Borussia Mönchengladbach Kalah Derby, Debut Pahit Blessin

Borussia Mönchengladbach harus menelan pil pahit pada laga debut pelatih baru mereka, Alexander Blessin, setelah takluk dari rival bebuyutan, Köln, dalam derby yang berlangsung sengit. Gol Saïd El Mala menjadi penentu kekalahan Gladbach, sekaligus menutup pekan yang seharusnya menjadi titik awal baru bagi klub berjuluk Die Fohlen itu. Hasil ini membuat Gladbach tetap terpaku di dasar klasemen Bundesliga tanpa satu pun poin dari lima pertandingan yang sudah dijalani.

Laga tersebut sebenarnya datang pada momen yang tepat. Jeda tiga minggu setelah awal musim yang menyesakkan memberi Blessin ruang untuk mengenal tim, dan derby melawan Köln menjadi kesempatan menguji fokus pasukannya. Namun kenyataannya tidak berjalan sesuai rencana, sehingga Blessin kini berada di titik yang persis sama dengan para pendahulunya, Eugen Polanski dan Jan-Moritz Lichte, yaitu merawat luka di awal pekan yang panjang.

Jalannya Derby: Detail Kecil yang Menentukan

Blessin tidak bisa menurunkan skuad terbaiknya di laga ini. Ia baru bertemu sejumlah pemain kunci beberapa hari sebelum bertandang ke Köln, sementara beberapa nama lain harus absen karena cedera. Franck Honorat masuk daftar cedera bersama striker Tim Kleindienst dan bek Ko Itakura, sehingga Blessin harus menyusun lini belakang dari pemain yang belum sepenuhnya menyerap prinsip pertahanannya.

Kekalahan ini memang menyakitkan, tetapi ada detail yang sering terlewat ketika menilai hasilnya. Gol indah Isak Johannesson dan gol kemenangan El Mala disebut sebagai pembeda, padahal banyak hal kecil lain yang menentukan jalannya pertandingan. Köln sendiri tampil tanpa dua penyerang mereka yang cedera, Ragnar Ache dan Thijs Dallinga, sehingga Gladbach sebenarnya beruntung tidak kebobolan lebih banyak.

Sisi Köln juga tidak lepas dari masalah. Gelandang kunci mereka, Ellyes Skhiri, harus diangkat dengan tandu pada babak pertama, dan daftar absen tuan rumah bahkan mencakup maskot kambing mereka, Hennes IX, yang dikarantina di kebun binatang kota akibat wabah flu burung. Meski begitu, Köln tidak ingin mendengar alasan apa pun dari rival mereka soal nasib sial.

Situasi Sulit yang Dihadapi Blessin di Borussia Mönchengladbach

Tugas Blessin bukan perkara mudah. Ia mengambil alih tim yang terpuruk di dasar klasemen, belum meraih poin, dan memiliki selisih gol minus 11 dari lima pertandingan. Tekanan bertambah karena kekalahan dalam derby selalu meninggalkan pekan yang terasa lebih panjang daripada biasanya, dengan sangat sedikit waktu untuk memulihkan kondisi fisik maupun mental para pemain.

Blessin dikenal lewat gaya permainan St Pauli yang tetap kompetitif meski beranggaran rendah. Ia ingin para beknya, khususnya, menyerap apa yang disebutnya sebagai instruksi frontal dalam prinsip bertahan, sebuah pendekatan disiplin yang membuat mantan timnya mampu bersaing di level lebih tinggi. Masalahnya, waktu untuk menanamkan prinsip itu sangat terbatas karena ia baru bergabung dan langsung dihadapkan pada laga sebesar derby.

Situasi di papan bawah juga tidak membantu. Union Berlin akhirnya meraih kemenangan melawan Elversberg, sehingga Gladbach kini benar-benar berada di posisi juru kunci tanpa poin. Artinya, perjalanan untuk naik dari kaki gunung tidak hanya curam, tetapi juga harus ditempuh tanpa banyak pemain bintang yang bisa menjadi pembeda.

Tanpa El Mala, Gladbach Diingatkan pada Kehilangan Besar

Köln punya sosok yang cocok untuk laga sebesar derby, dan itulah yang tidak dimiliki Gladbach. El Mala merupakan pemain timnas Jerman yang gayanya mengingatkan pada sepak bola era lama: liar, tak terkendali, membuat penonton bersemangat sekaligus kesal, tetapi pada akhirnya menentukan hasil pertandingan. Setelah kepindahannya ke Borussia Dortmund batal pada musim panas, statusnya berubah karena ia menjadi pemakai nomor punggung 10 pertama di klub sejak Lukas Podolski dan meneken perpanjangan kontrak.

Gol kemenangannya lahir dari gerakan khasnya, yaitu memotong dari sisi kiri dan melepaskan tembakan kaki kanan ke sudut jauh melewati Moritz Nicolas. Itu adalah gol pertamanya sejak hari pembukaan musim, setelah beberapa pekan yang ia akui berjalan berat. “Saya belum pernah sebersemangat ini untuk sebuah pertandingan,” ujarnya seusai laga, seraya menambahkan bahwa yang membedakannya adalah sikap tidak mau menyerah dan terus melangkah.

Catatan statistiknya memperkuat reputasi tersebut. Sebagai remaja, El Mala mencetak 13 gol dalam 20 penampilan sebagai starter di liga pada musim lalu, dan kini ia sudah menjadi pemain timnas Jerman penuh yang bersedia memikul tanggung jawab tim di pundaknya.

Bagi Gladbach, duka atas kekalahan ini bertambah karena mereka sadar tidak punya pemain seperti El Mala. Dalam beberapa tahun terakhir mereka kehilangan banyak nama penting, terutama Marcus Thuram, Jonas Hofmann, dan Rocco Reitz, sementara buruknya pengelolaan klub menjadi rahasia umum. Blessin mungkin bukan pelatih yang diimpikan para pendukung Gladbach, tetapi di era dengan sumber daya terbatas seperti sekarang, ia kemungkinan adalah pilihan yang tepat untuk saat ini.

Freiburg Masih di Puncak, Dortmund dan Bayern Kehilangan Poin

Freiburg terus memimpin klasemen, bahkan menambah keunggulan meski bermain dengan 10 orang untuk sebagian babak kedua melawan Schalke. Gol sundulan Kaisuke Goto pada menit ke-85 lahir dari kombinasi dua pemain pengganti, dengan Vincenzo Grifo mengirim umpan silang sempurna. Matthias Ginter menilai situasinya belum terasa istimewa karena musim baru saja dimulai, sebuah komentar yang justru menunjukkan ambisi Freiburg meningkat di bawah asuhan Julian Schuster.

Dortmund sama frustrasinya. Setelah unggul 2-0 atas rival tradisional Werder Bremen hingga menit ke-88, BVB kehilangan rekor kemenangan 100 persen karena gol penyama kedudukan di masa injury time dari mantan striker mereka, Niclas Füllkrug, yang mencetak gol untuk keempat laga berturut-turut. Füllkrug tetap merayakan golnya, tetapi ia menegaskan kepada Sky bahwa ia mencetak gol untuk timnya, bukan melawan mereka. Pelatih Niko Kovac menyebut timnya harus menyalahkan diri sendiri, meskipun sebagian besar kemarahannya di konferensi pers diarahkan kepada wasit Bastian Dankert yang menganulir gol Ethan Nwaneri.

Bayern juga melepas poin, bahkan setelah dua kali tertinggal pada lawatan singkat ke Augsburg. Tuan rumah mencetak gol tercepat dalam sejarah Bundesliga, yaitu saat laga baru berjalan 8,4 detik, melalui Robin Fellhauer yang menghalau bola hasil clearance Manuel Neuer lalu menyelesaikannya. Di usia 40 tahun, ini bukan catatan sejarah yang diinginkan sang kiper, dan pembahasan soal bagaimana Vincent Kompany mengelola transisi menuju Jonas Urbig sebagai kiper nomor satu kembali menghangat. Harry Kane mengassist dua gol untuk Ismaël Saibari dan Nathaniel Brown, meski Bayern punya peluang cukup untuk memenangi dua pertandingan sekaligus.

Nkunku Bersinar, Leverkusen dan Hoffenheim Masih Rapuh

Yang menarik, Christopher Nkunku kini memiliki gol Bundesliga lebih banyak daripada Kane setelah mencetak hat-trick dalam kemenangan 6-0 RB Leipzig atas Eintracht Frankfurt. Leipzig sudah unggul dua gol dalam lima menit dan Nkunku menuntaskan hat-trick sebelum jeda, sementara masalah pertahanan Frankfurt berlanjut meski Adi Hütter sudah kembali. Hütter tidak menahan kritik terhadap kapten Robin Koch setelah menariknya saat jeda, dan Koch mengakui bahwa penampilan mereka buruk sekali.

Bayer Leverkusen meraih kemenangan tandang pertama musim ini di markas Mainz, tetapi tidak membuat segalanya mudah bagi diri sendiri. Setelah sempat unggul dua gol, mereka membiarkan keunggulan itu hilang, lalu kembali memimpin 4-2, sebelum akhirnya kebobolan gol telat Benedict Hollerbach yang membuat laga menegangkan hingga akhir. Gol pertama Moussa Diaby sejak kembali ke klub ternyata menjadi penentu kemenangan, sementara Patrik Schick menyamai catatan Stefan Kießling dan Dimitar Berbatov dengan mencetak gol di lima pertandingan pertama sebuah musim Bundesliga.

Hoffenheim melanjutkan awal musim yang sulit. Mereka membuang keunggulan 2-1 melawan Hamburg di menit-menit akhir, kalah oleh penyelesaian dahsyat Miro Muheim pada menit keempat masa injury time setelah Bernardo mendapat kartu merah. Setelah kalah empat dari lima laga liga dan takluk di kandang OFI Crete di Liga Europa, Christian Ilzer dan timnya kini menghadapi Besiktas pada Kamis sebelum lawatan yang tiba-tiba menjadi sangat penting ke markas Gladbach.

Klasemen Sementara Bundesliga

Peta persaingan di pekan kelima memperlihatkan kontras yang tajam antara tim-tim papan atas dan Gladbach. Freiburg memimpin dengan 13 poin, disusul Dortmund yang mengumpulkan angka sama tetapi kalah selisih gol. Di sisi lain, Gladbach masih menjadi satu-satunya tim yang belum meraih poin sama sekali.

  • 1. Freiburg – 5 main, selisih gol +10, 13 poin
  • 2. Borussia Dortmund – 5 main, +7, 13 poin
  • 3. Bayern Munich – 5 main, +12, 11 poin
  • 4. Bayer Leverkusen – 5 main, +6, 10 poin
  • 5. RB Leipzig – 5 main, +10, 9 poin
  • 6. Augsburg – 5 main, +5, 8 poin
  • 7. Werder Bremen – 5 main, 0, 8 poin
  • 8. Mainz – 5 main, +3, 7 poin
  • 9. Elversberg – 5 main, 0, 7 poin
  • 10. Köln – 5 main, -2, 7 poin
  • 11. Stuttgart – 5 main, -1, 6 poin
  • 12. Hamburg – 5 main, -10, 6 poin
  • 13. Schalke 04 – 5 main, -2, 5 poin
  • 14. Eintracht Frankfurt – 5 main, -7, 5 poin
  • 15. Paderborn – 5 main, -4, 4 poin
  • 16. Union Berlin – 5 main, -12, 4 poin
  • 17. Hoffenheim – 5 main, -4, 3 poin
  • 18. Borussia Mönchengladbach – 5 main, -11, 0 poin

Langkah Selanjutnya bagi Gladbach dan Köln

Kekalahan di derby membuat awal karier Blessin berjalan jauh dari ideal. Ia belum sempat membangun tim sesuai keinginannya, harus kehilangan beberapa pemain penting karena cedera, dan kini menghadapi tugas berat mengangkat Gladbach dari dasar klasemen tanpa diperkuat banyak pemain bintang. Yang dibutuhkan bukan sekadar perubahan taktik cepat, melainkan kesabaran sekaligus hasil konkret dalam waktu dekat.

Di sisi lain, Köln mendapat dorongan moral besar dari kemenangan derby ini, meski mereka juga harus waspada karena Skhiri mengalami cedera dan ditarik keluar pada babak pertama. Duel antara Hoffenheim dan Gladbach pada pekan berikutnya pun mendadak menjadi laga yang krusial bagi kedua tim, terutama bagi Gladbach yang masih mencari titik terang di musim yang baru berjalan lima pekan ini.