Pertandingan Semifinal Piala Dunia: Bukan Sekadar Laga Biasa
Setiap pertandingan di Piala Dunia memiliki bobot yang jauh lebih besar dibandingkan laga biasa. Sepanjang sejarah, tim nasional Inggris misalnya, hanya tampil dalam 80 pertandingan final Piala Dunia dalam 76 tahun sejak pertama kali berpartisipasi. Angka itu tidak lebih dari dua musim Premier League. Namun, setiap laga tersebut mampu menyedot perhatian masif: lebih dari 17 juta penonton di Inggris menyaksikan kemenangan atas Norwegia pada perempat final, meski pertandingan berakhir setelah tengah malam.
Di sebagian besar negara, pertandingan Piala Dunia menjadi bahan diskusi dan analisis yang lebih dalam dibandingkan olahraga lain, bahkan mungkin fenomena budaya mana pun. Momen langka ini mempertemukan banyak orang dalam satu harapan, kecemasan, selebrasi, dan duka bersama. Semua itu kemudian melekat dalam budaya populer.
Psikologi dan Hantu Semifinal Piala Dunia
Momen-momen dalam pertandingan menjadi batu uji. Referensi ke laga enam dekade lalu pun masih mudah dipahami. Namun, hal ini juga menimbulkan efek distorsi. Terlalu banyak makna yang ditarik dari satu pertandingan, sesuatu yang tidak akan terjadi pada laga liga biasa. Kesalahan Senne Lammens yang membuat Belgia tersingkir oleh Spanyol ditonton oleh lebih banyak orang daripada rata-rata penonton Manchester United. Tidak ada laga pengganti dalam tiga atau empat hari yang bisa membuat kesalahan itu cepat dilupakan. Kesalahan itu akan selalu menjadi bagian dari kisahnya, kecuali ia berhasil menebusnya dengan penampilan gemilang di Piala Dunia mendatang.
Kelangkaan pertandingan menjadi bagian dari cerita. Setiap laga berarti. Itulah mengapa usulan untuk menggelar Piala Dunia setiap dua tahun—yang kini sudah tidak lagi diperbincangkan—harus ditolak. Lebih sedikit justru lebih bermakna. Karena sejarah begitu akrab dan terus hadir, setiap negara sedikit banyak bermain melawan hantu masa lalunya sendiri. Psikologi memainkan peran yang jauh lebih besar di semifinal Piala Dunia dibandingkan format pertandingan lainnya.
Spanyol: Antara Dominasi Eropa dan Trauma Lawan Prancis
Spanyol hanya pernah sekali tampil di semifinal Piala Dunia sebelumnya, yaitu saat mengalahkan Jerman 1-0 pada 2010. Gol Carles Puyol di menit ke-73 menjadi simbol permainan kontrol yang khas. Namun, pencapaian itu justru menegaskan catatan panjang kegagalan mereka sebelum Euro 2008. Dari enam semifinal Euro, mereka memenangkan lima. Dari lima final besar, mereka menang empat kali. Namun, satu kekalahan final yang terjadi pada 1984 adalah melawan Prancis—lawan mereka di semifinal kali ini. Spanyol juga kalah dari Prancis di perempat final Euro 2000 yang tak terlupakan, ketika Raúl gagal mengeksekusi penalti di menit akhir.
Prancis: Luka Lama di Semifinal 1982
Prancis juga memiliki hantu semifinal Piala Dunia sendiri. Pertandingan 1982 di Seville mungkin menjadi malam paling traumatis dalam sejarah sepak bola Prancis. Saat kedudukan 1-1 dan pertandingan berjalan satu jam, pemain pengganti Patrick Battiston menjadi korban pelanggaran mengerikan kiper Jerman Barat, Toni Schumacher. Battiston pingsan, rahangnya patah, tiga tulang rusuk retak, dan kehilangan dua gigi. Prancis unggul 3-1 di perpanjangan waktu, tetapi karena efektif kehilangan satu pemain cadangan, Jerman Barat bangkit, menyamakan kedudukan, dan menang dalam adu penalti pertama dalam sejarah Piala Dunia. Empat tahun kemudian, Prancis kembali kalah dari Jerman Barat di semifinal. Tiga kemenangan beruntun di semifinal mungkin telah meredakan kecemasan, tetapi sifat hantu adalah muncul begitu saja tanpa diundang.
Inggris vs Argentina: Rivalitas Penuh Kenangan
Tentu, sejarah antara Prancis dan Spanyol tidak sebanding dengan rivalitas Inggris dan Argentina. Dari gol Bobby Charlton pada 1962, kartu merah Antonio Rattín pada 1966, “Tangan Tuhan” 1986, kartu merah David Beckham pada 1998, hingga robohnya Michael Owen di atas kaki Mauricio Pochettino pada 2002—semua adalah bagian dari sejarah panjang. Kedua tim terakhir bertemu di Jenewa pada 2005, dalam laga persahabatan yang terasa seperti pertandingan final. Juan Román Riquelme nyaris membawa Argentina menang, tetapi Owen mencetak dua gol dalam lima menit terakhir untuk memenangkan pertandingan bagi Inggris.
Kenangan 1998 dan 2002 masih segar saat itu. Kini, dua dekade kemudian, dengan banyak pemain Argentina di Premier League dan konflik Kepulauan Falkland serta “Tangan Tuhan” semakin jauh di masa lalu, kebencian mungkin sedikit mereda. Namun, sifat rivalitas ini jauh lebih dalam dari itu. Pertemuan pertama mereka pada 1951 diberitakan di media Argentina hampir seluruhnya dalam kerangka murid menghadapi guru—kekuatan semi-kolonial yang memperkenalkan olahraga ini. Sesuatu dari dinamika itu—meski kini sebagai murid yang sangat sukses—masih tersisa.
Inggris sendiri memiliki trauma dari semifinal-semi-final sebelumnya: Turin 1990 saat kalah adu penalti dari Jerman Barat, dan Moskow 2018 saat tumbang melawan Kroasia. Di turnamen ini, mereka telah mengubur sebagian trauma “Tangan Tuhan” dengan menang di Azteca. Langkah berikutnya adalah mengalahkan Argentina dalam laga knockout.
Kuis Trivia: Pencetak Gol Beruntun di Babak Knockout
Dengan dua gol ke gawang Norwegia di perempat final, Jude Bellingham menjadi pemain keenam dalam sejarah turnamen putra yang mencetak multi-gol beruntun di babak knockout. Manakah dari pemain berikut yang tidak mencapai prestasi itu?
- a) Pelé
- b) Diego Maradona
- c) Just Fontaine
- d) Garrincha
Kilas Balik: Hari Pertandingan Pertama Piala Dunia 1930
Jika bukan karena krisis Wall Street dan salju yang terlalu tebal, pertandingan pembuka Piala Dunia 1930 mungkin akan dimainkan di Estadio Centenario yang baru. Namun, karena stadion berkapasitas 69.000 itu masih dalam penyelesaian, pertandingan Piala Dunia pertama digelar serentak di dua stadion kecil di Montevideo: Estadio Parque Central (20.000 kursi) dan Estadio Pocitos (10.000 kursi).
Pocitos mendapat kehormatan menjadi tuan rumah gol pertama Piala Dunia saat Prancis mengalahkan Meksiko 4-1. Baru 19 menit berjalan, kiper Alex Thépot mengirim bola panjang ke Augustin Chantrel; ia meneruskannya ke Ernest Liberati yang kemudian mengirim umpan ke Lucien Laurent untuk mencetak gol dengan voli terkontrol. Chantrel harus bermain sebagai kiper selama satu jam terakhir setelah Thépot cedera kepala, tetapi Prancis tetap menang 4-1. Sayangnya, surat kabar El Día tidak terkesan, menyebut pertandingan itu “sangat mengecewakan publik.”
Sementara itu, di Parque Central, AS mengalahkan Belgia 3-0. Namun, El Diario melihat sedikit kualitas, menganggap serangan balik AS sebagai “monoton dan kadang kekanak-kanakan.” Meski begitu, AS memenangkan grup mereka dan melaju ke semifinal.
Jawaban Trivia
Jawabannya adalah c) Just Fontaine. Meskipun ia memegang rekor gol terbanyak dalam satu turnamen Piala Dunia dengan 13 gol pada 1958, dan mencetak gol di setiap pertandingan babak knockout, ia hanya mencetak satu gol dalam kekalahan 5-2 dari Brasil di semifinal.
Demikian ulasan mengenai tekanan psikologis dan hantu masa lalu yang menghantui semifinal Piala Dunia. Setiap tim memiliki kisahnya sendiri, dan hanya satu yang akan berhasil mengusir hantu itu menuju final.
