Roma vs Inter berakhir imbang 2-2 di Stadio Olimpico, dengan Lautaro Martinez menjadi bintang comeback Inter lewat dua golnya di babak kedua yang membatalkan keunggulan dua gol Manu Koné. Hasil ini membuat Roma gagal mempertahankan keunggulan dua gol di kandang sendiri, sekaligus menegaskan status Martinez sebagai momok tersendiri bagi tim asuhan Gian Piero Gasperini.
Laga ini penting bukan hanya karena mempertemukan sang juara bertahan dengan salah satu kandidat penantang gelar paling serius musim ini, melainkan juga karena mempertemukan dua tim yang tengah membangun identitas baru di bawah pelatih masing-masing. Roma yang tampil dominan di babak pertama harus puas berbagi poin, sementara Inter kembali menunjukkan karakter comeback yang sudah menjadi ciri khas mereka musim ini.
Jalannya Laga: Dua Gol Koné Dibalas Dua Gol Martinez
Roma membuka pertandingan dengan pendekatan agresif khas Gasperini, menekan tinggi dan bermain man-to-man sejak menit awal. Ketika Yann Bisseck mencoba melepas umpan terobosan ke arah Martínez, bek tengah Roma Leonardo Balerdi bergerak cepat untuk memotong bola sebelum peluang itu berkembang.
Tekanan tersebut berbuah manis pada menit keenam. Umpan silang Paulo Dybala ditanduk Nahuel Molina ke arah mulut gawang, dan Koné menyambar bola untuk membawa Roma unggul. Gol itu kemudian berlanjut pada menit ke-37, ketika Koné kembali mencatatkan namanya di papan skor setelah menerima bola hasil sepakan Dybala yang sempat disentuh Gianluca Mancini. Gol kedua itu awalnya dianulir, tetapi tinjauan video asisten wasit memastikan tidak ada pemain yang berada dalam posisi offside.
Roma memang tampil lebih baik, namun mereka juga sempat dinaungi keberuntungan. Sebelum gol kedua Koné, Martinez sempat membuang peluang emas dari jarak dekat, sementara Alessandro Bastoni menghantam tiang gawang dari sudut sempit. Peringatan-peringatan itu tidak diindahkan, dan Inter akhirnya memberi hukuman tepat satu menit setelah babak kedua dimulai.
Martínez melepas Marcus Thuram di sisi kiri, lalu sprint cepat ke tengah untuk menerima umpan balik sebelum menuntaskan serangan dengan sepakan indah ke sudut bawah gawang di antara tiga bek Roma. Skor menjadi 2-1, dan momentum pertandingan berbalik arah.
Inter dan Tren Comeback yang Tidak Berkelanjutan
Jika Roma tengah memantapkan identitasnya di musim kedua bersama Gasperini, hal serupa mungkin berlaku untuk Inter di bawah Cristian Chivu. Tim ini tampak seperti versi sepak bola dari Rocky Balboa: sebuah kesebelasan yang bisa terhuyung-huyung menerima rentetan pukulan dan tetap bangkit dengan pukulan balik yang lebih keras.
Laga melawan Roma merupakan pertandingan keempat berturut-turut di mana Inter tertinggal 2-0 terlebih dahulu, dan yang ketiga di antaranya berhasil mereka hindari dari kekalahan. Bulan ini Inter sudah pernah membalikkan keadaan serupa untuk mengalahkan Napoli dan Udinese, dan mungkin bisa melakukan hal yang sama saat bertandang ke markas Real Madrid di Liga Champions jika bukan karena penyelamatan gemilang Thibaut Courtois.
Di Olimpico, kiper Roma Mile Svilar berusaha keras membendung Inter. Ia melakukan penyelamatan refleks luar biasa untuk menahan sundulan Thuram dari situasi sepak pojok, sebelum Martínez menanduk bola rebound hingga menghantam mistar gawang. Meski begitu, talisman Inter itu akhirnya menyamakan kedudukan pada menit ke-79.
Inter menciptakan lebih dari cukup peluang untuk pantas mendapatkan hasil imbang, tetapi pertandingan sebenarnya masih bisa berjalan berbeda. Pada menit ke-68, dengan skor 2-1, Donyell Malen mengontrol bola dari sepak pojok Dybala dan berputar cepat untuk melepas tendangan keras yang menghantam wajah kiper Inter, Josep Martínez.
Masalah Kebobolan Awal Babak Kedua yang Menghantui Roma
Roma menghadapi persoalan yang justru berkebalikan dengan Inter: mereka berulang kali memulai laga dengan baik, tetapi membiarkan lawan masuk kembali ke pertandingan. Ini sudah menjadi pola yang berulang dan kini mulai menjadi catatan tersendiri.
Ketiga kali Roma gagal mencatatkan cleansheet musim ini—melawan Inter, Atalanta, dan Fenerbahce—mereka selalu kebobolan dalam rentang tiga menit setelah dimulainya babak kedua. Pola ini menunjukkan adanya persoalan konsentrasi dan kesiapan di awal babak kedua yang sering luput dari perhatian.
Gasperini sendiri sempat mengakui tren tersebut setelah Roma bermain imbang melawan klub Turki itu di Liga Champions. Dengan nada bercanda ia mengutip Agatha Christie, menyebut bahwa “dua kebetulan sudah cukup menjadi bukti”. Namun sebagaimana yang ditulis sang novelis, diperlukan tiga kejadian untuk benar-benar memenuhi ambang itu—dan angka itu kini telah tercapai.
Ketika ditanya apakah timnya sudah siap bersaing untuk Scudetto, Gasperini memilih menahan diri. Ia menekankan bahwa anak asuhnya perlu fokus pada urusan mereka sendiri dan mempertahankan kesadaran bahwa dalam kondisi yang tepat, mereka bisa menjadi tim yang benar-benar berbahaya.
Kedalaman Skuad dan Peta Persaingan Gelar
Daya tarik Roma musim ini terletak pada trisula serang Gasperini yang mulai menjadi salah satu yang paling menakutkan di Serie A. Kombinasi Malen dan Dybala, dilengkapi pemain muda seperti Matías Soulé atau Rodrigo Mora yang baru berusia 19 tahun, memberi variasi serangan yang sulit diprediksi. Malen sendiri sudah mengemas enam gol—dua lebih banyak dari Martínez—sejak bergabung dari Aston Villa pada Januari, sementara Dybala mengoleksi empat assist yang bahkan belum menghitung dua gol kontra Inter yang lahir dari umpannya.
Kecepatan Balerdi yang didatangkan dari Marseille juga menjadi aset berharga bagi tim yang bermain dengan garis pertahanan tinggi. Namun pertanyaan besarnya adalah apakah Roma memiliki kedalaman skuad yang cukup untuk mempertahankan tantangan terhadap Inter sepanjang musim.
Di sisi lain, kekuatan bangku cadangan Inter kembali terlihat jelas. Chivu bisa memasukkan Petar Sucic untuk menggantikan Curtis Jones yang tampil kurang meyakinkan, juga menurunkan Carlos Augusto sebagai pengganti Federico Dimarco. Ia bahkan membiarkan Martínez dan Thuram tampil hingga menit ke-90 sebagai pengakuan atas performa mereka, karena masih memiliki Francesco Pio Esposito dan Ange-Yoan Bonny sebagai pengganti di menit-menit akhir.
Roma sendiri masih berharap lebih dari rekrutan termahal mereka musim panas ini, Santiago Castro, sebagai opsi tambahan di lini depan. Meski begitu, setelah lima pertandingan, gelas Gasperini masih lebih dari setengah penuh. Ia menyebut bahwa Roma menghadapi Inter ketika tim tersebut berada dalam kondisi puncak, dan sepanjang musim kondisinya tidak akan selalu seperti itu.
Rekor Martínez Melawan Tim Asuhan Gasperini
Satu hal yang perlu dicatat: mungkin akan ada hari ketika Martínez tidak mencetak gol melawan tim Gasperini. Namun berdasarkan catatan La Gazzetta dello Sport, sejauh ini hal itu belum terjadi. Pemain Argentina tersebut tak terkalahkan dalam 17 pertandingan melawan tim yang dilatih Gasperini, dengan rincian 12 kemenangan dan lima hasil imbang, sembari mencetak 11 gol.
Meski demikian, Martínez hanya sebagian kecil dari gambaran besar. Duel September antara juara bertahan dan calon penantang ini justru meninggalkan pertanyaan yang lebih menarik daripada jawaban yang pasti.
Klasemen Serie A
| Pos | Tim | P | GD | Poin |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Roma | 5 | 11 | 13 |
| 2 | Inter Milan | 5 | 7 | 13 |
| 3 | Lazio | 5 | 5 | 13 |
| 4 | Cagliari | 5 | 3 | 12 |
| 5 | AC Milan | 5 | 6 | 11 |
| 6 | Frosinone | 5 | 5 | 10 |
| 7 | Juventus | 5 | 4 | 10 |
| 8 | Como | 5 | 3 | 10 |
| 9 | Napoli | 5 | 1 | 7 |
| 10 | Sassuolo | 5 | 0 | 7 |
| 11 | Atalanta | 5 | -2 | 6 |
| 12 | Lecce | 5 | -5 | 6 |
| 13 | Udinese | 5 | -3 | 4 |
| 14 | Torino | 5 | -3 | 4 |
| 15 | Parma | 5 | -3 | 4 |
| 16 | Monza | 5 | -4 | 4 |
| 17 | Fiorentina | 5 | -6 | 4 |
| 18 | Bologna | 5 | -3 | 2 |
| 19 | Genoa | 5 | -7 | 1 |
| 20 | Venezia | 5 | -9 | 0 |
Kesimpulan
Hasil imbang 2-2 antara Roma vs Inter meninggalkan kesan yang bercampur untuk kedua pihak. Roma kehilangan dua poin berharga setelah unggul dua gol di kandang, namun mereka juga membuktikan kemampuan untuk berdiri sejajar dengan juara bertahan dan melayangkan pukulan-pukulan yang meyakinkan. Sementara Inter kembali memperlihatkan mentalitas comeback mereka, meski kebiasaan tertinggal dua gol lebih dulu jelas bukan rencana yang berkelanjutan.
Roma kini memuncaki klasemen berkat keunggulan selisih gol, dengan Roma, Inter, dan Lazio sama-sama mengoleksi 13 poin. Pertanyaan yang tersisa adalah apakah Roma memiliki kedalaman skuad untuk menjaga tantangan sepanjang musim, dan apakah ada hari ketika Lautaro Martinez benar-benar berhenti mencetak gol ke gawang tim asuhan Gasperini.
