Unai Simón: Kiper Terbaik Dunia dan Pahlawan Derby Basque

Unai Simón membuktikan statusnya sebagai kiper terbaik dunia dengan cara yang nyaris sempurna. Hanya beberapa hari setelah menerima Lev Yashin Trophy di London, ia kembali ke San Mamés dan menjadi pahlawan kemenangan 2-1 Athletic Club atas Real Sociedad dalam Derby Basque ke-197. Penyelamatan-penyelamatan pentingnya, terutama pada menit ke-72, membuat stadion yang dijuluki Katedral itu bergemuruh dan mengubah pertandingan menjadi malam yang tak terlupakan.

Malam itu bukan sekadar soal trofi atau tiga poin. Ada konteks yang lebih dalam: Simón baru saja diakui sebagai penjaga gawang terbaik pria di dunia, lalu ia tampil di hadapan publiknya sendiri dalam laga paling penuh identitas di Spanyol. Sebelum kickoff ia mendapat standing ovation, dan di tengah pertandingan ovasi itu kembali terjadi setelah penyelamatan krusialnya. Athletic Club dan Real Sociedad terlibat dalam rivalitas yang sarat sejarah, sementara pelatih Edin Terzic dan para pendukung menyaksikan bagaimana seorang pemain bisa menyatukan prestasi individu dengan momen kolektif.

Penyelamatan Spektakuler Unai Simón di Menit 72

Laga berjalan ketat dan Athletic memimpin 2-1 ketika Real Sociedad menekan keras. Pada menit ke-72, Carlos Soler melepaskan tembakan yang tampak akan menjadi gol penyama kedudukan, tetapi Simón terbang untuk menepisnya. Bola memantul dari telapak tangannya, San Mamés meledak, dan momen itu segera berubah menjadi sesuatu yang lebih besar dari sekadar penyelamatan biasa.

Di stadion yang dikenal sebagai Katedral itu, 50.092 penonton mulai bertepuk tangan dan tidak berhenti untuk satu menit atau lebih. Mereka seakan melupakan sejenak bahwa Athletic masih harus mempertahankan keunggulan satu gol dan menghadapi tekanan Real Sociedad selama 25 menit tersisa. Ovation itu bukan hanya apresiasi atas aksi heroik, melainkan pengakuan terhadap sosok yang selama ini dianggap bagian dari keluarga klub.

Penyelamatan tersebut hanyalah satu dari empat aksi gemilang Simón pada laga itu. Pada babak pertama, setelah Luka Sucic menyamakan kedudukan menjadi 1-1, ia menepis peluang Ander Barrenetxea pada menit 33, Sucic pada menit 34, dan Mikel Oyarzabal pada menit 38. Ia bahkan membuat jantung penonton berdegup kencang ketika pada menit 40 menggoyangkan bahu dan menggiring bola melewati Oyarzabal, sebelum kembali menjadi penentu pada menit 72.

Gol Iñaki Williams dan Álex Berenguer memberi Athletic kemenangan 2-1, sekaligus mengakhiri rentetan empat kemenangan derby Real Sociedad. Gol pembuka tercipta dari kerja sama dua Williams: Nico melepas Iñaki, yang menyelesaikannya dengan baik. Namun sorotan utama tetap tertuju pada Simón, yang tampil sebagai pemain terbaik laga dengan selisih kualitas yang jelas. Terzic bahkan menegaskan bahwa pertanyaan tentang trofi kiper terbaik dunia kini sudah terjawab oleh penampilan di lapangan.

Jalan Berliku Menuju San Mamés

Simón bukanlah kiper yang tiba di Athletic dengan jalan mulus. Ia bergabung dengan klub pada usia 14 tahun dan kini menjalani musim kesembilan bersama tim utama. Pada musim panas 2018, ketika berusia 21 tahun dan masih menjadi pilihan keempat, ia dipinjamkan ke Elche untuk mencari menit bermain.

Situasi berubah karena serangkaian peristiwa di Athletic. Chelsea merekrut Kepa Arrizabalaga, Iago Herrerín mengalami cedera, dan negosiasi perpanjangan kontrak dengan Álex Remiro mandek; Athletic bahkan menolak memainkan Remiro dan akhirnya kehilangan kiper itu ke Real Sociedad. Manajemen lalu menghubungi Elche untuk meminta Simón kembali. Ia belum pernah tampil dalam pertandingan kompetitif untuk Elche, tetapi dalam tiga hari ia sudah menjalani debut bersama Athletic.

Sejak itu, Simón telah tampil hampir 300 kali untuk Athletic dan mengaku tidak ingin berada di tempat lain. Ia menyebut awal kariernya tidak selalu mudah, dengan masa-masa sulit yang harus dilalui. “Terkadang kau butuh keberuntungan; itu keberuntunganku,” katanya, seperti dikutip dalam artikel tersebut.

Pidato 491 Kata dan Trofi Yashin

Pada Senin malam, Simón terbang dari Bilbao ke London dengan pesawat Vueling untuk menghadiri upacara Ballon d’Or. Sebagai juara Piala Dunia dan pemecah rekor turnamen, ia tahu ada peluang memenangkan penghargaan kiper. Selama beberapa pekan, ia memikirkan apa yang akan dikatakan, merapikan gagasannya setiap pagi saat berkendara ke Lezama, tempat latihan yang ia datangi hampir setiap hari selama 15 tahun.

Ketika akhirnya berdiri di panggung London Palladium, Simón menyampaikan pidato tanpa catatan selama dua menit 21 detik. Pidato itu terdiri dari 491 kata, disampaikan dengan suara mantap dan mata yang berbinar. Ia berterima kasih kepada cuadrilla, sahabat seumur hidup yang masih ada dan sering mengolok-oloknya; kepada pasangannya yang ia sebut “oasis ketenangan”; kepada orang tuanya; kepada para kiper yang berbagi pengalaman Piala Dunia; serta kepada teman-temannya seperti Óscar De Marcos, Iñigo Lekue, dan Gorka Guruzeta.

Ia juga memberi penghormatan kepada José Ángel Iribar, kiper legendaris Athletic yang patungnya berdiri di luar San Mamés dan yang kehadirannya terasa di seluruh stadion, termasuk melalui kostum hitam yang dikenakan tim sebagai penghormatan. Simón menyebut Koldo Asua, pelatih yang mengingatkannya saat tiba di Bilbao untuk meninggalkan ego dan memahami bahwa warisan sebagai manusia lebih penting daripada trofi. Pidato itu ditutup dengan kalimat “Eskerrik asko denoi”, terima kasih untuk semua, dan diterima dengan hangat oleh publik Spanyol. Bagi banyak orang, pidato itu terasa sempurna karena menampilkan keaslian yang jarang muncul di panggung sepak bola.

Derby Basque dan Simbol Ikurriña

Derby Basque bukanlah laga biasa karena ia menyangkut identitas, rasa memiliki, dan tradisi. Pada edisi ke-197 ini, ada momen simbolik yang menambah bobot pertandingan: peringatan 50 tahun salah satu momen derby paling ikonik. Pada 1976, kapten Inaxio Kortabarria dan Iribar berjalan bersama di Atotxa sambil membawa Ikurriña, bendera Basque yang saat itu masih ilegal.

Pada Minggu, Kortabarria yang kini berusia 76 tahun dan Iribar yang berusia 83 tahun kembali memimpin jalan keluar. Mereka mendapat guard of honour dan membawa Ikurriña, sementara bendera asli yang dijahit oleh saudara perempuan José Angel de la Hoz Uranga dari Real Sociedad dan diselundupkan ke stadion menunggu dalam bingkai di garis tengah. San Mamés, dengan kaus biru-putih di antara merah, memberi tepuk tangan kepada mereka.

Simón mengikuti Iribar keluar dan juga mendapat guard of honour. Oyarzabal, Remiro, dan para pemain lawan ikut bertepuk tangan untuknya, sementara para kiper akademi Athletic mengenakan kaus hitam dengan nomor punggung 1 dan memegang spanduk raksasa bertuliskan “Unique in the team”. Setelah laga usai, para pemain dan pendukung menyanyikan “Txoria txori” karya Mikel Laboa bersama-sama, lagu tentang kebebasan yang membuat Simón merasa bangga karena mereka mengidentifikasi diri dengan tim ini.

Warisan di Ruang Ganti dan Akademi

Di balik aksi-aksinya, Simón dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan dekat dengan rekan-rekan. Ia menyebut lima hari setelah Athletic memenangkan Copa del Rey 2024 sebagai hari-hari terbaik dalam hidupnya, bahkan lebih membahagiakan daripada momen setelah menjuarai Piala Dunia. Saat itu ia tidak bermain di final; ia berada di bangku cadangan dan membimbing Julen Agirrezabala, kiper pengganti yang dipercaya di laga piala, melewati adu penalti yang mengantar Athletic meraih satu-satunya trofi besar dalam 40 tahun.

Pada musim yang sama, Simón memenangkan Trofi Zamora sebagai kiper terbaik La Liga, yang pertama bagi Athletic dalam 50 tahun sejak Iribar. Pelatih Ernesto Valverde menekankan bahwa penghargaan itu penting bagi klub, bukan hanya bagi pemain. Ketika menjuarai Euro 2024 bersama Spanyol, Simón melihat dampaknya bagi anak-anak akademi: mereka bisa melihat bahwa seorang pemain bisa bertahan di klub seperti Athletic tanpa harus pergi.

Pesan itu juga ia sampaikan kepada sahabatnya, Mikel Oyarzabal dari Real Sociedad, sosok yang mirip dengannya: pendiam bahkan saat sukses, terutama saat sukses. Kini Simón telah dinobatkan sebagai kiper terbaik dunia, dan ovasi di San Mamés menjadi penutup pekan yang akan selalu menjadi miliknya. Ia pernah lama dipertanyakan, tetapi sekarang ia dipeluk oleh publiknya sendiri.

Dampak bagi Athletic dan Panggung yang Lebih Besar

Kemenangan 2-1 ini mengakhiri empat kemenangan beruntun Real Sociedad dalam derby. Bagi Athletic, tiga poin itu penting untuk menjaga posisi di papan tengah atas; dalam tabel yang tercantum, mereka berada di peringkat ketujuh dengan 15 poin dari 10 laga, sementara Real Sociedad di peringkat kelima dengan 19 poin dari 11 laga. Namun bagi Simón, dampaknya lebih personal: ia memilih malam terbesar dalam kariernya untuk tampil mungkin paling lengkap.

Media Spanyol memberinya pujian tinggi. Sport menyebutnya “enormous”, sementara El Mundo Deportivo menyebutnya “gigantic”. Bahkan Jon Aramburu dari Real Sociedad, yang masih marah karena penalti yang dinilai dilakukannya terhadap Nico Williams dan berujung gol Berenguer, mengakui: “Itulah sebabnya ia memenangkan trofi.” Wasit pun menyebut laga itu sebagai derby khas: keras tetapi tetap mulia.

Pelatih Edin Terzic menegaskan bahwa Athletic sudah tahu kualitas Simón, dan sekarang tidak ada lagi keraguan. “Jika ada yang masih bertanya tentang trofi itu, pertanyaan itu bisa dikesampingkan sekarang,” katanya. Ia juga menyebut Simón sebagai kiper terbaik di dunia, sebuah penilaian yang terasa wajar setelah penampilan di San Mamés.

Pekan Simón dimulai dengan trofi Lev Yashin di London dan berakhir dengan ovasi di San Mamés, dua momen yang saling melengkapi. Penyelamatan pada menit ke-72 menjadi simbol bagaimana pengakuan individu bertemu dengan cinta publik klub, bukan sekadar sorotan media. Dalam derby yang penuh sejarah, ia tampil sebagai pemain paling menentukan sekaligus sosok yang dirayakan sebagai bagian dari identitas Athletic.

Bagi Athletic, kemenangan atas Real Sociedad adalah hasil penting yang mengakhiri tren buruk di derby. Bagi Simón, malam itu menegaskan bahwa trofi kiper terbaik dunia bukanlah akhir cerita, melainkan pengakuan atas perjalanan panjang dari Elche hingga menjadi pilar di San Mamés. Setelah lama dipertanyakan, ia kini dipeluk oleh publiknya sendiri, tepat pada pekan yang akan selalu menjadi miliknya.