Premier League akhir pekan ini memasuki pekan kedelapan dengan peta kekuatan yang belum stabil di kedua ujung klasemen. Manchester City masih sempurna dengan 21 poin dari tujuh pertandingan, Arsenal membayangi di posisi kedua dengan 18 poin, dan Brighton menempel di peringkat ketiga dengan 16 poin. Di sisi lain, Sunderland terpuruk di dasar tabel dan belum menunjukkan performa yang mengingatkan orang pada musim lalu.
Bagi sejumlah manajer, akhir pekan ini bukan sekadar soal tiga poin. Ada yang berjuang menghindari nasib serupa pendahulunya, ada yang harus membuktikan bahwa skuadnya memang layak bersaing di level tertinggi, dan ada pula yang menghadapi pertanyaan besar soal arah permainan timnya. Berikut sepuluh hal yang layak dicermati saat pertandingan-pertandingan digelar.
Perebutan Puncak: Manchester City dan Arsenal di Jalur Berbeda
Manchester City dan bayang-bayang perpisahan Guardiola
Ketika Manchester City dan Aston Villa bertemu pada Mei lalu untuk menutup musim, laga itu sekaligus menjadi pesta perpisahan Pep Guardiola setelah sepuluh tahun menangani klub dengan dua kali lipat jumlah trofi. Kini, lima bulan kemudian, atmosfernya terasa jauh berbeda dan meninggalkan banyak tanda tanya. Aston Villa menang 2-1 di Etihad lewat dua gol Ollie Watkins, sekaligus melengkapi kemenangan ganda atas City di liga.
Kemenangan itu datang hanya empat hari setelah Villa meraih gelar Liga Europa di Istanbul, dengan Youri Tielemans, Morgan Rogers, dan Emi Buendía sebagai pencetak gol. Kini Buendía menjadi satu-satunya nama dari trio itu yang masih bertahan, sementara Unai Emery sedang membangun skuad baru. Villa sempat hanya mengumpulkan satu poin dari empat laga liga pertama, tetapi perlahan menemukan ritme permainan mereka.
Di kubu tuan rumah, situasinya justru sedang bersinar di lapangan. Kemenangan pada akhir pekan ini akan membuat City menjadi tim ketiga dalam sejarah yang mampu memenangi delapan pertandingan pembuka Premier League. Catatan itu menunjukkan betapa konsistennya mereka sejauh musim berjalan, meski cerita di luar lapangan tetap menyisakan drama tersendiri.
Peluang Max Dowman saat Arsenal kehilangan Saka
Max Dowman mencetak sejarah sebagai pencetak gol termuda dalam sejarah Premier League lewat aksi individu memukau melawan Everton di Emirates pada Maret lalu. Namun, remaja berbakat berusia 16 tahun itu justru kesulitan mendapat menit bermain musim ini. Ia baru tampil sembilan menit di liga, meski sudah mencetak dua gol ke gawang Ipswich di Piala Carabao bulan lalu, karena Arsenal berusaha melindungi bintang mudanya itu.
Situasi berubah ketika Bukayo Saka mengalami cedera otot paha yang diduga dialami saat bermain imbang 2-2 dengan Bayern Munich di Liga Champions pada Rabu. Dengan stok penyerang yang menipis, Mikel Arteta kini punya keterbatasan pilihan di lini depan. Everton asuhan David Moyes yang kembali bertandang ke London utara bisa menjadi kesempatan sempurna bagi Dowman untuk naik panggung di posisi favoritnya di sisi kanan.
Zona Merah Memanas: Forest, Coventry, Fulham, dan Sunderland
Nottingham Forest dan Ipswich: nasib yang berulang
Setelah tujuh pertandingan, catatan Nottingham Forest terasa sangat mirip dengan musim lalu: lima poin dan lima gol. Setahun silam, laga kedelapan Forest berakhir dengan kekalahan 3-0 di kandang dari Chelsea, yang menandai akhir perjalanan Ange Postecoglou sebagai manajer kedua dari empat pelatih yang bergantian menempati bangku cadangan pada musim itu. Belum ada tanda bahwa Oliver Glasner berada dalam tekanan serupa, tetapi pelatih asal Austria itu jelas perlu mencari solusi bagi tim dengan produktivitas gol terendah di liga.
Kabar baiknya, Morgan Gibbs-White sudah tersedia setelah absen saat kekalahan tipis dari Arsenal. Liam Delap juga berpotensi diuntungkan oleh kembalinya ia ke lingkungan yang familiar, karena 12 dari 14 gol Premier League sepanjang kariernya ia cetak untuk Ipswich, dengan enam di antaranya di Portman Road. “Yang perlu kami perbaiki adalah membawa Delap ke lebih banyak posisi di mana ia bisa mencetak gol,” kata Glasner sebelum laga Jumat malam. “Dia salah satu penyelesai terbaik yang kami punya.”
Di kubu Ipswich, Gary O’Neil juga tidak memiliki pencetak gol yang menonjol, tetapi ia berhasil memeras gol dari seluruh timnya. Delapan pemain berbeda telah mencetak gol bagi Ipswich dalam tujuh pertandingan, sebuah catatan yang hanya bisa dilampaui Brighton dan Brentford musim ini. Penyebaran gol itu menjadi kekuatan tersendiri yang membuat Ipswich sulit dijaga.
Coventry vs Fulham: terlalu dini, tetapi tetap krusial
Coventry dan Fulham baru dua kali bertemu di kasta tertinggi Inggris, tepatnya pada 1967-68, ketika Sky Blues yang baru promosi hanya meraih satu poin dari dua pertemuan namun tetap bertahan dengan selisih satu poin sementara Fulham terdegradasi. Terlalu dini menyebut laga Sabtu sebagai duel enam poin dalam perebutan bertahan, tetapi kedua tim kini berada di sisi berlawanan dari garis batas setelah start yang goyah.
Coventry sempat memperlihatkan kilasan gaya permainan khas juara Championship, terutama saat menghancurkan Newcastle 4-1. Namun, Frank Lampard ingin para pemainnya mulai berpikir seperti tim Premier League seutuhnya. “Saya tidak bisa terus memuji para pemain dan percaya mereka pantas berada di sini,” ujar Lampard. “Sekarang kami harus melewati fase itu. Kami tidak boleh terlalu lembek.”
Sunderland, Crystal Palace, dan Ipswich akan bertandang ke CBS Arena dalam beberapa pekan ke depan, sehingga ada peluang untuk memantapkan posisi. Fulham sendiri sempat dikaitkan dengan Lampard pada musim panas, dan masih ada pertanyaan apakah Álvaro Arbeloa cukup pragmatis sekaligus fleksibel untuk membawa tim ini sukses. Apakah kedua tim akan bertemu lagi di Premier League musim depan? Jawabannya masih terbuka.
Sunderland: bangkit sebelum jeda internasional
Nordi Mukiele termasuk pemain terbaik Sunderland sekaligus sosok paling berpengaruh di ruang ganti. Mantan bek Paris Saint-Germain itu dengan tajam mengkritik awal musim yang buruk dan menuntut reaksi ketika Leeds bertandang ke Wearside pada Minggu. “Leeds akan menjadi momen yang tepat untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa kami belum mati,” kata Mukiele, yang sadar betul tim asuhan Régis Le Bris itu memulai akhir pekan di dasar klasemen.
Mukiele tidak menyembunyikan kekecewaannya terhadap performa tim. “Kami belum cukup baik. Saat ini bukan kami; kami bukan Sunderland,” ujarnya. “Saya percaya kami bisa kembali ke puncak. Saya percaya pada tim dan staf ini. Kami punya kualitas.” Pernyataan itu sekaligus menjadi sinyal bahwa Sunderland sadar betul besarnya tekanan yang mereka hadapi.
Sunderland wajib memanfaatkan tiga laga liga sebelum jeda internasional, yakni melawan Leeds, tandang ke Coventry, dan menjamu Chelsea, untuk mengingatkan semua orang mengapa mereka finis di posisi ketujuh musim lalu. Tiga pertandingan itu bisa menjadi titik balik, atau justru memperdalam krisis yang sedang berlangsung.
Derbi London: Tottenham vs Chelsea, Rekor yang Menekan
Rekor Tottenham melawan Chelsea belakangan ini sangat menyedihkan. Mereka sedang mencatat enam kekalahan beruntun dari rival sekota itu dan hanya mengumpulkan dua poin di Stamford Bridge sejak terakhir menang di sana pada April 2018. Tottenham akhirnya meraih kemenangan liga dengan mengalahkan Coventry 3-1 pada Senin, tetapi penampilan mereka masih belum meyakinkan.
Roberto De Zerbi memakai formasi 3-4-2-1 melawan Coventry dan sempat menghadapi masalah di lini tengah. Kini ia harus memutuskan apakah akan mengubah tim yang baru saja menang. Apakah ia tetap mempertahankan James Maddison setelah gol gemilang sang nomor 10 ke gawang klub masa kecilnya? Spurs masih terlihat kurang bertenaga di beberapa momen, sehingga ada argumen untuk mengembalikan dinamisme Conor Gallagher, meski itu berisiko menurunkan kualitas penguasaan bola.
Mateus Fernandes menjadi opsi lain, tetapi ia belum benar-benar mapan sejak didatangkan dari West Ham. Pendekatan Spurs masih sulit ditebak: De Zerbi menyukai penguasaan bola, sementara Chelsea justru ingin lawan membuka ruang karena The Blues punya kecepatan mengerikan saat melakukan serangan balik. Melihat sejarah pertemuan kedua tim, Spurs sepertinya perlu fokus merapatkan pertahanan, tanpa menjadi pasif dan tetap menyimpan ancaman saat melakukan transisi.
Brighton dan Liverpool: Ujian Konsistensi di Premier League Akhir Pekan Ini
Pembicaraan tentang Brighton yang berpeluang lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya akan semakin kuat jika tim percaya diri asuhan Fabian Hürzeler mampu memperpanjang rekor tak terkalahkan menjadi sembilan laga di semua kompetisi. Dalam rentetan itu, mereka mencatat enam clean sheet dan 23 gol, termasuk enam kemenangan beruntun, sekaligus menjadi tim paling produktif di Premier League saat ini.
Brighton bisa mengambil dorongan dari masalah pertahanan Liverpool saat comeback melawan Villarreal, yang tidak hanya bersumber dari kesalahan awal Virgil van Dijk. Andoni Iraola belum merasakan kemenangan kandang pertamanya di liga sebagai pelatih Liverpool, dan Anfield baru menyaksikan empat kemenangan kandang dalam 13 laga liga sepanjang tahun ini. Ia tentu waspada terhadap berbagai ancaman yang dibawa Brighton.
Namun, dengan Rio Ngumoha yang tampil memukau di kemenangan Liga Champions, Florian Wirtz yang terus membaik, dan Alexander Isak yang semakin menentukan, semua bahan untuk sebuah pertandingan memikat sudah tersedia. Laga ini akan menguji apakah Brighton benar-benar layak masuk pembicaraan papan atas, sekaligus menjadi momen bagi Liverpool untuk membuktikan bahwa masalah di kandang sendiri bisa segera diatasi.
Manchester United: Kekacauan yang Tak Berujung
Siapa yang bisa atau akan membangkitkan Manchester United setelah pekan terbaru yang kembali suram dan memalukan? Keputusan Bruno Fernandes melepas tanggung jawab sebagai kapten, disertai tuduhan bahwa manajernya tidak becus secara taktik, menunjukkan betapa berantakannya tim ini di bawah Michael Carrick. Di luar sosok pemain terbaik dua kali itu, apakah masih ada bintang lain yang mampu memenangkan pertandingan?
Bournemouth berharap bisa memanfaatkan situasi tersebut, meraih kemenangan liga kedua mereka musim ini, dan memperdalam penderitaan tuan rumah beserta para pendukungnya. Jika United kembali tumbang di hadapan The Cherries, posisi Carrick hampir pasti berada di ujung tanduk. Ia berpotensi menjadi korban terbaru dari sirkus yang terus berputar di Old Trafford.
Duel Taktis: Crystal Palace vs Newcastle dan Hull vs Brentford
Crystal Palace dan tekanan di Selhurst Park
Sudah enam bulan sejak Crystal Palace mencatat clean sheet di Premier League di Selhurst Park, dan tekanan kini mengarah pada Pierre Sage menjelang laga melawan Newcastle pada Minggu. Palace telah kebobolan delapan gol dalam empat laga kandang liga musim ini, meski mereka menyambut kembali Axel Disasi dari sanksi setelah kartu merah cerobohnya melawan Ipswich.
Bek asal Prancis itu didatangkan dengan status pinjaman dari Chelsea untuk menambah pengalaman, tetapi justru merugikan Palace saat kalah dari tim promosi tersebut. Ia hanya bisa menonton dari pinggir lapangan ketika The Eagles dipermalukan Brighton akhir pekan lalu. Disasi kini berutang budi kepada Sage dan sangat ingin menebus awal buruknya di London selatan.
Hull vs Brentford: pertarungan penguasaan bola yang tak biasa
Sesuatu yang tidak biasa akan terjadi di Stadion MKM pada Minggu: entah Hull City atau Brentford akan mencatat penguasaan bola di atas 50 persen. Dalam tujuh laga liga, Brentford hanya lebih dominan dalam penguasaan bola saat bermain imbang 1-1 di Leeds. Sementara itu, tuan rumah adalah tim yang paling menghindari penguasaan bola di kasta teratas musim ini, dengan rata-rata hanya sedikit di atas 30 persen.
Kedua tim sama-sama efektif dalam serangan balik dan sukses memanfaatkan bola mati, dengan masing-masing mencetak tiga gol dari situasi tersebut. Laga ini bisa menjadi tontonan bagi pencinta taktik murni, di mana satu momen klinis akan menentukan hasil akhir. Pelatih kepala Brentford, Keith Andrews, berharap momen itu datang dari Igor Thiago, yang belum menemukan ketajaman seperti musim lalu.
“Thiago saat ini adalah pemain yang sangat dijaga, tetapi kami punya pencetak gol di seluruh tim,” kata Andrews tentang penyerang Brasil yang baru mencetak satu gol dalam tujuh laga musim ini. “Thiago tetaplah Thiago yang ingin mencetak lebih banyak gol, dan ia jelas tidak jauh dari itu.” Pernyataan itu menegaskan bahwa Brentford tetap percaya pada ujung tombak mereka meski sedang dalam periode kering.
Klasemen Sementara Premier League
| Pos | Tim | P | SG | Poin |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Man City | 7 | 12 | 21 |
| 2 | Arsenal | 7 | 6 | 18 |
| 3 | Brighton | 7 | 18 | 16 |
| 4 | Chelsea | 7 | 4 | 13 |
| 5 | Liverpool | 7 | 1 | 12 |
| 6 | Brentford | 7 | 5 | 10 |
| 7 | Leeds | 7 | 3 | 10 |
| 8 | Everton | 7 | 1 | 10 |
| 9 | Hull | 7 | 1 | 9 |
| 10 | Ipswich | 7 | -4 | 9 |
| 11 | Newcastle | 7 | -4 | 8 |
| 12 | Aston Villa | 7 | -4 | 8 |
| 13 | Man Utd | 7 | 0 | 7 |
| 14 | Crystal Palace | 7 | -8 | 7 |
| 15 | AFC Bournemouth | 7 | -4 | 6 |
| 16 | Tottenham Hotspur | 7 | -4 | 6 |
| 17 | Coventry | 7 | -8 | 6 |
| 18 | Fulham | 7 | -3 | 5 |
| 19 | Nottm Forest | 7 | -4 | 5 |
| 20 | Sunderland | 7 | -8 | 4 |
Dari persaingan di puncak hingga pergulatan di dasar klasemen, pekan kedelapan Premier League menyajikan cerita yang saling berkaitan. Manchester City berpeluang menorehkan rekor, Arsenal diuji kedalaman skuadnya, sementara tim-tim di zona merah seperti Sunderland, Nottingham Forest, dan Fulham berlomba menghindari jurang degradasi. Setiap keputusan taktik dan setiap momen individu bisa mengubah arah musim mereka.
Bagi para penggemar, akhir pekan ini adalah kesempatan menyaksikan bagaimana tekanan membentuk performa: ada manajer yang berjuang mempertahankan pekerjaannya, ada talenta muda yang menunggu kesempatan, dan ada tim yang mencoba membuktikan bahwa posisi mereka di klasemen bukan kebetulan. Hasil akhirnya akan menjadi potret awal dari perjalanan panjang musim ini.
