Ancelotti Buka Tur Brasil di Australia dari Townsville

Tur Brasil di Australia resmi dimulai pada Kamis lalu, ketika skuad asuhan Carlo Ancelotti mendarat di Townsville, kota pesisir di Queensland utara yang jauh dari gemerlap Santiago Bernabéu. Rombongan itu membawa nama-nama besar seperti Vinícius Júnior, Raphinha, dan Marquinhos, pemain yang biasanya berlaga di depan puluhan ribu penonton di stadion-stadion elite Eropa. Kedatangan mereka menandai penampilan pertama Seleção sejak tersingkir di babak 16 besar Piala Dunia, sekaligus titik awal siklus baru menuju turnamen edisi berikutnya.

Yang membuat perjalanan ini terasa janggal bukan semata daftar nama di dalamnya, melainkan tempat yang mereka pilih. Townsville adalah wilayah jantung rugby league, bukan sepak bola, dan kota berpenduduk sedikit di atas 200.000 jiwa itu belum pernah sekalipun menjadi tuan rumah pertandingan internasional senior bagi tim nasional Australia. Ancelotti bahkan dikabarkan menginap hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari Mad Cow Tavern di Flinders Street, sementara ia menyiapkan tim untuk dua laga di Queensland melawan Socceroos besutan Tony Popovic, sosok yang pernah menjadi tamunya di Milan dan Bayern Munich.

Mendarat di Townsville, Kota Rugby League yang Belum Pernah Menjamu Socceroos

Kedatangan lima kali juara dunia di Townsville jelas memicu rasa heran sekaligus antusiasme. Selama ini kota tersebut lebih dikenal sebagai kubu rugby league, dan wakilnya di kompetisi A-League, North Queensland Fury, sudah bubar pada 2011. Artinya, tidak ada klub sepak bola profesional yang bisa menjadi tuan rumah tetap bagi ajang sekelas ini. Karena itu, kehadiran Brasil di sana justru terasa seperti kejutan tersendiri bagi warga setempat.

Antusiasme itu terlihat dari berbagai hal praktis. Hotel-hotel di seluruh kota penuh dipesan, dan pada Jumat sore digelar pesta jalanan yang menampilkan demonstrasi jiu-jitsu Brasil serta capoeira, lengkap dengan penampilan band Brasil dan line dancing. Bahkan di bandara Townsville pada Kamis, rombongan Seleção berpapasan dengan hampir 80 tim junior rugby league dari berbagai penjuru Queensland yang datang untuk mengikuti Piala Gordon Tallis. Pemandangan dua dunia olahraga yang berbeda bertemu di satu terminal itu menjadi gambaran kecil dari betapa tidak biasanya peristiwa ini.

Dari sisi jadwal, Brasil akan memainkan dua pertandingan di Queensland, yaitu di Townsville dan di Brisbane, sebelum melanjutkan lawatan dengan menghadapi India pada 3 Oktober. Menariknya, mereka akan tampil sebagai tim “tuan rumah” resmi selama berada di negara bagian tersebut. Untuk laga di Lang Park, Brisbane, pada Selasa pekan depan, Brasil harus bersiap bermain di atas permukaan lapangan yang baru empat hari sebelumnya dipakai untuk final pendahuluan NRL antara Dolphins dan Sydney Roosters.

Ancelotti dan Popovic: Persahabatan Lama di Balik Duel Brasil vs Australia

Laga ini menjadi awal siklus Piala Dunia penuh pertama bagi Ancelotti sebagai pelatih kepala Brasil. Di sisi lain, Socceroos kini ditangani Tony Popovic, pelatih yang hubungannya dengan Ancelotti sudah terjalin lama. Keduanya disebut sering berbincang soal sepak bola setiap kali ada kesempatan bertemu, termasuk dua malam sebelum konferensi pers digelar di Brisbane.

“Kami berteman baik,” ujar Ancelotti. Ia menuturkan bahwa Popovic pernah menjadi tamunya saat masih menangani Milan dan Bayern Munich, dan bahwa berbincang soal sepak bola dengannya selalu menyenangkan. Ancelotti juga memuji performa Popovic bersama Australia, menyebutnya sebagai pelatih yang sangat bersemangat dan berharap yang terbaik untuknya, serta menilai Piala Dunia yang dijalani tim itu berlangsung cukup baik dengan kualitas serta kekompakan yang terlihat jelas.

Meski bersahabat di luar lapangan, Ancelotti menegaskan bahwa pertandingan ini tidak bisa disebut sekadar uji coba. Menurutnya, bagi Brasil tidak akan pernah ada laga yang sifatnya persahabatan, karena setiap pertandingan tetap penting. Ia menyebut ini sebagai musim baru dengan target menemukan pemain-pemain anyar serta membangun generasi baru untuk Piala Dunia dan Copa America, dan proses itu dimulai pada laga berikutnya.

Mengapa Tur Brasil di Australia Digelar di Queensland?

Keputusan membawa Seleção ke Queensland bukanlah kebetulan. Pemerintah negara bagian itu bekerja sama dengan pihak promotor dan federasi sepak bola Brasil (CBF), serta mengucurkan dana, demi mendatangkan mereka ke Townsville yang dipromosikan sebagai “ibu kota event di wilayah utara”. Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi besar Queensland untuk menarik perhelatan berskala internasional.

Menteri Pariwisata Queensland, Andrew Powell, bahkan dengan yakin menyatakan dalam siaran pers yang menyertai pengumuman skuad Socceroos bahwa pemerintah Crisafulli telah bergerak dan mengamankan laga-laga tersebut. Pernyataan itu jelas dimaksudkan agar publik mengingat peran pemerintah dalam mendatangkan tim sebesar Brasil ke wilayah mereka.

Perlu dicatat, lawatan Brasil ke Australia sebenarnya bukan hal yang sama sekali baru. Mereka terakhir bermain melawan Socceroos dan Argentina di Australia pada 2017, dan seharusnya kembali menghadapi Argentina di MCG pada 2022 jika La Albiceleste tidak membatalkan keikutsertaannya. Namun bagi Townsville, ini tetap menjadi momen pertama, mengingat Socceroos belum pernah sekalipun memainkan laga internasional senior di sana.

Daya Tarik Global Seleção dan Nilai Komersialnya

Brasil bukan hanya tim sepak bola, melainkan juga sebuah merek global yang magnetnya melampaui batas lapangan. Warisan lima gelar Piala Dunia, jumlah terbanyak di antara negara mana pun, menuntut rasa hormat tersendiri. Aura kaus yang pernah dikenakan nama-nama seperti Pelé, Sócrates, Roberto Carlos, Ronaldinho, Ronaldo, dan Neymar membuat setiap kehadiran mereka selalu punya bobot sejarah.

Vinícius, Raphinha, Marquinhos, dan rekan-rekannya kini adalah bintang dunia yang membawa daya tarik serupa, ditambah gaung joga bonito yang masih terasa hingga sekarang. Hal ini juga dibarengi reputasi akan suasana positif, orang-orang baik, dan niat baik yang menyertai mereka. Salah satu penggemar Brasil bahkan terlihat membawa replika trofi Piala Dunia saat menavigasi penerbangan sambungan dari bandara Brisbane menuju Townsville pada Kamis pagi.

Dari sisi komersial, rangkaian laga ini diprediksi menguntungkan bagi pihak Amerika Selatan. Dua pertandingan di Queensland, ditambah satu laga melawan India pada awal Oktober, menjadi paket yang menggiurkan. Status sebagai tim “tuan rumah” resmi di Queensland hanya menambah nilai jual tersendiri bagi mereka.

Titik Balik Brasil: Kekeringan Gelar dan Teori di Baliknya

Meski datang dengan segudang pesona, Brasil sebenarnya sedang berada dalam fase yang tidak nyaman. Dua laga di Queensland merupakan penampilan pertama mereka sejak kalah dari Norwegia di babak 16 besar Piala Dunia, yang menjadi eliminasi tercepat mereka sejak tersingkir oleh Argentina di Italia 90. Kekalahan itu memicu babak baru dalam pencarian jati diri bangsa yang posisinya di jajaran elit sepak bola dunia kian menyusut.

Jika mengacu pada 2030, saat itu akan genap 28 tahun sejak keberhasilan mereka di Jepang dan Korea Selatan pada 2002. Rentang itu menjadi periode tanpa gelar terpanjang sejak Brasil pertama kali menjuarai Piala Dunia pada 1958. Kesimpulannya cukup jelas, Brasil bukan lagi kekuatan dominan seperti dulu.

Ada banyak teori yang mencoba menjelaskan kemunduran ini, terlalu banyak untuk dibahas seluruhnya di sini. Salah satu hipotesis yang cukup diingat menyoroti menguatnya aliran Pentakostalisme gospel yang berorientasi pada kemakmuran dan individualisme, menggantikan peran Katolik di dalam tim. Teori lain menunjuk pada sulitnya menggelar laga melawan lawan-lawan Eropa yang kerap menyingkirkan mereka dari Piala Dunia setelah masuknya UEFA Nations League ke kalender, serta tur-tur berbayar melawan lawan yang dianggap lebih lemah yang digelar di luar negeri dan dinilai mengorbankan kedekatan dengan pendukung fanatik di dalam negeri.

Terlepas dari penyebabnya, Ancelotti ditugaskan untuk membalikkan keadaan dalam beberapa tahun mendatang. Yang membuat kisah ini menarik, perjalanan berat tersebut justru dimulai dari Townsville, kota yang bahkan tidak pernah punya wakil di kompetisi sepak bola nasional sejak 2011.

Dengan segala kejanggalannya, lawatan Brasil ke Queensland menyatukan banyak hal sekaligus: ambisi pemerintah negara bagian untuk mendatangkan event besar, perhitungan komersial dari pihak Brasil, keindahan warisan sepak bola Seleção, dan beban perjalanan panjang menuju pemulihan prestasi. Ancelotti memulai siklus Piala Dunia pertamanya bukan di stadion megah, melainkan di kota kecil yang lebih akrab dengan rugby league. Dan seperti yang ia sendiri tegaskan, bagi Brasil tidak akan pernah ada pertandingan yang benar-benar bisa disebut sekadar uji coba.