Krisis timnas Korea Selatan mencuat ke permukaan setelah seorang politikus membongkar persoalan internal skuad di ruang parlemen. Son Heung-min, ikon sepak bola negara itu, disebut tidak lagi dipanggil dengan namanya oleh sebagian rekan setim, melainkan dengan sebutan “Nomor 7” atau “orang itu”. Pernyataan tersebut membuat persoalan yang sebelumnya hanya menjadi rumor di kalangan penggemar berubah menjadi pembicaraan nasional yang serius.
Kegaduhan ini bukan tanpa sebab. Kurang dari 18 bulan sebelumnya, Son masih mengangkat trofi Liga Europa bersama Tottenham Hotspur, lalu memutuskan pindah ke Los Angeles FC di Major League Soccer. Perpindahan itu disebut-sebut sebagai persiapan menuju Piala Dunia 2026. Namun, turnamen tersebut berakhir buruk bagi Korea Selatan, dan sejak itu federasi serta timnas dilanda gejolak yang saling bertumpuk.
Krisis Timnas Korea Selatan Terbongkar di Parlemen
Pada 21 Oktober, dalam rapat komite parlemen, anggota dewan Jeong Yeon-wook melontarkan pertanyaan kepada pelaksana tugas presiden Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA), Lee Yong-soo. Ia menanyakan siapa pemain yang belakangan dipanggil dengan sebutan “Nomor 7” atau “orang itu” di dalam skuad. Lee balik bertanya apakah yang dimaksud adalah Son Heung-min, dan Jeong menegaskan bahwa informasi itu tampaknya benar. Ia juga menyebut bahwa kepemimpinan timnas memicu perpecahan dan telah rusak secara keseluruhan. Lee memilih tidak berkomentar.
Pernyataan itu bukan satu-satunya masalah. Sebelumnya, Piala Dunia 2026 menjadi mimpi buruk bagi Korea Selatan. Tim tersingkir di fase grup, dan para pemain melakukan boikot media setelah sejumlah wartawan tanpa nama mencemooh Son karena belum menjalani wajib militer. Pada laga terakhir melawan Afrika Selatan, Son bahkan memulai pertandingan dari bangku cadangan. Kekalahan itu menjadi puncak dari rangkaian hasil buruk yang membuat publik marah.
Setelah turnamen, pelatih Hong Myung-bo dan presiden KFA Chung Mong-gyu mengundurkan diri. Keduanya kemudian dipanggil untuk diperiksa oleh anggota parlemen, dan kantor KFA digerebek polisi. Semua pihak sepakat bahwa musim panas itu merupakan periode terburuk bagi sepak bola Korea. Namun, kesepakatan itu rupanya tidak berlanjut pada kesimpulan bersama tentang apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana memperbaikinya.
Akar Masalah: Hierarki Senior-Junior dan Pergeseran Generasi
Persoalan di timnas Korea Selatan bukan sekadar soal taktik atau hasil pertandingan. Negara itu menganut budaya hierarki ketat, di mana pemain yang lebih muda harus berbicara dengan hormat kepada rekan yang lebih tua, bahkan jika selisih usia hanya satu tahun. Guus Hiddink pernah melihat ini sebagai hambatan ketika tiba sebagai pelatih timnas pada 2001. Ia memaksa para pemain duduk bersama saat makan agar pemain muda berani memberi instruksi kepada senior di lapangan.
Ketegangan serupa pernah muncul pada Asian Cup 2024. Saat itu, Son terlibat perselisihan dengan sejumlah pemain muda, termasuk bintang muda Lee Kang-in, dalam insiden yang disebut dipicu oleh permainan tenis meja. Insiden tersebut membuat jari kapten timnas itu mengalami dislokasi. Lee dan Son segera berbaikan, tetapi masalah kali ini tampak lebih serius dan lebih luas.
Menurut berbagai laporan, kelompok pemain kelahiran 1996 kini tidak puas dengan arah kepemimpinan tim. Kim Min-jae dari Bayern Munich, Hwang In-beom dari FC Porto, dan Hwang Hee-chan yang kini bermain untuk Schalke 04 setelah sebelumnya memperkuat Wolverhampton Wanderers, disebut menginginkan awal baru. Mereka menghendaki kapten baru dan pelatih kepala baru setelah Piala Dunia. Keinginan itu menunjukkan bahwa persoalan bukan hanya soal siapa yang memakai ban kapten, tetapi juga soal arah dan budaya tim.
Dampak ke Performa dan Persiapan Menuju Asian Cup
Ketidakpastian di tubuh timnas mulai terasa di lapangan. Setelah bermain imbang 0-0 melawan Venezuela pada 2 Oktober, Hwang In-beom mengaku lelah secara fisik dan mental. Ia menyebut sudah sekitar sembilan tahun bergabung dengan timnas dan banyak hal yang perlu diubah, baik dalam sepak bola maupun di luar lapangan, tetapi perubahan itu belum terjadi. Pada waktu yang hampir bersamaan, Kim Min-jae mengeluhkan rekan-rekan yang tidak berjuang maksimal. Ia menilai semua pemain harus bertarung bersama, terutama para bek yang ia rasa kurang mendapat dukungan.
Menjelang akhir jendela pertandingan, muncul laporan bahwa ketiga pemain tersebut siap meninggalkan timnas sebelum dibujuk oleh seorang pejabat KFA untuk tetap bertahan. Laporan itu tidak dibantah oleh asosiasi. Sementara itu, federasi masih belum memiliki presiden tetap, dan Robert Moreno ditunjuk sebagai pelatih interim pada September hingga akhir November. Kondisi ini membuat timnas berada dalam masa transisi yang tidak menentu.
Asian Cup menjadi ujian berikutnya. Turnamen itu dijadwalkan bergulir pada 7 Januari, dan Korea Selatan belum pernah menjuarainya sejak 1960. Dengan persiapan yang terganggu, pelatih sementara, serta konflik internal yang belum tuntas, peluang tim untuk mengakhiri puasa gelar menjadi semakin rumit. Penggemar pun mulai frustrasi karena pernyataan yang beredar terkesan samar dan tidak ada pihak yang benar-benar menjelaskan akar masalah serta solusinya.
Sebagian penggemar menduga ada wartawan yang sengaja memanaskan situasi sebagai balasan atas boikot media di Piala Dunia. Terlepas dari dugaan itu, kenyataan bahwa konflik ini sampai dibahas di parlemen menunjukkan bahwa dampaknya telah melampaui batas lapangan hijau. Citra timnas sebagai simbol kebanggaan nasional sedang dipertaruhkan, dan publik menuntut transparansi serta kepemimpinan yang jelas.
Bayang-bayang Ronaldo dan Masa Depan Son Heung-min
Di usia 34 tahun, Son memang tidak lagi berada di level puncak sebagai penyerang. Meski begitu, momen-momen hebat masih ia tunjukkan. Pada 6 Oktober, ia mencetak gol melalui tendangan bebas melawan Uzbekistan, yang menjadi gol internasionalnya ke-59 dan terbanyak sepanjang sejarah pemain Korea Selatan. Namun, perdebatan tentang peran terbaiknya di timnas terus berkembang, dari sekadar soal posisi sayap atau tengah, kini merambat ke pertanyaan apakah ia masih layak menjadi starter.
Berbeda dari Cristiano Ronaldo, yang dikenal bertahan di timnas hingga akhir karier dan kerap menyampaikan pernyataan panjang, Son tampaknya tidak akan mengikuti pola serupa. Peluang tampil di Piala Dunia 2030 dinilai kecil, tetapi membawa Korea Selatan menjuarai Asian Cup bisa menjadi warisan yang layak. Turnamen itu sendiri masih menyisakan ketidakpastian, karena ada kemungkinan ditunda hingga 2028 akibat serangan Houthi di Arab Saudi.
Penundaan bisa menjadi berkah tersembunyi untuk menyatukan tim yang terpecah, tetapi juga berpotensi memperburuk keadaan yang sudah genting. Dengan waktu yang ada, federasi perlu segera menuntaskan transisi kepemimpinan dan merangkul semua generasi pemain. Jika tidak, konflik yang terus berlarut akan menggerus peluang Korea Selatan untuk kembali bersaing di level tertinggi.
Krisis timnas Korea Selatan bukan hanya tentang hasil buruk di Piala Dunia atau kegagalan taktik. Ini adalah soal budaya hierarki, kepemimpinan yang lemah, dan transisi generasi yang tidak dikelola dengan baik. Son Heung-min berada di pusat pusaran, sebagai simbol generasi lama yang dihormati tetapi juga dipertanyakan.
Asian Cup akan menjadi cermin seberapa cepat federasi dan tim mampu berbenah. Publik Korea Selatan layak mendapatkan penjelasan yang jujur dan solusi yang konkret, bukan sekadar pernyataan samar yang meninggalkan teka-teki. Tanpa itu, sepak bola Korea Selatan akan terus berjalan di persimpangan tanpa arah yang jelas.
