Mauricio Pochettino dipastikan tetap menangani timnas AS hingga Piala Dunia 2030 setelah menerima perpanjangan kontrak dari Federasi Sepak Bola Amerika Serikat (US Soccer). Keputusan mempertahankan Pochettino di timnas AS ini dinilai sejumlah pihak berisiko, mahal, dan mungkin tidak diperlukan. Pasalnya, penawaran tersebut sebenarnya sudah disiapkan sebelum Piala Dunia 2026 dan tetap dipertahankan meski Amerika gagal melaju lebih jauh.
Pochettino resmi ditunjuk sebagai pelatih kepala timnas Amerika Serikat pada 10 September 2024. Ia hanya punya waktu kurang dari dua tahun untuk membenahi tim sebelum tampil di Piala Dunia yang digelar di kandang sendiri. Meski periode pertamanya tergolong sukses, perpanjangan kontrak ini tetap menjadi tanda tanya besar bagi masa depan sepak bola Amerika.
Periode Perdana Pochettino: Membangkitkan Generasi Emas
Sejak ditunjuk pada 10 September 2024 hingga kekalahan 4-1 dari Belgia di babak 16 besar Piala Dunia pada 6 Juli, Pochettino secara umum berhasil menyelesaikan tugas utamanya. Ia menyuntikkan energi baru ke dalam tim yang sebelumnya terlihat mandek dan kehilangan arah. Ia juga menemukan skema permainan yang cocok dengan generasi pemain Amerika yang secara talenta tak tertandingi, tetapi sebelumnya kekurangan pemain pembeda di panggung Piala Dunia.
Di bawah arahannya, Amerika mencatatkan dua penampilan luar biasa dan dua laga yang sangat baik selama turnamen. Puncaknya tentu saja kemenangan 4-1 atas Paraguay yang disebut-sebut sebagai penampilan terbaik Amerika sepanjang keikutsertaan mereka di Piala Dunia. Namun, semuanya runtuh saat menghadapi Belgia, setelah suasana tim terlebih dulu terusik oleh campur tangan presiden federasi dalam kasus skorsing dan pencabutan skorsing Folarin Balogun.
Dengan segala pencapaian itu, masa kepemimpinan Pochettino pada siklus pertama bisa disebut sukses. Pertanyaannya, apakah kesuksesan tersebut cukup untuk menjamin empat tahun lagi masa kerjanya? Bagi sebagian pengamat, jawabannya tidak sesederhana itu.
Kontrak Baru Pochettino di Timnas AS dan Spekulasi Klub Eropa
Kontrak baru Pochettino di timnas AS mengikatnya hingga Piala Dunia 2030, memberi pelatih asal Argentina itu satu siklus penuh untuk mencoba kembali membawa Amerika melaju jauh. Penawaran ini sebenarnya sudah disodorkan sebelum Piala Dunia dimulai, dan US Soccer memilih untuk tetap mempertahankannya kendati tim tersingkir satu babak lebih cepat dari yang diharapkan banyak pihak.
Namun, keputusan ini dinilai spekulatif karena tidak ada jaminan Pochettino akan bertahan selama masa kontraknya. Sebelum Piala Dunia, ia dilaporkan menjalin pembicaraan dengan AC Milan yang akhirnya memilih Ruben Amorim sebagai pelatih kepala. Situasi itu memunculkan dugaan bahwa Pochettino bertahan bersama timnas AS lebih karena tidak adanya kesempatan untuk melatih klub-klub besar seperti yang ia tangani selama satu dekade terakhir, mulai dari Tottenham Hotspur, Paris Saint-Germain, hingga Chelsea.
Begitu lowongan pelatih top Eropa terbuka, nama Pochettino hampir pasti muncul dalam daftar kandidat. Jika ia pergi di tengah jalan, Amerika Serikat kembali harus memulai dari nol di tengah siklus, persis seperti yang sudah sering terjadi sebelumnya. Inilah salah satu alasan mengapa memperpanjang kontraknya dianggap sebagai tindakan yang terlalu berani.
Pekerjaan yang Berbeda: Kualifikasi 2030 Masih Jauh
Pekerjaan yang akan dihadapi Pochettino pada siklus kedua jauh berbeda dari yang ia emban sebelumnya. Kualifikasi Piala Dunia 2030 bahkan belum dimulai hingga November 2027, dan sebelum itu ia harus melewati berbagai agenda Concacaf Nations League dan Gold Cup. Belum lagi segudang laga persahabatan melawan lawan-lawan yang seharusnya bisa dikalahkan setiap kali bertemu.
Babak final kualifikasi baru akan dijalani pada Juni 2028 dan musim gugur 2029, setelah kembali diisi agenda Nations League dan Gold Cup yang berulang. Yang lebih penting, Concacaf kini memiliki enam jatah langsung ke Piala Dunia berikutnya plus kemungkinan jatah ketujuh lewat play-off. Sebagai perbandingan, untuk Piala Dunia 2022 kawasan ini hanya mendapat tiga jatah otomatis.
Dengan kelonggaran itu, taruhan dan tekanan yang dihadapi Pochettino tidak akan sebesar sebelumnya. Adrenalin laga-laga berisiko tinggi yang membuat turnamen terasa hidup masih sangat jauh di depan. Ia justru harus menjalani bertahun-tahun melawan tim-tim peringkat bawah yang hampir pasti bisa dikalahkan, sebuah tantangan motivasi yang tidak bisa dianggap remeh.
Sejarah Kelam Pelatih Timnas AS di Siklus Kedua
Catatan pelatih timnas AS yang bertahan untuk siklus kedua tidak pernah bersahabat. Hampir semua pelatih yang mencoba bertahan justru mengalami kegagalan yang lebih buruk dari siklus pertama. Berikut rekam jejaknya:
- Bruce Arena: bertahan setelah Piala Dunia 2002, tetapi tim yang nyaris mencapai semifinal itu justru tersingkir di babak penyisihan grup pada 2006.
- Bob Bradley: hanya bertahan setahun setelah Piala Dunia 2010 sebelum dipecat menyusul kekalahan 4-2 dari Meksiko di final Gold Cup 2011.
- Jürgen Klinsmann: menjalani siklus kedua yang berantakan, yang menjadi cikal bakal kegagalan Amerika lolos ke Piala Dunia 2018.
- Gregg Berhalter: masa kepulangannya diwarnai skandal dan berakhir dengan kegagalan memalukan di Copa América di kandang sendiri.
Semua kegagalan itu memiliki satu kesamaan: para pelatih kesulitan menjaga kesegaran program tim ketika siklus harus dimulai kembali dari nol. Pochettino tentu tidak kebal terhadap masalah serupa, apalagi ia menjalani siklus pertama yang jauh lebih pendek karena baru bergabung kurang dari dua tahun sebelum Piala Dunia. Ia belum pernah membawa tim melalui seluruh rangkaian siklus, sehingga daya tahannya dalam periode transisi panjang masih belum teruji.
Ancaman Cedera dan Biaya yang Tidak Murah
Kekhawatiran lain datang dari kondisi fisik para pemain inti. Dari kelompok yang terdiri atas Christian Pulisic, Tyler Adams, Weston McKennie, Antonee Robinson, Sergiño Dest, dan Chris Richards, hanya McKennie yang relatif terbebas dari cedera besar yang berulang. Ketika Richards mengalami cedera menjelang Piala Dunia, kepanikan langsung melanda karena tim sadar betapa rapuhnya kedalaman skuad mereka.
Ketergantungan pada Pulisic juga menjadi tanda tanya besar. Ia ditarik keluar pada babak pertama saat melawan Paraguay dan tidak pernah bermain penuh 90 menit sepanjang turnamen, dengan hanya satu kali bertahan lebih dari satu jam di lapangan. Ini menunjukkan bahwa meski kualitas permainan meningkat, tim ini tidak pernah lebih dari satu atau dua cedera dari kehancuran.
Soal biaya, mempertahankan Pochettino jelas tidak murah. Berdasarkan laporan pajak, ia menerima lebih dari 5 juta dolar AS dalam tujuh bulan pertama bekerja, dengan tambahan pembayaran dari miliarder pendukung US Soccer, Ken Griffin. Griffin kembali menjadi pendana utama kontrak baru ini, yang membuat Pochettino tetap menjadi salah satu pelatih dengan bayaran tertinggi di sepak bola internasional.
Lalu, apakah investasi sebesar itu sepadan untuk laga-laga awal kualifikasi melawan Nikaragua atau pertemuan berulang dengan Jamaika dan Panama? Sebuah analogi sederhana mungkin paling tepat menggambarkan situasi ini: tidak ada orang yang membeli supercar hanya untuk dipakai bolak-balik ke minimarket. Dalam beberapa tahun ke depan, timnas AS lebih banyak menjalani aktivitas harian biasa—mengantar anak ke sekolah dan bolak-balik ke perkantoran—daripada melaju kencang di jalan bebas hambatan.
Kesimpulan: Taruhan Besar yang Bisa Berbalik Arah
Keputusan mempertahankan Pochettino tentu memiliki logika tersendiri, mengingat ia sudah membangun fondasi yang kokoh dan layak diberi kesempatan membangun di atasnya. Namun, seperti ditulis Leander Schaerlaeckens, penulis buku The Long Game yang mengajar di Marist University, langkah ini tetap merupakan pertaruhan yang mahal dan penuh ketidakpastian. Sejarah kegagalan siklus kedua menjadi pengingat bahwa memulai lagi dari nol bukanlah hal yang mudah di sepak bola Amerika.
Kini Pochettino punya waktu empat tahun untuk membuktikan bahwa ia berbeda dari para pendahulunya. Jika berhasil, keputusan ini akan dikenang sebagai langkah cerdas US Soccer; jika gagal, ia akan menjadi salah satu keputusan yang paling disesali. Hanya waktu yang bisa menjawab apakah investasi besar ini akan terbayar lunas atau justru menjadi pengeluaran yang sia-sia.
