Pergeseran Taktik Messi yang Membuat Inggris Takluk di Piala Dunia

Messi Diredam Inggris di Babak Pertama, Tapi Hanya Sementara

Thomas Tuchel tentu sudah menyiapkan segalanya jelang laga Inggris melawan Argentina di Piala Dunia. Pelatih asal Jerman itu memikirkan bagaimana timnya bisa menyerang efektif sambil tetap solid di lini belakang. Ia juga menyusun rencana untuk mengantisipasi berbagai skenario, termasuk bagaimana cara terbaik menghadapi Lionel Messi — pemain yang selalu menjadi ancaman utama lawan.

Selama satu jam pertama, strategi Inggris berjalan cukup baik. Data menunjukkan bahwa Messi dibuat nyaris tidak berbahaya di area kritis. Satu-satunya penguasaan bola Messi di tengah kotak penalti langsung digagalkan oleh tekel Elliot Anderson tak lama setelah Anthony Gordon membawa Inggris unggul. Persentase jarak tempuh Messi yang dikategorikan FIFA sebagai kecepatan sprint (minimal 20 km/jam) hanya 4,3% — lebih rendah dibandingkan saat melawan Swiss (4,6%) atau Mesir (5,4%) di dua babak sebelumnya.

Penampilan Messi yang relatif minim tembakan juga patut diapresiasi. Satu-satunya percobaan tendangan pemain berusia 39 tahun itu berasal dari jarak jauh dan berhasil diblok sebelum mencapai kotak penalti Inggris. Dalam 19 pertandingan Piala Dunia lainnya di mana ia bermain penuh 90 menit, hanya satu laga yang mencatatkan jumlah tembakan lebih sedikit di waktu normal. Ia juga pernah bermain 120 menit dengan satu tembakan (tepat sasaran) melawan Belanda di 2014, dan hanya satu tembakan jarak dekat saat melawan Kroasia empat tahun kemudian. Bisa dibilang, ini adalah performa paling tumpul Messi sepanjang Piala Dunia — setidaknya dari segi percobaan gol. Semua tampak berjalan sesuai rencana Inggris.

Soccer Football – FIFA World Cup 2026 – Semi Final – England v Argentina – Atlanta Stadium, Atlanta, Georgia, U.S. – July 15, 2026 Argentina’s Lionel Messi celebrates after the match IMAGN IMAGES via Reuters/Brett Davis

Pergeseran Taktik Messi yang Tak Terbaca Inggris

Peta panas (heat map) Messi menunjukkan titik paling terang di area yang biasa ia tempati: setengah ruang kanan di depan kotak penalti lawan. Ini bukan kejutan bagi Inggris. Namun, peta panas pertandingan secara keseluruhan kerap menyembunyikan pergeseran halus yang terjadi selama laga. Pergeseran taktik Messi justru menjadi kunci pembeda antara babak pertama dan kedua.

Coba bayangkan sisi lapangan antara tepi kotak penalti dan garis pinggir, memanjang hingga garis tengah. Dalam 45 menit pertama, satu-satunya sentuhan Messi di zona itu terjadi di dekat lingkaran tengah, saat ia mengoper ke depan untuk Giuliano Simeone yang ternyata offside. Namun, justru dari sisi inilah sang kapten Argentina mulai mengambil alih pertandingan di babak kedua.

Messi melepaskan enam umpan silang dari area ini di babak kedua — angka yang sangat tinggi untuk pemain yang sejak 2015 rata-rata hanya melepaskan 2,3 umpan silang (termasuk bola mati) per 90 menit di pertandingan liga. Dalam catatan Piala Dunia, hanya dua laga di mana ia melepas lebih banyak umpan silang, dan menariknya keduanya terjadi di dua babak sebelumnya.

Umpan Silang Messi Berubah Menjadi Ancaman Mematikan

Salah satu umpan silang Messi dari sisi kanan menghasilkan sundulan Nico González yang nyaris membobol gawang Jordan Pickford, tepat sebelum jeda hidrasi kedua. Momen inilah yang mungkin membuat Tuchel memutuskan untuk segera memasukkan Ezri Konsa, kemudian disusul Dan Burn setelah beralih ke formasi lima bek. Strategi serupa sempat berhasil saat melawan Meksiko, tapi kali ini situasinya berbeda.

Messi bukanlah Roberto Alvarado atau Jesús Gallardo. Kedua pemain Meksiko itu total melepaskan 25 umpan silang dalam pertandingan di Azteca, namun hanya menghasilkan satu peluang dengan nilai 0,05 expected goals (xG). Sedangkan Messi, dengan umpan silangnya untuk gol kemenangan Lautaro Martínez, menciptakan peluang senilai 0,53 xG — lebih besar dari total peluang yang diciptakan Inggris sepanjang malam. Ini baru merupakan assist kedua Messi di Piala Dunia yang menggunakan kaki kanan, dan jauh lebih sulit dibandingkan umpan pendek dari garis gawang yang ia berikan kepada Julián Álvarez di semi-final Qatar.

Statistik Aneh Penuh Keanehan, Tapi Messi Tetap Menentukan

Pertandingan melawan Inggris menjadi laga yang secara statistik tidak biasa bagi Messi. Banyak angka-angka menyimpang (outlier) yang tercatat. Namun, itu tidak berarti apa-apa. Pergeseran taktik Messi di babak kedua membuktikan bahwa di mana pun ruang kosong tersedia, pemain terhebat sepanjang masa akan selalu ada untuk menghancurkan rencana terbaik lawan.

Inggris sempat menguasai Messi selama 60 menit pertama. Mereka membatasi pergerakannya, menekan area berbahaya, dan membuatnya tidak nyaman. Tapi perubahan kecil — perpindahan posisi Messi ke sisi kanan luar kotak penalti — sudah cukup untuk mengubah segalanya. Pergeseran taktik Messi yang sederhana namun menentukan ini menjadi pelajaran berharga bagi tim mana pun yang ingin menghentikan legenda Argentina tersebut.

Kesimpulan: Pelajaran dari Kelihaian Messi

Laga antara Inggris dan Argentina di Piala Dunia kembali menunjukkan bahwa menghentikan Lionel Messi bukan sekadar soal statistik atau peta panas. Meski babak pertama berjalan sesuai rencana, pergeseran taktik Messi yang halus mampu mematahkan pertahanan Inggris hanya dalam hitungan menit. Tuchel sudah menyiapkan antisipasi, tapi kepiawaian Messi membaca ruang dan mengeksekusi umpan silang akurat membuat perbedaan. Bagi para pelatih, ini adalah pengingat bahwa rencana terbaik pun bisa runtuh oleh satu momen dari pemain jenius seperti Messi. Bagi penggemar sepak bola, ini adalah bukti lain bahwa kehebatan sejati selalu menemukan caranya sendiri untuk bersinar.