Rating Google Stadion Sepak Bola: Anfield Tertinggi

Pertanyaan soal rating Google stadion sepak bola akhirnya mendapat jawaban yang cukup mengejutkan: Anfield, markas Liverpool, menempati posisi teratas dengan nilai 4,7 dari 54.546 ulasan pengguna. Di ujung lain, hanya dua kandang klub di liga Inggris yang tercatat memiliki rating 4,0, yakni Kassam Stadium milik Oxford United dan SPORTA Arena, markas Stevenage. Rentang angkanya memang tidak lebar, tetapi peta persaingannya menyimpan banyak cerita menarik.

Semua ini bermula dari rasa penasaran Will Unwin, yang kerap mencari lokasi stadion lewat Google untuk menemukan arah jalan. Ia memperhatikan bahwa Hull City, sebagai contoh, mengumpulkan 4,3 bintang dari 3.655 ulasan. Dari situ ia melempar pertanyaan: stadion mana yang ratingnya paling tinggi dan paling rendah? Pete Tomlin kemudian menjawabnya dengan cara yang tidak main-main, yaitu menyisir satu per satu kandang klub di Football League melalui Google, lengkap dengan jumlah ulasan untuk tiap lapangan.

Anfield Memuncaki Rating Google Stadion Sepak Bola

Dari hasil pendataan Tomlin, rentang nilai ternyata tidak terlalu besar. Rating tertinggi yang tercatat adalah 4,7 dan yang terendah 4,0. Karena banyak lapangan yang memiliki nilai sama, Tomlin memakai jumlah ulasan sebagai penentu: semakin banyak suara, semakin tinggi posisinya. Pola yang muncul pun cukup wajar, karena klub-klub besar dan berprestasi cenderung mengumpulkan rating lebih baik. Sembilan lapangan dengan nilai tertinggi semuanya merupakan markas klub Premier League.

Anfield berada di puncak dengan 4,7 dari 54.546 ulasan. Hanya dua stadion lain yang menyamai nilai tersebut, yaitu markas Tottenham Hotspur dengan 26.545 ulasan dan City Ground milik Nottingham Forest dengan 2.245 ulasan. Menariknya, jumlah ulasan yang jauh lebih sedikit tidak menghalangi kedua lapangan itu menyamai Anfield, karena aturan Tomlin hanya memakai jumlah suara untuk memutus nilai yang seri.

Setingkat di bawahnya, ada enam stadion dengan rating 4,6. Daftarnya mencakup Old Trafford milik Manchester United (54.535 ulasan), Emirates Stadium milik Arsenal (34.778), City of Manchester Stadium milik Manchester City (32.246), Stamford Bridge milik Chelsea (25.434), St James’ Park milik Newcastle United (12.116), dan Elland Road milik Leeds United (10.066). Deretan ini menunjukkan bahwa pengalaman menonton di klub-klub besar secara konsisten dinilai positif oleh pengunjung.

Klub Divisi Bawah yang Menembus Papan Atas

Meski sembilan posisi teratas dikuasai Premier League, ada beberapa wakil divisi bawah yang tampil mengejutkan. Molineux, markas Wolverhampton Wanderers, menjadi lapangan terbaik dari Championship dengan posisi ke-11 dan rating 4,6 dari 7.408 ulasan. Angka itu bahkan lebih tinggi dari beberapa markas klub elit bila dilihat dari sisi nilai, meskipun kalah dalam jumlah ulasan.

League One justru tampil lebih baik lagi. King Power Stadium milik Leicester City berada di posisi ke-10 dengan rating 4,6 dari 7.573 ulasan, hanya satu tingkat di atas Molineux. Sementara itu, perwakilan terbaik League Two adalah St James’ Park, kandang Exeter City, yang menempati urutan ke-31 dengan nilai 4,5 dari 246 ulasan. Capaian Exeter ini menunjukkan bahwa jumlah ulasan yang kecil tetap bisa menghasilkan rating tinggi bila pengunjung merasa puas.

Deretan Rating Terendah: Hull City hingga Stevenage

Di sisi sebaliknya, markas dengan rating terendah di Premier League adalah MKM Stadium milik Hull City dengan 4,3 dari 3.676 ulasan. Angka ini menjelaskan mengapa Hull menjadi contoh yang dipakai Will Unwin di awal pertanyaan. Untuk Championship, posisi terbawah ditempati Loftus Road, kandang QPR, yang jatuh ke peringkat ke-85 dengan rating 4,1 dari 3.458 ulasan.

Hanya dua lapangan di seluruh Football League yang tercatat ber nilai 4,0. Yang pertama adalah Kassam Stadium milik Oxford United dengan 2.506 ulasan, dan yang kedua adalah SPORTA Arena, markas Stevenage, dengan 350 ulasan. Lapangan milik Stevenage itu berada di posisi ke-92 alias paling buncit dalam daftar, dan kebetulan merupakan klub yang didukung Tomlin sendiri.

Kalau dicermati, jurang antara peringkat teratas dan terbawah hanya berkisar 0,7 poin. Artinya, hampir semua kandang klub di liga Inggris dinilai positif oleh pengunjung, dan perbedaan posisi lebih banyak ditentukan oleh jumlah ulasan ketimbang selisih nilai yang signifikan. Rating Google pun sebaiknya dibaca sebagai cerminan pengalaman suporter saat datang ke stadion, bukan sebagai ukuran mutu tim atau fasilitas secara menyeluruh.

Belum Ada 0-0 di Serie A Musim Ini

Pertanyaan lain datang dari Stephen Hogg, yang menyoroti bahwa Serie A belum menghasilkan satu pun hasil imbang 0-0 pada musim ini, setelah sejumlah pekan awal berjalan. Ia pun bertanya apakah situasi itu sudah mendekati rekor. Chris Roe, yang rutin menyumbang data untuk kolom ini, menjawab dengan catatan bahwa koleksi datanya soal liga Italia baru mencakup sekitar 30 tahun terakhir.

Dalam rentang data tersebut, penantian tanpa hasil 0-0 terpanjang pernah terjadi pada musim 2015-16, ketika laga Napoli melawan Carpi baru berakhir tanpa gol pada putaran kelima. Di Premier League, penantian serupa berlangsung sampai putaran kelima pada 17 September 2023, saat Bournemouth menghadapi Chelsea. Namun, penantian yang jauh lebih panjang justru terjadi di masa lampau.

Rekor penantian terpanjang di kompetisi kasta teratas terjadi pada musim 1889-90, ketika hasil 0-0 pertama baru muncul pada putaran ke-17. Rekor itu hanya terlewati pada musim 1894-95 di kasta kedua, di mana hasil tanpa gol pertama datang pada 23 Maret 1895 dalam laga Arsenal melawan Crewe Alexandra. Laga itu merupakan pertandingan ke-25 bagi Crewe dan ke-26 bagi Arsenal. Catatan setara muncul jauh lebih dekat, yaitu di kasta ketiga Liga Skotlandia musim 2013-14, yang juga menunggu hingga putaran ke-25 sebelum Airdrie United dan East Fife bermain 0-0 pada 22 Februari 2014.

Kapan Fans Mulai Memakai Jersey Replika?

Pertanyaan lama soal jersey replika juga kembali dibahas setelah pembaca mengirim banyak contoh yang mendahului jawaban sebelumnya. Kesimpulan awal menyebut Leeds United pada 1973, dengan catatan bahwa sudah ada contoh merchandaise tidak resmi dari klub, pemain, pelatih, maupun penjual yang lebih awal. Janette dan Brian Kidd menyebut mereka sudah punya jersey Umbro Brasil pada 1970 saat berusia delapan tahun, bahkan sebelumnya sudah memakai jersey Celtic.

Menarik dicatat, jersey resmi Brasil tidak dijual secara komersial selama Piala Dunia 1970, sehingga produk Umbro tersebut kemungkinan berbeda sedikit dari yang dikenakan pemain. Pada turnamen itu, tim Brasil memakai dua kemeja dari dua perusahaan berbeda: Athleta asal Brasil dan Umbro dengan desain nyaris identik. Perbedaan mencolok hanya pada label kerah dan bentuk nomor punggung, dan Pelé, Jairzinho, serta rekan-rekannya memakai Athleta di babak pertama lalu berganti ke Umbro di babak kedua, kecuali pada partai final yang memakai Umbro dari awal sampai akhir.

Andy Wainwright mengingat ia menerima set replika anak-anak Nottingham Forest sekitar 1970, sebelum Leeds pada 1973. Simon Crompton bahkan menyimpan foto set Umbro Manchester United miliknya dari sekitar 1967, lengkap dengan noda rumput, dan mengaku merasa seperti George Best setiap kali memakainya. Selain itu, Alan Hull tampil di Old Grey Whistle Test pada 1971 dengan kemeja Newcastle, sementara Keith Foster membeli jersey replika Chelsea 1965 di toko olahraga Frank Blunstone, mantan pemain Chelsea yang kini berusia 91 tahun.

Roger Kirkby mencatat adanya kemeja Burnley di film Kes tahun 1969, tempat Brian Glover memakai set ala Bobby Charlton. Frank Close mengisahkan pekerjaan musim panasnya pada 1959 saat masih 14 tahun di Wilmslow, yaitu memasukkan set Manchester United ke dalam kotak untuk dijadikan hadiah Natal anak-anak. David Crowe juga mengingat anekdot Michael Parkinson tentang seorang pendukung Barnsley pada 1950-an yang diam-diam membawa set lengkap di balik pakaian luarnya, berharap Barnsley kekurangan pemain dan memanggilnya dari tribun.

Juara Inggris dengan Stadion Terkecil

Dari arsip The Knowledge, Roland Tye pada 2014 bertanya klub juara kasta teratas Inggris mana yang stadionnya paling kecil saat meraih gelar. Untuk era Premier League, jawabannya adalah Blackburn Rovers, karena Ewood Park berada dalam kondisi yang kurang lebih sama seperti 1995 dengan kapasitas sedikit di atas 31.000. Posisi berikutnya ditempati Highbury, yang mampu menampung 38.419 penonton ketika Arsenal terakhir juara pada 2004, sementara Leicester tercatat berkapasitas 32.259 saat menjuarai liga pada 2016.

Untuk periode sebelum itu, penelusuran menjadi lebih rumit karena kapasitas dan bentuk stadion terus berubah. Pendekatan yang dianggap paling masuk akal adalah membatasi perhitungan pada era pascaperang, ketika pencatatan sudah lebih andal dan setiap klub punya kandang tetap. Perkiraan terbaik yang bisa diberikan adalah Portman Road, markas Ipswich yang menjadi juara pada 1961-62, dengan kapasitas sekitar 29.000 penonton.

Pertanyaan yang Masih Mencari Jawaban

Kolom ini juga membuka beberapa pertanyaan baru yang belum terjawab dan menunggu kiriman pembaca. Beberapa di antaranya menyangkut kehadiran tokoh besar di pertandingan klub, keunikan nomor punggung pemain, hingga kebetulan nama kiper yang saling berhadapan. Berikut daftar pertanyaannya:

  • Greg Hunt mencatat Andy Burnham dan Mark Carney hadir di laga Everton kontra Wolves di Carabao Cup, lalu bertanya apakah dua pemimpin nasional pernah menghadiri pertandingan klub di Inggris sebelumnya selain di final kompetisi Eropa.
  • David Gregory menyoroti gol kedua Antoine Semenyo yang memakai nomor 42 untuk Manchester City melawan Sunderland hingga skor menjadi 4-2, dan ingin tahu skor tertinggi yang pernah tercipta dari pemain yang nomor punggungnya sama dengan hasil akhir pertandingan.
  • Matt Walker mempertanyakan kapan paling awal sebuah klub kasta teratas dipastikan menutup musim tanpa trofi, dengan contoh Manchester United dan Spurs yang tidak berlaga di Eropa, tersingkir dari Piala Liga, dan tertinggal di Premier League.
  • Mat Hope menyoroti laga Oxford United kontra Cambridge United di League One, di mana kedua kiper utama sama-sama bernama Eastwood, dan mencari kejadian serupa dengan kiper bersurname sama yang saling berhadapan.

Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan bahwa sepak bola selalu menyisakan celah untuk ditelusuri lebih dalam, mulai dari rating stadion hingga detail kecil yang jarang disadari penonton.

Kesimpulan

Dari pendataan Pete Tomlin, terlihat bahwa Anfield memimpin rating Google stadion sepak bola dengan 4,7 dari 54.546 ulasan, diikuti Tottenham dan Nottingham Forest di nilai yang sama. Di sisi lain, Kassam Stadium dan SPORTA Arena menutup daftar dengan rating 4,0, sementara Hull City menjadi markas Premier League dengan nilai terendah. Rentang yang sempit antara 4,0 dan 4,7 menandakan bahwa pengalaman mengunjungi stadion di Inggris secara umum dinilai baik oleh para penonton.

Yang menarik, jumlah ulasan memegang peran besar dalam menentukan urutan karena banyak lapangan memiliki nilai identik. Karena itu, rating Google sebaiknya dipahami sebagai potret pengalaman pengunjung, bukan patokan mutlak kualitas sebuah klub. Sementara itu, pertanyaan-pertanyaan baru yang masih terbuka memastikan pembahasan soal stadion, rekor, dan tradisi suporter akan terus berlanjut di edisi berikutnya.