Christian Pulisic kini bukan lagi sosok yang menjadi titik fokus utama, baik di AC Milan maupun di tim nasional Amerika Serikat. Posisinya sebagai andalan lini serang perlahan tergeser, seiring performa yang tidak lagi setajam beberapa musim silam dan munculnya pemain-pemain muda yang siap mengambil alih peran tersebut. Pergeseran ini terasa jelas dalam laga Milan melawan Sassuolo akhir pekan lalu, ketika pelatih Ruben Amorim memilih menariknya keluar lebih awal.
Perubahan status ini menarik untuk dicermati karena Pulisic adalah salah satu wajah paling dikenal sepak bola Amerika Serikat selama satu dekade terakhir. Ia selalu diharapkan menjadi pembeda, baik ketika membela Milan maupun saat memperkuat Timnas AS. Namun setelah rentetan cedera dan persaingan yang semakin ketat, ia kini berada di fase baru kariernya, yaitu sebagai pemain veteran yang harus berjuang mendapatkan menit bermain, bukan lagi pilihan pertama yang tak terbantahkan.
Penampilan Pulisic dan Posisi Barunya di Milan
Dalam laga menghadapi Sassuolo, Pulisic diturunkan sebagai winger di sisi kanan, berada di bawah Gonçalo Ramos dalam skema serangan Milan. Sassuolo, yang sedang berkutat di papan tengah, tampak lebih memilih mengalirkan bola ke Diego Moreira ketimbang ke Pulisic. Setiap kali pemain asal Amerika Serikat itu menyentuh bola, pemain bertahan lawan langsung mengerumuninya, memaksanya melepas bola dengan cepat.
Menariknya, Pulisic justru sering turun ke area pertahanan untuk menciptakan keunggulan jumlah pemain. Ia tercatat sebagai pemain Milan dengan jarak tempuh terjauh pada babak pertama, yakni 5,3 kilometer. Meski begitu, kerja kerasnya tidak banyak menghasilkan peluang berbahaya. Ia tetap menjadi bagian penting dalam proses terciptanya satu-satunya gol Milan hari itu, dengan memberikan umpan sebelum assist Luka Modric.
Sayangnya, sampai menit ke-77, satu-satunya tembakan Pulisic berhasil diblok, dan satu peluang yang ia ciptakan digagalkan kiper lawan. Tidak ada gol maupun assist yang ia hasilkan pada laga tersebut. Statistik ini mempertegas tren yang kurang menggembirakan: Pulisic hanya menyumbang gol atau assist dalam empat dari 22 penampilan terakhirnya di Serie A.
Latar Belakang: Perjalanan Christian Pulisic di Milan dan Timnas AS
Pulisic bergabung dengan Milan pada Juli 2023 dan sejak itu mencatatkan 43 gol serta 25 assist dalam 138 penampilan. Mark Twain pernah menyebut Italia sebagai “museum keagungan dan kesengsaraan yang luas”, dan gambaran itu terasa cocok dengan perjalanan Pulisic bersama Milan. Angka-angka tersebut menunjukkan kontribusi yang tidak kecil, namun trofi yang ia raih sepanjang periode itu hanya satu, yakni Supercoppa Italia 2025 yang digelar di Arab Saudi.
Perjalanan di dunia internasional pun tidak selalu mulus. Biasanya, akhir pekan kedua Oktober diisi dengan laga persahabatan Timnas AS, seperti tahun lalu ketika Pulisic terlibat dalam pertandingan melawan Ekuador dan Australia. Namun tahun ini, FIFA menggabungkan jendela pertandingan Oktober ke September, sehingga Pulisic tidak mendapat kesempatan tersebut.
Pelatih Timnas AS, Mauricio Pochettino, membuka era baru dengan memilih 13 pemain muda potensial, tanpa menyertakan Pulisic yang baru pulih dari cedera. Keputusan itu menegaskan keinginan Pochettino membangun skuad dengan wajah-wajah baru, meski harus mengesampingkan nama besar. Ini menandai pertama kalinya dalam satu dekade sejak debutnya, posisi Pulisic di timnas berada dalam kondisi paling tidak pasti.
Cedera microfracture pada tulang kaki bagian bawah yang ia alami saat melawan Belgia di Piala Dunia musim panas lalu membuat awal musim keempatnya di Milan berjalan tidak mulus. Ia baru mencatatkan dua penampilan sebagai starter di liga. Kondisi ini jelas memengaruhi ritme dan kepercayaan dirinya di atas lapangan.
Persaingan dengan Alpha Cissè dan Generasi Muda
Pada 15 menit terakhir melawan Sassuolo, Amorim memilih opsi yang lebih muda: Pulisic ditarik keluar, Alpha Cissè masuk. Cissè, yang didatangkan dari Hellas Verona musim panas ini, langsung menjadi salah satu sorotan Milan. Pemain berusia 19 tahun itu dipuji Amorim sejak awal musim, bahkan saat Pulisic masih menjalani proses pemulihan cedera.
Dalam 242 menit bermain di liga, Cissè sudah mencetak dua gol. Sebagai perbandingan, Pulisic yang kini mengumpulkan 190 menit di bawah Amorim baru mencetak satu gol. “Saya menyukai Cissè. Saya menyukai Cissè,” puji sang pelatih pada akhir Agustus lalu.
Kondisi serupa juga terjadi di tim nasional. Pochettino memperkenalkan generasi muda saat Pulisic tetap berada di Italia, memberi debut kepada beberapa penyerang remaja yang haus kesempatan. Cavan Sullivan membuktikan kualitasnya dengan gol pembuka melawan Meksiko, sementara pemain sayap seperti Mathis Albert dan pemain baru Crystal Palace, Zavier Gozo, memulai perjalanan mereka memperkuat Timnas AS.
Dampak bagi Milan dan Timnas AS
Bukan berarti semua hal berjalan merugikan Pulisic. Pekan ini, Gazzetta dello Sport melaporkan bahwa ia menjadi salah satu dari tiga pemain kunci yang ingin diperpanjang kontraknya oleh klub di awal era Amorim. Ia juga masih memiliki rekam jejak untuk diandalkan, termasuk ketika menjadi top skorer Milan dengan 17 gol di semua kompetisi dua musim lalu.
“Saya hanya bisa mengatakan bahwa saya sangat bahagia di Milan saat ini dan untuk masa depan dekat juga,” ujar Pulisic dalam acara pertemuan penggemar di San Siro. “Jadi, ya, saya tidak memikirkan perpanjangan kontrak, tetapi saya sangat bahagia di sini. Saya ingin bertahan di Milan.”
Di timnas, performa Pulisic di bawah asuhan Pochettino juga belum memuaskan. Ia hanya mencetak satu gol sejak awal 2025, yaitu dalam laga persahabatan melawan Senegal. Penampilannya yang mayoritas kurang impresif di Piala Dunia tidak memperkuat posisinya di mata pelatih asal Argentina itu, yang enggan membahas situasi Pulisic secara langsung selama jeda internasional terakhir.
Namun, terlalu dini untuk menganggap karier Pulisic sudah berakhir. Ia tetap mampu menempuh jarak yang jauh di lapangan. Sentuhan-sentuhannya yang lebih menentukan masih bisa menciptakan ancaman, meski ia kerap terlihat ragu menentukan langkah terbaik. Setelah bertahun-tahun dijadikan fokus serangan oleh Milan dan khususnya Timnas AS, ia mungkin justru lebih berbahaya sebagai opsi pendukung dengan volume sentuhan yang lebih sedikit.
Konteks Lebih Luas dan Masa Depan Pulisic
Bagi tim nasional, kehadiran pemain muda yang terus berkembang bisa memberi Pulisic peran dengan tekanan lebih rendah. Sullivan tampak menikmati statusnya sebagai wajah baru program Timnas AS. Folarin Balogun juga telah melewati tekanan sebagai pencetak gol utama tim di Piala Dunia, dengan mencetak tiga gol dalam 316 menit.
Tanpa kehadiran Pulisic, Pochettino memanfaatkan posisi sayap kiri untuk memuat dua playmaker utamanya, Gio Reyna dan Malik Tillman. Mengingat rekam jejaknya di Milan, Pulisic masih bisa dipasang di sayap kanan, sekaligus menjadikan Sullivan sebagai alternatif yang berguna dari bangku cadangan. Artinya, posisinya di timnas bisa berubah menjadi pelengkap, bukan lagi pusat permainan.
Sepanjang kariernya, Pulisic selalu dibingkai dalam konteks Piala Dunia di kampung halaman sendiri. Turnamen 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko memang menjadi target besar baginya. Namun tekanan yang berlangsung bertahun-tahun itu bisa jadi justru membebani. Jika ia lepas dari ekspektasi tersebut, bukan tidak mungkin ia menemukan kembali performa terbaiknya, yang akan menguntungkan Milan maupun timnasnya.
Pergeseran peran Christian Pulisic di Milan dan Timnas AS mencerminkan dinamika alami dalam sepak bola: pemain muda terus datang, dan pemain veteran harus beradaptasi. Meski bukan lagi fokus utama, kontribusinya tetap penting, dan peluang untuk memperpanjang kontrak menunjukkan bahwa Milan masih mempercayainya. Pertanyaannya kini bukan apakah ia masih bisa bermain, melainkan bagaimana ia menempatkan diri di antara generasi baru.
Dengan Piala Dunia sudah berlalu dan performa yang masih perlu ditingkatkan, kita hanya bisa menunggu dan menyaksikan bagaimana ia menjawab tantangan tersebut. Apakah tekanan yang berkurang justru membebaskannya untuk kembali bersinar, atau ia akan perlahan tersisih oleh pemain-pemain yang lebih muda. Jawabannya baru akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan, baik di Serie A maupun di panggung internasional.
