiga pertandingan.
Inspirasi dari George Graham dan Malam Legendaris 1989
Dalam situasi seperti itu, peluang terbaik Arteta untuk mengalahkan Liverpool justru datang dari pendekatan hati-hati yang selama ini terbukti berhasil baginya. Ia bisa menengok salah satu malam paling bersejarah dalam perjalanan Arsenal, 37 tahun silam, ketika tim asuhan George Graham datang ke Anfield dengan kebutuhan menang 2-0 untuk menjadi juara. Michael Thomas mencetak gol di masa tambahan waktu dan mengakhiri penantian gelar liga selama 18 tahun bagi klub asal London Utara itu.
Graham sendiri mengungkapkan bahwa kunci keberhasilan malam itu adalah menahan diri di babak pertama. Ia menegaskan kepada para pemainnya bahwa hal terpenting adalah tidak kebobolan lebih dulu, karena jika Liverpool mencetak gol cepat, pertandingan akan langsung selesai. Media saat itu ramai menyarankan Arsenal menyerang sejak menit awal, tetapi ia bersikeras pendapat itu keliru. Menurutnya, Liverpool justru kurang agresif menyerang dan tanpa sadar memainkan permainan yang menguntungkan Arsenal.
Malam itu juga dikenang karena gestur empati sebelum bola digulirkan. Para pemain Arsenal berlari ke keempat sudut stadion untuk menyerahkan bunga kepada pendukung Liverpool sebagai bentuk simpati atas tragedi Hillsborough sebulan sebelumnya, sebuah gagasan yang datang dari direktur klub yang sudah lama mengabdi, Ken Friar, yang meninggal bulan ini. Detail ini menunjukkan bahwa pertandingan besar tidak hanya soal hasil, tetapi juga soal cara tim membawa diri.
Kebetulan lain yang membuat perbandingan ini terasa relevan: Graham dan Arteta sama-sama berusia 44 tahun ketika meraih gelar liga pertama mereka sebagai manajer. Graham, mantan gelandang timnas Skotlandia yang mencetak hampir 80 gol untuk Arsenal dan ikut meraih Double pada 1971, dikenal sangat menekankan pertahanan. Slogan “1-0 to the Arsenal” pun identik dengannya, terutama di penghujung masa kepelatihannya.
Pendekatan Hati-hati, Set-piece, dan Tradisi Kemenangan 1-0
Arteta menghidupkan kembali tradisi itu sejak mengambil alih pada Desember 2019. Arsenal tercatat 32 kali menang dengan skor 1-0 di Premier League di bawah asuhannya, jumlah yang hanya kalah dari Everton di antara seluruh klub peserta. Angka itu menunjukkan bahwa pendekatan konservatif bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari identitas tim yang terbukti mendatangkan hasil, termasuk menjadi fondasi keberhasilan meraih gelar liga musim lalu.
Senjata lain yang bisa dimaksimalkan adalah bola mati. Arsenal mencetak gol set-piece pertama mereka musim ini saat menang 2-0 atas Everton di kandang pada Sabtu lalu, dan memanfaatkan kelemahan Liverpool dalam menghadapi situasi bola mati sambil tetap rapat di lini belakang bisa menjadi taktik paling efektif. Liverpool sendiri belakangan masih dalam proses mencari bentuk terbaik di bawah asuhan Iraola, sehingga laga ini menjadi kesempatan untuk mengeksploitasi ketidaksolidan mereka.
Arteta sendiri tidak pernah menyembunyikan betapa ia menghargai seni bertahan. Ketika diminta menanggapi perbandingan timnya dengan tim Graham, ia menegaskan bahwa seluruh pemain menyadari pentingnya fase bertahan. Logikanya sederhana: jika sebuah tim unggul di bagian permainan itu, peluang dan probabilitas untuk memenangkan lebih banyak pertandingan akan sangat tinggi. Pernyataan itu menjelaskan mengapa ia kerap memilih meredam lawan lebih dulu sebelum mencari celah.
Apa Artinya bagi Arteta dan Liverpool
Bagi Arteta, pertandingan ini adalah ujian tentang apakah prinsip yang ia yakini masih mampu menjawab keraguan publik. Kekalahan dari Fleetwood, tim yang berada jauh di bawah Arsenal secara level dan bermain di stadion kecil, disebut sebagai malam paling memalukan dalam karier kepelatihannya. Cara satu-satunya untuk merespons adalah dengan mengikuti jejak langkah Graham pada Minggu nanti, bukan dengan mengubah pendekatan secara drastis demi terlihat menyerang.
Di sisi lain, ada sisi positif yang bisa dipetik dari tersingkirnya Arsenal di Piala Carabao. Dalam dua musim terakhir, kompetisi itu memang memperlebar beban skuad karena mereka melaju hingga semifinal lalu final, sehingga eliminasi kali ini memberi ruang napas bagi para pemain. Namun, mengingat sifat Arteta yang sangat kompetitif, hampir mustahil ia melihatnya sebagai keuntungan. Kekalahan lewat adu penalti itu juga membangkitkan ingatan buruk tentang kegagalan di final Liga Champions melawan Paris Saint-Germain pada Mei lalu.
Sementara itu, Liverpool di bawah Iraola sedang berusaha menemukan jati dirinya, dan laga melawan Arsenal akan menjadi tolok ukur seberapa jauh proses itu berjalan. Bagi Arteta, ini juga soal reputasi personal: mematahkan rekor buruk di Anfield sekaligus membungkam narasi bahwa timnya tidak punya keberanian di laga besar. Sejarah sudah menunjukkan bahwa kunci di Anfield bukan selalu menyerang habis-habisan, melainkan sabar, disiplin, dan memanfaatkan momen yang tepat.
Pada akhirnya, Arteta lawan Liverpool kali ini bukan hanya soal tiga poin. Ini tentang seorang pelatih yang pernah merasa lumpuh di Anfield dan kini dituntut membuktikan bahwa ia sudah menemukan cara untuk tidak mengulanginya. Jika ia mampu menahan tekanan di babak pertama, rapat di lini belakang, dan memaksimalkan bola mati seperti yang dilakukan Graham puluhan tahun silam, Arsenal punya peluang nyata untuk mengakhiri penantian panjang itu.
Yang dibutuhkan bukan revolusi taktik, melainkan keberanian untuk tetap setia pada pendekatan yang sudah terbukti. Itulah pelajaran paling berharga dari malam legendaris 1989, dan mungkin juga jawaban atas segala kenangan pahit yang selama ini membayangi Arsenal di Anfield.
