Jordan Pickford Terancam di Laga Inggris Kontra Kroasia

Jordan Pickford kembali dipercaya berdiri di bawah mistar gawang Timnas Inggris saat menghadapi Kroasia di Stadion HNK Rijeka, Sabtu malam, dalam situasi yang tidak lagi sesantai beberapa tahun terakhir. Posisi kiper berusia 32 tahun itu untuk pertama kalinya benar-benar terasa terancam sejak ia menjadi pilihan utama tepat sebelum Piala Dunia 2018, menyusul penampilan meyakinkan James Trafford pada dua laga awal Inggris di Grup A3 Nations League. Duel melawan Kroasia juga mempertemukannya dengan Luka Modric, sosok yang dua dekade lalu menjadi bagian dari luka lama bagi kiper nomor satu Inggris.

Keputusan Thomas Tuchel membagi menit bermain di sektor penjaga gawang membuat persaingan ini jadi sorotan utama. Trafford mendapat kesempatan tampil saat Inggris menghadapi Spanyol dan Ceko, sementara Pickford dijadwalkan kembali mengawal gawang melawan Kroasia dan diperkirakan tetap bermain ketika Inggris menjamu Ceko pada Selasa nanti. Pelatih asal Jerman itu beralasan ingin menguji Trafford melawan lawan kelas elite, sekaligus menegaskan bahwa Pickford tidak melakukan kesalahan apa pun. Meski demikian, pintu kompetisi di posisi kiper Inggris kini terbuka lebih lebar daripada sebelumnya.

Pembagian Menit Bermain ala Thomas Tuchel

Keputusan Tuchel membagi jatah bermain bukan tanpa alasan. Trafford dipercaya turun pada dua pertandingan pertama Grup A3 dan tampil solid, baik ketika menghadapi Spanyol maupun Ceko. Penampilan itu memberi manajemen tim alasan untuk melihat lebih dekat apakah sang kiper muda mampu menjaga levelnya ketika menghadapi lawan dengan kualitas lebih tinggi.

Sementara itu, Pickford tetap mendapat porsi utama. Melawan Kroasia, ia akan mencatatkan penampilan ke-92 bersama Timnas Inggris. Jumlah itu menegaskan statusnya sebagai salah satu kiper paling berpengalaman yang pernah dimiliki Inggris, sekaligus memperlihatkan betapa sulitnya menggantikan sosok yang sudah bertahan bertahun-tahun di posisi tersebut.

Statistiknya pun mendukung posisinya. Pickford disebut telah memecahkan rekor penampilan kiper Inggris di Piala Dunia milik Peter Shilton. Ia juga berperan besar membawa Inggris ke dua final turnamen besar dan bersinar dalam kemenangan adu penalti atas Kolombia pada Piala Dunia 2018 serta Swiss pada Euro 2024. Di level klub, penyelamatannya saat menepis voli keras Sandro Tonali dalam kemenangan Everton atas Newcastle pada Februari lalu dinilai sebagai penyelamatan terbaik Premier League musim 2025-26.

Rekam Jejak Jordan Pickford dan Rekor yang Sudah Ia Pecahkan

Rekam jejak Pickford di Timnas Inggris sebenarnya sulit dibantah. Ia bukan hanya kiper dengan jumlah penampilan besar, tetapi juga figur yang berkali-kali muncul sebagai penentu di momen paling menegangkan. Adu penalti kontra Kolombia dan Swiss menjadi bukti bahwa tekanan tinggi tidak selalu membuatnya goyah.

Namun penilaian atas seorang kiper tidak pernah hanya soal jumlah caps. Pickford dinilai tetap punya kelemahan yang bisa dieksploitasi, terutama ketika Inggris berusaha membangun serangan dari belakang. Dengan kompetisi yang kini lebih terbuka, setiap kesalahan kecil berpotensi dibandingkan langsung dengan performa Trafford yang sedang menanjak.

Di sisi lain, pengalaman Pickford tetap menjadi modal berharga. Laga melawan Kroasia akan menentukan seberapa jauh Inggris melangkah di Nations League, dan pertandingan sebesar ini biasanya menuntut kiper yang sudah terbiasa menghadapi atmosfer tekanan. Inilah alasan utama mengapa Tuchel masih menyebutnya sebagai kiper nomor satu.

Sejarah Kelam Posisi Kiper Nomor Satu Inggris

Untuk memahami kenapa persaingan ini terasa sensitif, kita perlu menengok dua dekade ke belakang. Pertemuan pertama Inggris dengan Modric terjadi di Zagreb, ketika Kroasia masih dilatih Slaven Bilic, yang kini kembali menangani tim nasional untuk periode keduanya. Tuan rumah mendominasi dan menang 2-0, sekaligus membuat langkah Steve McClaren menuju Euro 2008 semakin terpuruk.

Laga itu paling dikenang karena blunder mengerikan sang kiper nomor satu Inggris ketika itu, Paul Robinson. Ia seperti ingin ditelan bumi setelah kakinya menendang udara dan umpan balik Gary Neville menggelinding masuk ke gawang sendiri. Robinson memang masih tampil sepuluh kali lagi setelahnya, tetapi setelah kesalahan krusial berikutnya melawan Rusia pada Oktober 2007, ia tidak pernah lagi mengenakan seragam Timnas Inggris.

Sejarah itu menunjukkan betapa rapuhnya posisi seorang penjaga gawang. Joe Hart juga pernah mengalami penurunan tajam setelah sempat menjadi pilihan utama. Pola yang sama kini mengintai Pickford, dan itulah sebabnya keputusan Tuchel memberi Trafford dua pertandingan awal terasa seperti sinyal yang tidak bisa diabaikan.

Keraguan Musim Panas Lalu dan Bayang-bayang Trafford

Tekanan dari Trafford dianggap nyata, terutama karena penampilan Pickford sempat naik-turun pada musim panas lalu. Ia terlihat gugup saat menguasai bola dan beberapa kali membuat keputusan yang merugikan timnya sendiri. Dalam kemenangan 4-2 Inggris atas Kroasia pada laga pembuka, ia dinilai terlalu mudah dilewati untuk salah satu gol lawan.

Daftar kesalahannya cukup panjang. Pickford membiarkan gol Brian Cipenga untuk Republik Demokratik Kongo masuk di tiang dekat, dan membiarkan umpan silang Andreas Schjelderup bersarang di gawangnya saat melawan Norwegia. Momen-momen seperti itu yang membuat publik mulai mempertanyakan apakah ia masih layak menjadi pilihan pertama.

Sisi lain dari cerita ini juga perlu dicatat. Pickford tampil cemerlang ketika Inggris menghadapi Meksiko, tetapi penampilannya di semifinal melawan Argentina mengecewakan. Enzo Fernández terus mencoba peruntungan dari jarak jauh dan akhirnya menemukan sasaran pada percobaan keempatnya, yang membuat Argentina menyamakan kedudukan. Kamera bahkan menangkap Jude Bellingham seolah mengatakan bahwa tembakan gelandang Argentina itu mengarah “di tengah gawang”.

Pembelaan Pickford dan Sesi Mental Tiga Jam

Pickford menanggapi gol Fernández dengan nada tenang. “Saya berusaha memindai keberadaan bola,” ujarnya. “Ada banyak sekali badan di depan saya. Dia mendapat sentuhan bebas lalu menembak. Bolanya menjauh dari saya. Bola bergerak sangat cepat di sana.”

Ia juga menyoroti cara orang menilai seorang kiper. “Anda sendiri tahu kalau sebenarnya bisa berbuat lebih baik. Pertanyaan selalu ada, tapi menurut saya kalau Anda bukan ahli kiper, Anda tidak tahu apa yang sedang dibicarakan,” katanya. “Kalau saya berdiri tiga yard lebih ke kanan lalu Fernández menempatkan bola rendah ke kiri, Anda tetap akan dipertanyakan, apa pun yang terjadi.”

Untuk menjaga fokus, Pickford tidak membiarkan kebisingan di luar memengaruhi dirinya. Ia menjalani sesi selama tiga jam bersama pelatih mentalnya pada Kamis malam. Ia mengaku menghormati persaingan dari Trafford, meski sebelumnya ia juga pernah absen dua pertandingan beruntun ketika Southgate memberi kesempatan kepada Aaron Ramsdale di Nations League 2022. Ia pun sempat digantikan Dean Henderson saat Inggris mengalahkan Prancis di laga perebutan medali perunggu.

Bola Panjang, Pressing, dan Peran Kiper Modern

Faktor menarik lain adalah cara Inggris membangun serangan. Laporan FIFA soal Piala Dunia menunjukkan kiper kini memegang peran semakin penting dalam membantu tim lolos dari pressing lawan. Pickford punya tendangan keras dan banyak melepas bola panjang selama Piala Dunia, sesuatu yang dianggap sebagai keunggulan sekaligus kelemahan tergantung situasi.

Tuchel sendiri menyebut hal itu sebagai kekuatan. “Ini kekuatan besar Jordan karena jangkauannya luas,” katanya. Meski begitu, ada momen ketika sang pelatih terlihat frustrasi karena kipernya memilih memainkan bola panjang alih-alih membangun serangan pendek.

Sebaliknya, Trafford sempat memperlihatkan keberanian berbeda. Ia menggoda pressing lawan lalu melepaskan umpan sempit yang presisi ke Lewis Hall dalam kemenangan atas Ceko di Praha Selasa lalu. Perbandingan gaya bermain inilah yang membuat kompetisi di posisi kiper semakin menarik untuk diikuti.

Laga di Rijeka dan Taruhan Nations League

Pertandingan di Stadion HNK Rijeka seharusnya berlangsung tanpa penonton, sebagai hukuman atas insiden rasisme dalam laga Nations League Kroasia melawan Prancis tahun lalu. Stadion itu berkapasitas 8.279 penonton, tetapi laga diperkirakan tetap dihadiri sekitar 100 penggemar Inggris serta antara 5.000 hingga 6.000 anak-anak lokal. Pada 2018, kedua tim juga pernah bermain imbang tanpa gol di Rijeka dengan kondisi tanpa penonton.

Modric menjadi nama yang wajib diwaspadai. Ia mencetak gol dalam kemenangan Kroasia atas Ceko pekan lalu dan masuk dari bangku cadangan saat timnya kalah 4-1 di Spanyol pada Selasa. Inggris sendiri kini berada di posisi kedua di belakang Spanyol setelah kalah dari juara dunia pada akhir pekan lalu.

Pertanyaan taktis juga menumpuk untuk Tuchel. Apakah ia tetap mempertahankan Trent Alexander-Arnold dan membiarkan bek kanan itu membangun pemahaman dengan Bukayo Saka? Dengan absennya Declan Rice, apakah Myles Lewis-Skelly tetap berduet dengan Elliot Anderson di lini tengah, atau Alex Scott mendapat kesempatan? Semua keputusan itu akan memengaruhi kualitas laga di depan gawang Pickford.

Tuchel bahkan sempat melontarkan peringatan halus terkait Rice. “Apakah Declan masih menjadi titik tetap di tim saya?” ujarnya. “Ya, tapi pemain lain mulai datang dan memberi kesan.” Peringatan itu paling terasa di sektor penjaga gawang, tempat persaingan kini berjalan paling ketat.

Laga melawan Kroasia akan sangat menentukan apakah Inggris melaju ke final Nations League tahun depan. Di tengah semua itu, Pickford dituntut menjawab keraguan dengan penampilan yang meyakinkan, karena tekanan dari Trafford tidak akan hilang hanya dengan status sebagai kiper nomor satu.

Bagi Inggris, pertandingan ini bukan sekadar soal tiga poin atau satu tempat di klasemen. Ini juga momen untuk memastikan bahwa kiper yang dipercaya mengawal gawang di turnamen besar benar-benar masih yang terbaik. Jawabannya baru akan terlihat setelah bola menggelinding di Rijeka.