Charlie Cresswell: Ambisi Ligue 1 dan Mimpi Timnas Inggris

Charlie Cresswell bukan nama yang asing bagi pencinta sepak bola Inggris, tetapi kariernya kini justru berkembang di Ligue 1. Bek tengah berusia 24 tahun itu meninggalkan Leeds United untuk bergabung dengan Toulouse pada 2024, lalu pindah ke Rennes pada musim panas lalu. Bersama Rennes, ia bersiap menghadapi Juventus di Liga Europa dan mengejar mimpi membela tim nasional Inggris.

Keputusan Cresswell meninggalkan Inggris memang tidak sederhana. Ia tumbuh di lingkungan sepak bola Leeds, punya ayah yang pernah menjadi pesepakbola profesional, dan sudah menjadi bagian klub sejak usia 10 tahun. Namun minimnya menit bermain membuatnya sadar bahwa ia harus mencari pengalaman di luar negeri jika ingin kariernya terus naik.

Charlie Cresswell dan Keputusan Besar Meninggalkan Leeds

Bagi Cresswell, hijrah ke Prancis adalah langkah paling berat dalam kariernya. Ia menyebut keputusan meninggalkan Inggris sebagai hal yang menakutkan karena ia tidak pernah membayangkan bermain di luar negeri. Ayahnya, Richard, membangun karier sebagai pesepakbola di Inggris, sementara saudaranya, Alfie, sempat meniti jalan melalui akademi Leeds.

Cresswell sendiri pernah berada di pinggiran tim utama Leeds ketika peluang bergabung dengan Toulouse muncul pada 2024. Ia telah menjadi pendukung Leeds sejak usia delapan tahun dan menghabiskan masa kecil di klub tersebut. Namun pada usia 20 tahun, ia belum mendapatkan cukup banyak kesempatan bermain sehingga merasa perlu keluar.

Pilihan itu tidak serta-merta membalikkan keadaan. Sebelumnya, masa peminjaman di Millwall pada 2022-23 tidak memberinya jalan masuk ke tim utama Leeds. Cresswell hanya mencatat 14 penampilan bersama Leeds, dan angka itu menjelaskan mengapa ia ingin mencari tantangan baru.

Ia bahkan sempat memiliki peluang di Inggris, tetapi memilih Prancis. Menurut Cresswell, keputusan tersebut ia ambil setelah mempertimbangkan banyak hal, termasuk diskusi dengan pasangannya. Ia tidak ingin sekadar bertahan di zona nyaman; ia ingin bermain secara rutin dan membangun karier.

Dari Toulouse ke Rennes: Langkah Naik dengan Ekspektasi Lebih Tinggi

Toulouse bukan tujuan sembarangan bagi pemain muda. Klub itu dikenal sebagai tim Prancis yang mengandalkan pendekatan berbasis data, mirip dengan cara Brighton bekerja di Inggris. Ketertarikan Toulouse terhadap Cresswell menjadi tanda bahwa ada kualitas yang mereka lihat dari bek tengah tersebut.

Di Toulouse, Cresswell menjadi pilar utama. Dari 68 pertandingan yang mungkin ia jalani di Ligue 1, ia menjadi starter 57 kali dalam dua musim. Konsistensi itu membuatnya pindah ke Rennes pada musim panas lalu dengan status pemain yang lebih matang.

Rennes memiliki ambisi berbeda dari Toulouse. Jika Toulouse nyaman berada di papan tengah, Rennes menargetkan posisi Liga Champions dan menuntut timnya menang lebih sering. Cresswell menilai ekspektasi tersebut penting untuk langkah berikutnya karena ia ingin terus berkembang di usia 24 tahun.

Ia juga ingin merasakan bermain di kompetisi Eropa dan belajar menang di bawah tekanan. Bagi Cresswell, pengalaman itu diperlukan jika ingin mencapai level tertinggi. Rennes dianggapnya sebagai tempat yang tepat untuk tumbuh, bukan sekadar singgah.

Ujian Juventus dan Peluang Menembus Timnas Inggris

Rennes akan menghadapi Juventus pada Kamis, dan laga itu disebut sebagai pertandingan terbesar dalam karier Cresswell. Rennes sendiri belum terkalahkan di Liga Europa dengan satu kemenangan dan satu hasil imbang. Cresswell tidak ingin membatasi target timnya dan bahkan menyebut Rennes bisa memenangi kompetisi.

Pertandingan melawan Juventus menjadi panggung penting bagi bek tengah yang tampil baik di Ligue 1, terutama saat melawan Paris Saint-Germain musim ini. Jika mampu menjaga performa di level Eropa, ia bisa membangun reputasi yang lebih luas. Peluang masuk pembicaraan timnas Inggris pun terbuka.

Cresswell tidak pernah menyembunyikan ambisinya. Sejak kecil, ia bermimpi membela tim nasional Inggris, dan ia percaya satu-satunya cara adalah terus bekerja. Ia juga menyebut dua kali meraih gelar juara Eropa bersama tim U21 Inggris sebagai pengalaman berharga.

Ada sejumlah contoh yang memberinya harapan. Jarell Quansah bermain di Bayer Leverkusen, Trevoh Chalobah memperkuat Como, dan Angel Gomes mendapat debut bersama Inggris saat masih di Lille. Ethan Nwaneri juga sempat berlatih dengan skuad Inggris meski menjalani masa pinjaman yang sulit di Marseille. Ligue 1 memang punya reputasi sebagai liga tempat pemain muda berkembang, dan Cresswell mengaku telah berkembang pesat sejak pindah ke Prancis.

Belajar dari Esteban Lepaul dan Menikmati Perjalanan

Di Rennes, Cresswell mendapat tekanan positif dari rekan setimnya, Esteban Lepaul. Penyerang itu menjadi top skor Ligue 1 musim lalu dan kembali memimpin daftar pencetak gol pada musim ini. Lepaul juga baru mendapatkan caps pertamanya untuk timnas Prancis.

Cresswell menjuluki Lepaul sebagai Jamie Vardy versi Prancis. Julukan itu merujuk pada perjalanan Lepaul yang sempat keluar dari akademi Lyon, bermain di sepak bola amatir pada usia pertengahan 20-an, lalu kembali ke level atas. Menurut Cresswell, Lepaul selalu siap memanfaatkan peluang dan memiliki tendangan yang sangat keras.

Soal peluang Rennes menantang gelar, Cresswell memilih tidak melihat terlalu jauh. Ia lebih memikirkan pertandingan berikutnya dan bagaimana tim bisa tampil maksimal. Ia tidak ingin terjebak memikirkan posisi akhir musim karena hal itu bisa mengurangi kenikmatan menjalani proses.

Bagi Cresswell, bagian menyenangkan dari sepak bola adalah perjalanan itu sendiri: latihan setiap hari, pertandingan, dan berada di sekitar para pendukung. Ia menilai banyak orang terlalu terobsesi pada tujuan akhir sehingga lupa menikmati proses. Prinsip itu pula yang membuatnya tidak buru-buru kembali ke Inggris, karena fokusnya adalah bekerja dan menang bersama Rennes.

Posisi Rennes dan Ketatnya Persaingan Ligue 1

Rennes berada di peringkat keenam dengan 13 poin dari tujuh pertandingan, hanya terpaut satu poin dari lima klub yang mengoleksi 14 poin. Persaingan di puncak klasemen Ligue 1 pun sangat ketat karena belum ada tim yang benar-benar menjauh. Lyon, PSG, Paris FC, Lille, dan Monaco semuanya mengumpulkan angka yang sama.

Akhir pekan lalu, Rennes kalah dari Paris FC dalam laga tujuh gol. Lepaul mencetak tiga penalti, termasuk pada menit ke-88, tetapi Lassine Sinayoko memastikan kemenangan Paris FC lewat penalti di injury time. Hasil itu menunjukkan bahwa Rennes masih rentan ketika menghadapi tekanan di laga yang berjalan ketat.

Bagi Cresswell, pengalaman seperti itu justru menjadi bagian dari pembelajaran yang ia cari. Ia ingin membangun kemampuan menang di bawah tekanan karena sadar level yang ia tuju menuntut hal tersebut. Laga melawan Juventus akan menjadi ujian berikutnya untuk melihat sejauh mana Rennes dan Cresswell mampu merespons.

Perjalanan Charlie Cresswell di Ligue 1 menunjukkan bahwa meninggalkan Inggris bukan berarti mundur. Ia memilih tantangan yang lebih berat demi menit bermain, lalu naik dari Toulouse ke Rennes dengan ekspektasi yang lebih tinggi. Kini ia berada di titik ketika penampilan di Eropa bisa membuka jalan menuju timnas Inggris.

Laga melawan Juventus akan menjadi salah satu ujian terbesar, tetapi Cresswell tampaknya tidak ingin terburu-buru. Ia menikmati proses, belajar dari rekan setim seperti Lepaul, dan menegaskan bahwa ia berada di Prancis untuk bekerja serta menang. Jika konsisten, mimpi membela Inggris bukan sekadar angan-angan.