Oliver Glasner Kembali ke Palace Bersama Nottingham Forest

Oliver Glasner akan menjalani laga penuh emosi saat Nottingham Forest bertandang ke Crystal Palace di Selhurst Park pada Minggu. Ini menjadi kali pertama ia kembali ke klub lamanya sejak meninggalkan Palace. Pertemuan ini tidak sekadar pertandingan biasa karena menyimpan sejarah panjang antara kedua klub dan sang manajer.

Kembalinya Glasner ke Selhurst Park diwarnai tensi yang sudah terbangun sebelumnya. Nottingham Forest pernah mengambil tempat Palace di Europa League musim lalu, dan pemilik Forest, Evangelos Marinakis, menggugat Palace atas pencemaran nama baik terkait spanduk yang dibentangkan pendukung. Rivalitas semakin memanas ketika Glasner bergabung dengan Forest pada musim panas, hanya 40 hari setelah membawa Palace menjuarai Conference League.

Glasner Kembali ke Selhurst Park dengan Nottingham Forest

Glasner mengaku tidak ingin terjebak dalam berbagai komentar dan cerita seputar pertandingan ini. Ia menggambarkan perasaannya dengan mengutip drama Faust karya Goethe, “Dua hati berdetak di dadaku,” sambil menepuk dadanya. Menurutnya, situasinya mirip karena ia memiliki lebih dari dua tahun yang luar biasa bersama Palace.

Selama di Palace, Glasner membawa klub meraih trofi besar pertama mereka. Prestasi itu termasuk kemenangan FA Cup di Wembley tahun lalu, gelar Conference League di Leipzig pada Mei, dan Community Shield pertama. Namun, Palace kemudian diturunkan ke Conference League setelah Forest mengeluh ke UEFA tentang pelanggaran aturan kepemilikan multi-klub.

Ketua Palace, Steve Parish, mengatakan akan sangat malu jika Glasner tidak mendapat sambutan heroik. Glasner pun berharap para pendukung Palace mengenang momen-momen indah, seperti saat mereka menyaksikan final di Wembley, final di Leipzig, dan Community Shield. Ia ingin mereka mengingat betapa bahagianya menjadi penggemar Crystal Palace.

Glasner menegaskan bahwa keputusannya pergi bukanlah bentuk penolakan terhadap Palace. Ia sudah memutuskan pada Oktober tahun lalu untuk tidak menandatangani kontrak baru. Keputusan bergabung dengan Forest di musim panas datang karena berbagai alasan. Ia menegaskan tidak ada rencana baginya untuk menjadi manajer Forest.

Keputusan Oliver Glasner Bergabung dengan Nottingham Forest

Meski telah meninggalkan Palace, Glasner masih menjaga komunikasi dengan Parish dan pernah mengunjunginya di London. Ia juga tidak akan meminta maaf karena bersikap blak-blakan. Ia merujuk pada episode Februari ketika ia menyuruh pendukung Palace untuk “tetap rendah hati” setelah sebagian dari mereka meneriakkan agar ia dipecat. Saat itu Palace hanya menang satu dari 15 pertandingan dan tersingkir dari FA Cup oleh Macclesfield, tim part-time.

Glasner menegaskan bahwa ia tidak akan mengatakan apa yang ingin didengar orang banyak. Ia akan berbicara jika menurutnya itu benar. Ia menerima cemoohan dan kenyataan bahwa tidak semua orang sejalan dengannya. Kini berusia 52 tahun, ia merasa tidak perlu meminta persetujuan semua orang selama apa yang dilakukannya sesuai hukum.

Glasner tampak sangat nyaman dengan dirinya sendiri. Dalam percakapan lebih dari satu jam, ia membahas pengalamannya bekerja dengan Marinakis, eksperimen pertahanan empat orang saat laga persahabatan melawan Swansea, dan turnamen padel internal sebagai sesi pemulihan. Nikola Milenkovic dan Nicolás Domínguez keluar sebagai juara setelah mengalahkan Glasner dan asistennya, Michael Angerschmid, di final. Glasner mengaku kecewa kalah, tetapi mengakui lawannya terlalu kuat.

Tantangan dan Reaksi di Nottingham Forest

Jeda internasional memberi Nottingham Forest ruang untuk bernapas setelah awal musim yang mengecewakan. Seminggu setelah kemenangan di Aston Villa, Forest justru kalah di kandang dari Coventry yang sebelumnya belum mengumpulkan poin. Glasner menilai situasi seperti inilah yang menentukan jalannya musim. Yang terpenting bukan hanya reaksi di lapangan, tetapi bagaimana klub dan tim merespons secara keseluruhan.

Ia menekankan pentingnya kebersamaan. Apakah tim tetap bersatu atau saling menyalahkan? Jika semua saling menunjuk dan merasa selalu orang lain yang salah, maka tidak akan ada perubahan. Glasner melihat reaksi kolektif sebagai kunci untuk keluar dari tekanan.

Penggemar Forest bisa sedikit tenang karena Glasner juga pernah mengalami awal yang lambat. Di Palace, ia hanya menang satu dari enam pertandingan liga pertamanya. Di Eintracht Frankfurt, ia tidak menang dalam delapan laga awal, tetapi mengakhiri musim dengan mengangkat trofi Europa League di Sevilla. Ketika bertemu Marinakis di Athena, ia sudah mengingatkan bahwa tidak ada solusi instan untuk tim yang berganti empat manajer dan finis ke-16 musim lalu.

Glasner mengatakan kepada Marinakis bahwa jika pemilik menginginkan semuanya berjalan dalam satu bulan, maka ia adalah orang yang salah. Namun, ia melihat perkembangan ke arah yang benar. Pesan yang disampaikan kepada pemain dan tuntutan yang diberikan semakin terasa alami.

Glasner dan Nottingham Forest: Proyek Jangka Panjang

Tiga bulan berlalu, masih menarik untuk melihat bagaimana Glasner bisa berakhir di Forest. Dari luar, kepindahannya dengan kontrak tiga tahun dianggap mengejutkan, bahkan seperti langkah menyamping. Glasner sempat menatap gambar besar di dinding City Ground dan bercerita tentang gambar serupa di kantor rumahnya, yaitu dirinya di balkon balai kota Frankfurt Römer dengan 50.000 penggemar merayakan di belakangnya.

Ia mengaku merinding saat mengenang momen itu. Ketika mempertimbangkan sebuah klub, Glasner tidak hanya berpikir tentang memenangkan Premier League. Ia bertanya tentang potensi, apakah ada peluang nyata untuk membuat tim lebih baik, dan apakah ia bisa membantu memunculkan potensi tersebut. Ia juga memikirkan apakah semua pihak, termasuk pemain, staf, dan pemilik, bisa bersama-sama menulis bab yang bertahan dalam sejarah klub.

Minat Forest menguat saat Glasner sedang berlibur di danau Austria yang tenang bersama istrinya, Bettina. Sang istri heran karena Glasner terus melihat ponsel, lalu ia mengatakan akan pergi ke Athena besok. Istrinya pun terkejut dan menganggapnya gila karena sedang berlibur. Glasner mengakui ada banyak opsi di musim panas, dan ia sempat berpikir akan tetap di rumah, sehingga keluarganya tidak senang dengan keputusan awalnya untuk pergi lagi. Namun, setelah melihat detail skuad Forest, ia mulai merasa antusias.

Antusiasme itu terdengar jelas dalam suaranya. Pekan lalu, ia menyambut pelatih akar rumput dan anak-anak sekolah ke sesi latihan, mengikuti tanya jawab, dan memimpin sesi 45 menit untuk anak-anak. Glasner menyebut perbedaan terbesar dibandingkan London adalah semua orang tampaknya mengenalnya. Di London, ia bisa cukup anonim, sering naik tube dan hanya bertemu dua atau tiga pendukung yang mengenalinya. Di sini, semua orang mengenal dan ingin berfoto. Pada Minggu sore di Selhurst Park, tidak akan ada jubah tembus pandang yang menyembunyikannya.

Penutup

Kembalinya Oliver Glasner ke Selhurst Park bersama Nottingham Forest akan menjadi momen penuh emosi. Ia meninggalkan Palace dengan segudang kenangan dan prestasi, tetapi kini fokus membangun proyek baru bersama Forest. Tantangan sudah di depan mata, terutama setelah awal musim yang naik-turun.

Rekam jejak Glasner menunjukkan bahwa ia mampu membalikkan keadaan, seperti yang terjadi di Frankfurt dan Palace. Pertandingan Minggu nanti bukan hanya tentang tiga poin, tetapi juga tentang bagaimana ia menghadapi masa lalunya. Bagi penggemar, laga ini akan menjadi tontonan menarik untuk melihat reaksi semua pihak.