Program Premier League Futures, Jalan Baru bagi Eks Pemain Akademi Sepak Bola

Kisah Iyiola Adebayo: Dari Kapten West Ham Hingga Pengantar Pizza

Hanya dalam waktu enam bulan setelah memimpin West Ham sebagai kapten di ajang Youth Cup, Iyiola Adebayo harus bekerja sebagai kurir pengantar pizza untuk Domino’s. Pemain bertahan asal Tilbury ini bergabung dengan akademi West Ham sejak usia delapan tahun—akademi yang pernah melahirkan bintang seperti Rio Ferdinand, Joe Cole, dan Declan Rice. Adebayo bahkan mendapat beasiswa lebih awal dibanding rekan-rekan seusianya, menandakan bahwa ia diproyeksikan mengikuti jejak para legenda tersebut.

Namun, cedera bahu yang serius di tahun pertama menghambat perkembangannya. Meski sempat tampil untuk tim U-21 dan U-23, ia akhirnya dilepas pada usia 16 tahun. “Mereka berpikir mungkin lingkungan baru dan klub baru bisa membuat saya berkembang, karena saya sudah terlalu lama di sana,” ujar Adebayo. “Itu masa yang berat, terutama bagi identitas saya. Selama ini saya dikenal sebagai Iyiola yang bermain untuk West Ham.”

Perjuangan Mental dan Rezeki yang Datang dari Program Premier League Futures

Setelah dilepas, Adebayo berusaha mencari klub baru. Namun, cedera yang belum pulih sepenuhnya membuat ia hanya bisa tampil 50-60 persen dari kemampuan terbaiknya saat mengikuti seleksi. Rasa penolakan terus menghantuinya. “Saya harus pergi ke daerah-daerah yang belum pernah saya kunjungi sendirian, tahu bahwa saya tidak bisa menunjukkan kemampuan penuh. Itu sangat menantang secara mental. Saya ingat bicara dengan ibu dan teman-teman tentang perjuangan mental ini. Kadang saya tidak ingin berada di sana, ingin pulang,” kenangnya.

Untuk bertahan hidup, Adebayo mulai bekerja paruh waktu mengantar pizza. Saat itulah mantan kepala pendidikan West Ham menyarankannya untuk mengikuti Program Premier League Futures. Awalnya ia ragu. “Saya masih berduka karena dilepas. Kadang saat dalam fase seperti itu, Anda tidak ingin melakukan hal-hal yang mengingatkan pada situasi tersebut,” jelasnya.

Apa Itu Program Premier League Futures?

Program Premier League Futures dimulai pada tahun 2017 sebagai bagian dari kewajiban akademi untuk memberikan pendampingan pasca-pelepasan minimal tiga tahun bagi pemain yang dilepas pada fase pengembangan profesional (usia 17-21 tahun). Program ini merupakan pengenalan terhadap jalur karier potensial di luar lapangan hijau. Di dalamnya terdapat dua inisiatif untuk mendukung pemain U-16 yang tidak mendapat kontrak, serta program 12 bulan bagi mantan pemain akademi berusia 18-24 tahun.

Menurut Neil Saunders, Direktur Sepak Bola Premier League yang juga pernah dilepas Watford saat remaja, penekanan pada pendidikan tinggi dan pencarian pekerjaan lain di industri sepak bola semakin diperkuat. “Hanya sebagian kecil yang berhasil menembus tim utama. Kami ingin setiap anak muda yang melalui akademi dapat mengenang masa itu secara positif,” kata Saunders. “Banyak dari mereka telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di akademi dan menjadi ahli dalam analisis performa, kondisi kekuatan, atau kepelatihan. Kami ingin membekali mereka dengan peluang untuk maju ke peran di luar lapangan.”

Dampak Nyata: Mengubah Hidup dan Membuka Mata

Bagi Adebayo, program ini benar-benar mengubah hidup. Ia kini berada di tahun terakhir kuliah bisnis dan pemasaran sepak bola yang disponsori di University Campus of Football Business. Selain itu, ia juga menjalankan workshop tentang kesehatan mental dan pilihan gaya hidup untuk pemain akademi atas nama Sporting Chance—yayasan yang didirikan mantan kapten Arsenal, Tony Adams. Adebayo pertama kali mengenal yayasan ini saat menghadiri konferensi pengembangan pemuda Premier League yang merupakan bagian dari Program Premier League Futures.

“Saya mendatangi mereka saat dilepas karena merasa cemas bermain bola. Saya menjalani sesi konseling dan ingat logo mereka. Sekarang saya berbagi pengalaman,” ujar Adebayo. “Workshop ini membahas tekanan sebagai pemain akademi, baik dari teman sebaya maupun tuntutan performa. Terkadang, yang penting adalah siapa yang menyampaikan pesan. Saya masih dekat dengan pengalaman yang mereka alami.”

Pemuda 23 tahun ini mengaku program itu membuka matanya terhadap banyak jalur karier. “Saya dulu berpikir hanya ada pelatih, pemain, tukang perlengkapan, atau fisioterapis. Tapi setelah belajar bahwa ada ratusan peran yang bisa menghasilkan banyak uang dan memberikan karier memuaskan, saya siap mendengarkan dan mengambil kesempatan,” katanya.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Lapangan

Kisah Iyiola Adebayo hanyalah satu dari sekian banyak contoh bagaimana Program Premier League Futures memberikan harapan baru bagi mantan pemain akademi yang gagal menembus tim utama. Dengan pendampingan yang terstruktur, akses ke pendidikan tinggi, serta pengenalan terhadap berbagai peran di industri sepak bola, program ini membuktikan bahwa kegagalan di lapangan bukanlah akhir segalanya. Adebayo kini optimis: “Pertama saya ingin bekerja di bidang perawatan pemain, lalu mungkin ke sisi bisnis atau komersial olahraga. Saya sangat optimis bisa tetap terlibat dalam sepak bola dengan banyak cara berbeda.”