Kompetisi Eropa, Berkah atau Kutukan bagi Klub Premier League

Bagi sebagian besar penggemar, bermain di kompetisi Eropa adalah impian yang layak diperjuangkan. Namun bagi klub-klub Premier League di luar kelompok super-club, dampak kompetisi Eropa bisa jauh lebih rumit: kebahagiaan bagi suporter, tetapi beban tersendiri bagi tim dan manajemen. Sunderland menjadi contoh paling jelas pekan ini, ketika sekitar 5.000 pendukung mereka melakukan perjalanan jauh ke Leiria, Portugal, untuk laga tandang Eropa pertama klub dalam lebih dari 53 tahun.

Pertandingan melawan Torreense itu berlangsung meriah: matahari bersinar, suhu menyentuh angka 20-an derajat, dan suasana penuh kehangatan. Warga setempat menyambut hangat, bahkan bir di tribun bisa dinikmati gratis. Sunderland menutup laga dengan kemenangan dramatis lewat gol di masa injury time dari Noah Sadiki. Momen seperti inilah yang membuat kompetisi Eropa terasa layak, meskipun di sisi lain ada harga yang harus dibayar.

Pengalaman Eropa yang Tak Terlupakan bagi Penggemar Sunderland

Perjalanan ke Portugal menjadi semacam “checklist” yang dilalui penggemar Sunderland setelah berpuluh tahun absen dari kompetisi Eropa. Mereka merasakan perjalanan rumit menuju kota asing yang indah, berurusan dengan wasit asal Albania yang rewel, dan menemukan rasa kebersamaan yang kuat antar sesama pendukung. Bahkan ada momen kebetulan yang mengesankan: gol kemenangan justru lahir dari kaki Noah Sadiki, pemain yang mungkin tidak banyak diharapkan mencetak gol penentu.

Pengalaman ini juga dipenuhi keunikan yang sulit ditemukan di liga domestik. Tiket yang semula tampak sulit didapat ternyata bisa diurus langsung lewat surel ke presiden klub Torreense. Stadion yang kelewat besar untuk laga tersebut membuat penonton bisa duduk di hampir sembarang tempat, dan tribun hospitality di belakang tribun bawah menyajikan bir gratis tanpa alasan yang jelas. Detail-detail ganjil seperti ini yang justru membuat laga tandang Eropa begitu berkesan.

Keramahan warga Leiria menambah kesan positif. Pemerintah kota setempat menggelar pertemuan untuk menegaskan bahwa para pengunjung bukanlah perusuh, sementara pemilik restoran di sekitar Praça Francisco Rodrigues Lobo hanya bisa tersenyum melihat para penggemar yang bersedia membantu menumpuk tong bir agar pasokan Sagres tetap mengalir. Menurut pemilik restoran di antara alun-alun dan katedral itu, pendukung Sunderland memang berisik, tetapi punya selera humor yang khas.

Empat Klub Premier League di Kompetisi Eropa Kelas Dua

Kisah Sunderland bukan satu-satunya. Pada akhir pekan yang sama, empat klub Premier League yang berlaga di dua kompetisi Eropa kelas dua, yaitu Europa League dan Conference League, harus saling menghadapi: Brighton, Crystal Palace, Bournemouth, dan Sunderland. Brighton tampil gemilang, sementara tiga klub lainnya justru berjuang keras di awal musim. Crystal Palace berada di posisi ke-12 sebelum rangkaian pertandingan akhir pekan, tetapi performa mereka belum meyakinkan. Laga Bournemouth melawan Sunderland bahkan menjadi duel tim peringkat ketiga dan keempat dari bawah.

Menariknya, tim-tim tersebut baru melakoni putaran kedua fase liga Europa League, dan mereka juga melewati satu putaran Carabao Cup. Artinya, kelelahan mungkin akan datang, tetapi belum seharusnya menjadi masalah besar saat ini. Brighton sendiri dinilai mampu tampil apik bukan semata karena Conference League yang bebannya lebih ringan. Ada faktor lain yang lebih menentukan, sehingga masih terlalu dini menyalahkan kompetisi Eropa atas naik-turunnya performa keempat klub.

Faktor Lain di Balik Awal Musim yang Sulit

Bagi Sunderland, jadwal awal musim memang tidak bersahabat. Mereka sudah menghadapi empat tim papan atas: Manchester City, Arsenal, Brighton, dan Brentford. Meski begitu, di Brentford mereka sebenarnya sempat unggul beberapa gol di babak pertama, sementara melawan Arsenal mereka gagal memanfaatkan penalti. Saat kalah 5-3 dari Manchester City, Sunderland mencatat xG sebesar 2,72, tanda bahwa mereka bukan tanpa peluang. Satu-satunya penampilan yang benar-benar mengecewakan adalah saat kalah dari Brighton akhir pekan lalu.

Jika dibandingkan dengan musim lalu pada enam laga setara, dengan Ipswich menggantikan Burnley, Sunderland justru mengoleksi tiga poin lebih banyak. Namun empat poin dari enam pertandingan tetap membuat mereka mulai gelisah. Tekanan kini bertumpu pada rangkaian laga berikutnya: setelah Bournemouth, mereka menjamu Leeds dan bertandang ke Coventry. Persoalan di sisi kanan lini serang belum tuntas, dan kurangnya kedalaman skuad mulai terlihat akibat cedera Brian Brobbey dan Habib Diarra, meski keduanya sudah duduk di bangku cadangan pada Kamis.

Bournemouth pun menghadapi masalah serupa. Eli Junior Kroupi yang musim lalu mencetak 13 gol liga belum tampil musim ini, begitu pula Amine Adli, walau keduanya masuk sebagai pemain pengganti pada Kamis, seperti halnya Justin Kluivert yang sempat absen sebulan. Pukulan paling berat mungkin datang dari cedera paha Alex Scott setelah tampil impresif untuk Inggris melawan Kroasia. Transisi meninggalkan Andoni Iraola memang wajar menimbulkan gejolak, sementara kekalahan 5-1 di Chelsea pada Sabtu lalu menjadi pukulan telak, meski kekalahan lain musim ini terjadi melawan Manchester City dan Liverpool.

Palace berada dalam posisi yang sedikit berbeda. Selain menghadapi City, jadwal mereka terbilang ramah, dan tujuh poin dari enam laga akan lebih dari cukup untuk bertahan jika dibandingkan sepanjang musim. Namun tabel expected points Opta menempatkan mereka di posisi ke-18, di bawah Bournemouth (kesembilan) dan Sunderland (kesepuluh). Manajer baru sedang beradaptasi, Maxence Lacroix dan Daniel Múñoz dijual pada musim panas, sementara Jean-Philippe Mateta belum bermain sejak pekan pembukaan.

Dampak Kompetisi Eropa bagi Klub Premier League

Data lima tahun terakhir menunjukkan pola yang cukup konsisten: klub yang tidak berlaga di Eropa pada musim sebelumnya cenderung menurun peringkat liganya begitu mereka ikut berkompetisi Eropa. Crystal Palace turun dari posisi ke-12 ke ke-15, Nottingham Forest dari ketujuh ke ke-16, Newcastle dari kelima ke ke-12, Brighton dari keenam ke ke-11, dan West Ham dari keenam ke ketujuh. Dari semua contoh itu, hanya Forest yang bahkan sempat mendekati zona degradasi, tetapi kekhawatiran tetap ada di kalangan klub.

Meskipun menjuarai Europa League akan menghadirkan hadiah besar berupa tiket ke Liga Champions, kekalahan di final mungkin hanya menghasilkan tidak lebih dari £20 juta bagi klub Premier League, ditambah pendapatan tiket dan manfaat tak berwujud dari eksposur yang lebih luas. Sebagai perbandingan, angka itu kurang lebih setara dengan selisih pendapatan antara finis di posisi kesembilan dan ke-14 di Premier League. Artinya, secara finansial, kompetisi Eropa kelas dua belum tentu sepadan dengan risikonya.

Bagi para eksekutif klub, liburan singkat ke Milan, Praha, atau Lyon memang menyenangkan, tetapi tidak sebanding dengan potensi risiko finansial yang harus ditanggung. Di sisi lain, para penggemar tentu saja memandangnya dengan cara berbeda. Mereka menginginkan pengalaman, cerita, dan kenangan yang tidak bisa dibeli dengan uang, meskipun klub harus menanggung beban jadwal dan tekanan di liga domestik.

Kisah Sunderland, Brighton, Crystal Palace, dan Bournemouth menunjukkan bahwa dampak kompetisi Eropa bagi klub Premier League memang bersifat dua arah. Bagi suporter, perjalanan ke kota-kota asing dan malam-malam penuh kejutan adalah hadiah tersendiri. Bagi manajemen, kompetisi Eropa adalah tantangan yang menuntut perencanaan matang, kedalaman skuad, dan kesiapan mental menghadapi tekanan jadwal yang lebih padat.

Apakah kompetisi Eropa akan menjadi berkah atau kutukan, pada akhirnya bergantung pada bagaimana klub menyikapinya. Sunderland dan tim-tim lain di kompetisi Eropa kelas dua kini berada di persimpangan: menikmati perjalanan, atau membayar mahal di klasemen liga. Pertanyaannya bukan lagi soal apakah kompetisi Eropa layak diperjuangkan, melainkan seberapa siap klub menanggung konsekuensinya.