Tekanan Matthias Jaissle Memuncak Usai Newcastle Kalah Lagi

Tekanan Matthias Jaissle di Newcastle United semakin memuncak setelah timnya menelan kekalahan kandang dari Everton, hanya lima hari setelah tersingkir di Piala Carabao. Gol Thierno Barry di babak kedua memastikan Everton membawa pulang kemenangan, sementara Newcastle harus mengakhiri pertandingan dengan 10 pemain menyusul kartu merah Jacob Ramsey di masa tambahan waktu. Kekalahan ini menjadi pukulan kedua dalam lima hari dan langsung memantik reaksi keras dari sebagian suporter di St James’ Park.

Kegelisahan di Newcastle bukan sekadar soal hasil satu pertandingan. Jaissle tiba di tengah musim transisi, setelah sejumlah pemain bintang meninggalkan klub, dan ia harus menggantikan Eddie Howe yang punya catatan kuat selama empat tahun pertama di St James’ Park. Situasi itu membuat tekanan terhadap Jaissle lebih besar, terutama karena suporter sudah menyuarakan ketidakpuasan mereka sejak kekalahan di Piala Carabao beberapa hari sebelumnya.

Jalannya Laga: Gol Barry dan Kartu Merah Ramsey

Everton datang ke St James’ Park dengan modal kemenangan 3-1 atas Newcastle di Piala Carabao pada Kamis malam. Tim muda asuhan David Moyes kembali tampil efisien, dan kali ini mereka memetik kemenangan lewat gol Thierno Barry di babak kedua. Newcastle sebenarnya sempat menguasai bola di beberapa momen, tetapi serangan mereka minim ketajaman di sepertiga akhir lapangan.

Babak pertama berjalan tanpa banyak peluang bersih. Harvey Barnes sempat memotong ke dalam pada akhir babak, dan bola yang membentur Jarrad Branthwaite sempat membuat Jordan Pickford waspada. Namun, baik Pickford maupun Lukas Hornicek di gawang Newcastle nyaris tidak menghadapi ancaman berarti selama 45 menit pertama, sementara peluang Jake O’Brien dan Harrison Armstrong untuk Everton masih melebar.

Di awal babak kedua, Hornicek akhirnya diuji, dan kesalahan sang kiper berbuah gol untuk Everton. Bola hasil tembakan Tyrique George dari sisi kiri menyelinap di bawah tubuhnya, lalu Barry dengan mudah menyontek bola ke gawang yang kosong. Newcastle sempat berusaha merespons, tetapi Everton terus menekan dan hampir menambah keunggulan sebelum Jaissle memasukkan Yoane Wissa dan Sean Steur.

Steur yang sebelumnya tampil menjanjikan justru lebih sering duduk di bangku cadangan dalam laga-laga terakhir, dan keputusan itu sempat membingungkan sebagian suporter. Setelah ia masuk, Barnes mengirim bola dari kiri yang disambut Anthony Elanga di tiang jauh, tetapi bola hanya menggelinding di garis gawang tanpa sepenuhnya melewati garis. Everton pun mampu menyapu bahaya, dan Newcastle tetap kesulitan menciptakan peluang matang hingga peluit akhir.

Latar Belakang: Dua Kekalahan dalam Lima Hari

Kekalahan dari Everton ini memperpanjang catatan buruk Newcastle setelah mereka tumbang 3-1 di markas Everton pada Kamis malam. Setelah laga Piala Carabao itu, Jaissle melangkah ke lapangan di Hill Dickinson Stadium untuk menyapa sekitar 7.732 suporter tandang. Namun, saat ia tiba di area tersebut, sebagian besar pendukung Newcastle sudah meninggalkan stadion, dan St James’ Park juga kosong dengan cepat setelah kekalahan kandang ini.

Reaksi suporter menunjukkan bahwa kesabaran mereka mulai menipis. Jaissle mengakui besarnya kekecewaan yang dirasakan tim dan pendukung, serta menegaskan bahwa ia memikul tanggung jawab sebagai manajer. Menurutnya, Newcastle perlu menganalisis kekalahan ini secara rinci dan memperbaiki banyak hal agar tidak terus mengulangi kesalahan yang sama.

Tekanan terhadap Jaissle tidak bisa dilepaskan dari warisan Eddie Howe. Howe dianggap berhasil membangun Newcastle selama empat tahun pertamanya, sehingga standar ekspektasi di St James’ Park menjadi tinggi. Ditambah lagi, kepergian sejumlah pemain besar pada musim panas dan kedatangan Jaissle yang terjadi di menit-menit akhir membuat pekerjaannya semakin berat.

Dampak bagi Newcastle: Masalah di Dua Ujung Lapangan

Masalah utama Newcastle dalam laga ini terlihat di dua area: pertahanan yang rentan dan serangan yang tumpul. Sepanjang musim, Newcastle sudah beberapa kali kebobolan gol-gol yang seharusnya bisa dihindari, dan Jaissle mengakui timnya sempat “tertidur” ketika Everton menekan setelah gol pembuka. Kesalahan kiper dalam gol Barry menjadi contoh paling jelas betapa rapuhnya pertahanan mereka saat menghadapi tekanan.

Di sisi lain, Newcastle tidak mencatatkan tembakan tepat sasaran sampai menit ke-86. Peluang-peluang setengah matang datang dan pergi, tetapi penyelesaian akhir tetap menjadi persoalan. Kartu merah Ramsey karena dua kartu kuning di masa tambahan waktu memperburuk keadaan, karena Newcastle harus mengakhiri laga dengan 10 pemain saat mereka justru sedang mengejar hasil.

Kombinasi itu membuat sebagian suporter mulai mempertanyakan seberapa tinggi Newcastle bisa finis di atas zona degradasi Liga Premier. Pertanyaannya bukan lagi soal apakah tim mampu bertahan, melainkan seberapa jauh mereka bisa menjauh dari ancaman itu. Dengan musim dingin yang tampak menantang, Jaissle masih punya banyak pekerjaan rumah di lini depan dan belakang.

Konteks Lebih Luas: Everton Tanpa Grealish dan Ujian Musim Dingin

Di kubu Everton, kemenangan ini menunjukkan bahwa tim Moyes mampu tampil solid meski tanpa Jack Grealish. Grealish absen untuk kedua laga berturut-turut setelah melanggar disiplin klub, dan Moyes enggan membahas detail situasinya. Namun, ketika ditanya apakah masih ada jalan kembali untuk sang pemain, Moyes menjawab singkat bahwa peluang itu tentu ada.

Moyes juga memuji ketangguhan tim mudanya yang dinilainya tampil habis-habisan. Ia menyebut Everton mampu mengalahkan Newcastle pada Kamis malam dan mengulanginya lagi pada laga ini, sesuatu yang menurutnya tidak mudah dilakukan klub mana pun. Hasil ini memberi Everton modal kepercayaan diri, sekaligus memperlihatkan bahwa persaingan di starting XI mereka cukup ketat ketika Grealish kembali nanti.

Sementara itu, Newcastle menghadapi ujian yang lebih rumit. Jadwal padat, tekanan publik, dan masalah konsistensi membuat Jaissle harus segera menemukan formula yang tepat. Jika kekalahan seperti ini berlanjut, pertanyaan tentang masa depannya di St James’ Park hampir pasti akan semakin sering muncul di tengah suporter dan media.

Secara keseluruhan, kekalahan dari Everton menegaskan bahwa Newcastle masih berada dalam fase pencarian jati diri di bawah Jaissle. Gol Barry dan kartu merah Ramsey hanyalah bagian dari gambaran besar: tim belum stabil di kedua ujung lapangan, sementara ekspektasi suporter tetap tinggi. Tekanan Matthias Jaissle pun menjadi topik utama setelah dua kekalahan dalam lima hari.

Jaissle sendiri menegaskan bahwa jalan keluar dari situasi ini adalah kebersamaan. Ia menilai tim harus tetap menunjukkan persatuan agar kepercayaan diri bisa tumbuh kembali. Dengan musim dingin yang menanti, Newcastle butuh lebih dari sekadar perubahan taktik untuk meredakan kegelisahan dan mengembalikan keyakinan di St James’ Park.