Mikey Moore ke Cologne, Terinspirasi Sancho & Bellingham

Winger muda Tottenham Hotspur, Mikey Moore, mengungkapkan bahwa kesuksesan Jadon Sancho dan Jude Bellingham di Bundesliga menjadi alasan utama di balik keputusannya bergabung dengan Cologne dengan status pinjaman. Pemain berusia 19 tahun itu resmi menyelesaikan masa peminjaman selama satu musim ke RheinEnergieStadion pada bulan lalu, dan kini menjadi talenta Inggris terbaru yang mencoba peruntungan di kasta tertinggi sepak bola Jerman.

Langkah Mikey Moore ke Bundesliga bukan keputusan yang datang tiba-tiba. Selama bertahun-tahun, liga Jerman dikenal sebagai tempat yang ramah bagi pemain muda, terutama penyerang, karena memberi ruang bermain yang cukup besar di level tertinggi. Jejak Sancho dan Bellingham memperkuat reputasi tersebut, dan hal itulah yang membuat Moore yakin meninggalkan kenyamanan sepak bola Inggris demi menantang diri di salah satu dari lima liga top Eropa.

Sancho dan Bellingham Jadi Contoh Nyata Bagi Mikey Moore

Dalam wawancara di podcast Euro Leagues edisi Kamis, yang akan disiarkan BBC Radio 5 Live pada pukul 21.00 BST sebelum laga Bundesliga melawan Eintracht Frankfurt, Mikey Moore menyebut dua nama besar sebagai sumber inspirasinya. Ia menilai banyak pemain muda yang berhasil berkembang di Jerman, dan Sancho serta Bellingham adalah contoh paling jelas dari pemain kelas dunia yang menempuh jalur tersebut.

“Menurut saya, selama bertahun-tahun Anda melihat begitu banyak pemain muda datang ke sini, dan ada beberapa contoh yang sangat bagus dari pemain kelas dunia seperti Jude Bellingham dan Jadon Sancho yang tampil sangat baik,” ujar Moore. Ia menambahkan bahwa Bundesliga merupakan tempat yang sangat menarik untuk bermain sepak bola, khususnya bagi penyerang muda.

Jejak Sancho memang menjadi rujukan klasik. Hampir satu dekade lalu, saat masih berusia 17 tahun, ia meninggalkan Manchester City untuk bergabung dengan Borussia Dortmund. Bersama Dortmund, Sancho menjelma menjadi salah satu winger paling menarik di Eropa dengan lebih dari 150 penampilan, turut mengantar klub meraih DFB-Pokal pada 2021, sebelum akhirnya pindah ke Manchester United dengan nilai transfer 73 juta poundsterling.

Bellingham mengikuti jalur serupa pada 2020. Ia meninggalkan klub masa kecilnya, Birmingham City, untuk memperkuat Dortmund. Sang gelandang berkembang sangat cepat menjadi salah satu pemain paling diburu di dunia, hingga akhirnya bergabung dengan Real Madrid dengan nilai awal 88,5 juta poundsterling pada 2023. Dua kisah itu menjadi bukti bahwa Bundesliga bisa menjadi batu loncatan menuju level tertinggi karier seorang pemain.

Bukan Kali Pertama Moore Keluar dari Zona Nyaman

Meski baru genap berusia 19 tahun pada Agustus lalu, Mikey Moore sebenarnya sudah terbiasa mengambil langkah di luar zona nyamannya. Pada musim sebelumnya, ia mencatatkan 47 penampilan di semua kompetisi, termasuk babak kualifikasi Liga Champions, selama dipinjamkan ke klub Scottish Premiership, Rangers. Itu adalah kali pertama Moore meninggalkan klub masa kecilnya, Tottenham, dan ia mampu menjawab tantangan tersebut.

Bersama Rangers, ia mencetak enam gol dan menyumbang dua assist dalam 28 penampilan di Scottish Premiership. Pengalaman itu jelas berbeda dengan ujian yang kini ia hadapi di Jerman, tetapi memberi bekal berharga tentang tuntutan bermain di tim utama level profesional. Moore pun mengakui bahwa ia sempat memiliki opsi untuk bertahan di Inggris, termasuk di tempat yang terasa jauh lebih nyaman.

“Saya punya opsi untuk bertahan di Inggris dan mungkin tetap di tempat yang sedikit lebih nyaman,” kata Moore. “Tetapi percakapan bermuara pada saya memilih satu tim, dan saya ingin sedikit keluar dari zona nyaman untuk menguji diri saya di liga besar, salah satu dari lima liga top.” Ia menuturkan bahwa orang-orang di klub dan sang manajer meyakinkannya bahwa Bundesliga adalah platform yang tepat untuk berkembang.

Menurut Moore, kepercayaan yang diberikan pihak Cologne menjadi faktor penting dalam keputusannya. Ia mengaku senang karena langsung mendapat menit bermain cukup banyak sejak awal kariernya bersama Köln. “Saya sudah senang dengan keputusan saya. Sekarang saya benar-benar bisa melaju, membuat cerita saya sendiri, dan membangun jalur saya sendiri di sepak bola Jerman,” ujarnya.

Adaptasi di Cologne: Belajar Bahasa Jerman hingga Rekan Senegara

Sejak bergabung pada hari terakhir bursa transfer, beberapa pekan terakhir menjadi periode yang sangat sibuk bagi Mikey Moore. Ia kini telah menemukan apartemen yang letaknya dekat dengan dua pemain muda internasional Inggris lainnya, Reigan Heskey dan Jahmai Simpson-Pusey, yang juga bergabung dengan Cologne pada musim panas ini. Kehadiran mereka tentu mempermudah proses adaptasi sosialnya di kota baru.

Moore juga mulai menaruh perhatian pada bahasa Jerman. Ia mengikuti pelajaran pertamanya pekan ini, dan atas permintaan sang ibu, ia berharap bisa memperluas kosakata bahasanya dalam beberapa pekan mendatang. Dengan nada bercanda, ia mengakui bahwa dirinya bukan siswa paling cerdas di sekolah, sehingga mungkin butuh waktu lebih lama untuk menguasai bahasa tersebut.

“Saya tidak terlalu pintar di sekolah, jadi mungkin butuh waktu bagi saya untuk mempelajari bahasanya,” kelakar Moore. “Tetapi saya pikir semakin banyak jam yang saya keluarkan, saya akan bisa menguasainya pada suatu titik.” Menurutnya, setidaknya ia bisa mempelajari beberapa kata agar bisa memesan makanan atau melakukan hal sederhana lain dalam bahasa Jerman.

Menanti Duel dengan Bayern Munich dan Misi Berburu Kaus Harry Kane

Kabar baik bagi Moore, ia tidak harus sepenuhnya mengandalkan bahasa Jerman ketika Cologne bertandang menghadapi pemuncak klasemen Bundesliga, Bayern Munich, bulan depan. Laga tersebut juga menjadi kesempatan baginya untuk bertemu kembali dengan Harry Kane, sosok yang masih memperkuat Tottenham saat Moore pertama kali diundang berlatih bersama tim senior pada musim 2021-22.

“Dia sudah menjadi idola besar saya sejak saya sangat muda. Saat pertama kali saya naik berlatih dengan tim utama di bawah Antonio Conte, Harry Kane ada di sana, dan saya melihat penyelesaian akhir yang belum pernah saya lihat lagi sebelumnya,” kenang Moore. Ia menyebut bermain melawan Kane dan berbagi lapangan dengannya akan menjadi pengalaman luar biasa yang sangat ia nantikan.

Hampir satu dekade setelah kepindahan Sancho ke Bundesliga, kini Kane yang menjadi representasi Inggris di kasta tertinggi Jerman. Moore sendiri berharap bisa membawa pulang kenang-kenangan istimewa dari Allianz Arena. Ia mengaku akan berusaha sekuat tenaga mendapatkan kaus Kane, dan bahkan sudah menyapanya saat jeda internasional terakhir.

“Saya akan berusaha sebaik mungkin mendapatkan kaus itu,” tegas Moore. “Saya melihatnya di jeda internasional terakhir, dan saya pergi menyapanya. Jika saya melihatnya lagi di jeda berikutnya, saya pasti akan bilang, ‘Beri saya kaus itu saat kita bermain nanti.’ Semoga saya bisa kembali ke Köln dengan kaus itu di tangan.”

Arti Langkah Ini bagi Tottenham dan Masa Depan Moore

Bagi Tottenham, kepindahan Mikey Moore ke Cologne merupakan cara mengasah salah satu talenta muda mereka melalui kompetisi level tinggi. Bermain di Bundesliga memberi tekanan dan intensitas yang berbeda dibandingkan kompetisi usia muda, sehingga peminjaman ini bisa menjadi ujian sekaligus tolok ukur kesiapan Moore untuk kembali bersaing di tim utama Spurs pada masa mendatang.

Dari sisi Cologne, kedatangan pemain muda Inggris seperti Moore, Heskey, dan Simpson-Pusey menunjukkan pola rekrutmen yang berorientasi pada potensi jangka panjang. Klub mendapat tambahan opsi di lini serang dengan biaya yang relatif lebih ringan dibandingkan membeli pemain jadi, sementara para pemain muda itu mendapatkan panggung untuk menunjukkan kualitas mereka di liga top Eropa.

Bagi Moore sendiri, jalur yang ia tempuh sejalan dengan tren yang lebih luas dalam beberapa tahun terakhir, ketika semakin banyak talenta muda Inggris memilih Bundesliga sebagai tempat menimpa ilmu sebelum menembus level elite. Jika ia mampu mengikuti jejak Sancho dan Bellingham, keputusan menolak tawaran dari Inggris bisa menjadi salah satu titik balik terpenting dalam kariernya.

Kesimpulan

Kepindahan Mikey Moore ke Cologne menegaskan bahwa Bundesliga masih menjadi tujuan favorit bagi pemain muda yang ingin menantang diri di luar zona nyaman. Inspirasi dari Jadon Sancho dan Jude Bellingham menjadi pendorong utama, diperkuat oleh pengalaman sebelumnya bersama Rangers di Skotlandia serta kepercayaan penuh dari klub dan staf pelatih Cologne.

Dengan menit bermain yang sudah ia dapatkan, adaptasi yang berjalan lancar, dan duel melawan Bayern Munich yang menanti, Moore kini memiliki panggung untuk membangun identitasnya sendiri di sepak bola Jerman. Termasuk ambisi kecilnya untuk membawa pulang kaus Harry Kane sebagai kenang-kenangan dari Allianz Arena.