Etihad Airways, sponsor utama Manchester City, sedang mempertimbangkan langkah hukum terhadap Premier League. Rencana itu muncul setelah liga mempublikasikan inti keputusan komisi independen yang memuat lebih dari 100 temuan pelanggaran aturan keuangan oleh klub tersebut. Maskapai nasional milik Uni Emirat Arab itu menyampaikan sikapnya lewat pernyataan resmi yang dirilis pada Rabu malam.
Meski namanya tidak tercantum dalam laporan yang dipublikasikan, Etihad menilai keputusan komisi tetap membawa implikasi merugikan bagi citra dan kepentingan bisnisnya. Maskapai ini pun menyatakan akan mencari nasihat hukum untuk menimbang opsi serta langkah yang tersedia guna melindungi kepentingannya. Langkah tersebut menandai babak baru perseteruan antara Manchester City dan Premier League, karena kali ini pihak yang bereaksi adalah mitra komersial terbesar klub, bukan hanya klubnya sendiri.
Isi Pernyataan Resmi Etihad Airways
Dalam pernyataannya, Etihad Airways menyatakan menolak secara mutlak putusan bersalah dari komisi independen. Maskapai itu menyebut keputusan tersebut berpotensi menimbulkan implikasi merugikan, kendati nama mereka tidak disebut dalam dokumen yang dirilis ke publik. Penolakan itu disampaikan dengan nada tegas, mencerminkan kekhawatiran bahwa kesimpulan komisi bisa dibaca sebagai sindiran terhadap praktik bisnis mereka.
Etihad menegaskan tidak pernah dilibatkan dalam proses pemeriksaan. Menurut pernyataan itu, Premier League sama sekali tidak menghubungi atau mengajak maskapai tersebut berkomunikasi selama proses yang berkaitan dengan opini komisi berlangsung. Akibatnya, Etihad mengaku tidak pernah diberi kesempatan untuk diwakilkan, menyampaikan informasi relevan, maupun memastikan akurasi dan keadilan informasi yang menjadi dasar kesimpulan yang kini bisa ditafsirkan merugikan mereka.
Maskapai itu juga menyoroti cara Premier League mengomunikasikan hasil pemeriksaan kepada publik. Mereka menilai kurangnya kejelasan dan transparansi, ditambah pengungkapan informasi secara selektif, telah menciptakan dampak buruk bagi Etihad. Dalam pernyataannya, Etihad meminta Premier League bertanggung jawab atas konsekuensi dari cara temuan-temuan tersebut disajikan.
Meski berselisih dengan Premier League, Etihad menegaskan komitmennya terhadap Manchester City tetap kuat. Mereka menyebut bangga atas kemitraan panjang dengan klub tersebut dan menilai nama Etihad telah lama dibawa klub beserta stadionnya, sebagai bagian dari kerja sama yang menghubungkan mereka dengan jutaan pendukung di seluruh dunia. Etihad juga menyatakan berdiri bersama klub, para pendukung, dan komunitas mereka sembari City menantang kesimpulan komisi melalui proses yang tersedia.
Latar Belakang Kemitraan Etihad dan Manchester City
Etihad bukan sekadar sponsor biasa bagi Manchester City. Sebagai maskapai nasional milik negara Uni Emirat Arab, Etihad telah menjadi sponsor utama kaus klub sejak 2009 dan menjadi sumber utama transformasi pendapatan City pada periode awal. Peran itu membuat nama Etihad identik dengan era kebangkitan finansial klub di panggung sepak bola Inggris.
Pada 2011, City mengumumkan kesepakatan hak penamaan stadion selama 10 tahun senilai £400 juta untuk Etihad Stadium. Kesepakatan itu kemudian diperpanjang pada 2021 dengan syarat yang lebih menguntungkan. Nilai kontrak sebesar itu menjadikan Etihad salah satu pilar utama pemasukan komersial klub, sekaligus alasan mengapa namanya begitu melekat pada proyek besar City.
Sementara itu, komisi independen menemukan City bersalah karena menggelembungkan pendapatan mereka sebesar £900 juta. Penggelembungan itu dilakukan melalui kontrak sponsor yang disebut sebagai akad semu, yang secara diam-diam didanai oleh pemilik klub, Abu Dhabi United Group. Temuan inilah yang menjadi dasar seluruh perselisihan yang kini melibatkan Etihad secara tidak langsung.
Mengapa Etihad Merasa Dirugikan
Posisi Etihad dalam kasus ini cukup unik. Nama mereka tidak disebut dalam temuan yang dipublikasikan karena dokumen tersebut telah disunting, namun implikasi dari keputusan komisi dianggap tetap mengarah pada maskapai tersebut. Etihad menilai bahwa pembaca bisa menarik kesimpulan sendiri tentang peran mereka, terutama karena kontrak sponsor menjadi inti temuan komisi.
Dalam pernyataannya, Etihad mengulang istilah “opini” yang sebelumnya digunakan oleh Chief Executive Manchester City, Ferran Soriano. Dalam video luar biasa yang dikirim kepada staf klub, Soriano menyebut keputusan komisi sebagai sebuah opini, bukan fakta final. Pengulangan istilah yang sama menunjukkan Etihad menyelaraskan narasinya dengan sikap klub yang menolak kesimpulan komisi.
Etihad juga menyoroti adanya periode kebocoran selektif dan pemberitaan sebelum publikasi resmi. Mereka menilai rangkaian peristiwa itu memperbesar dampak buruk bagi reputasi maskapai. Karena itu, Etihad tidak hanya menyoal isi keputusan, tetapi juga cara keputusan tersebut sampai ke ruang publik.
Implikasi bagi Manchester City dan Premier League
Pernyataan Etihad menambah tekanan bagi Manchester City yang tengah menantang kesimpulan komisi. Dukungan terbuka dari sponsor utama memberi klub sekutu tambahan dalam menghadapi liga, setidaknya dari sisi narasi publik. Namun, langkah ini juga berisiko menarik perhatian lebih besar pada hubungan komersial antara klub dan pihak-pihak yang terkait dengan pemiliknya.
Bagi Premier League, potensi gugatan dari sponsor utama salah satu klub anggotanya menimbulkan pertanyaan tentang cara liga mengomunikasikan hasil pemeriksaan. Etihad secara eksplisit mempersoalkan transparansi dan pengungkapan informasi yang selektif. Kritik semacam ini bisa memengaruhi persepsi publik terhadap kredibilitas proses yang dijalankan liga.
Dari sudut pandang bisnis, kasus ini memperlihatkan bagaimana sengketa regulasi tidak lagi berhenti di meja klub. Mitra komersial yang namanya ikut terseret dapat memilih membela diri secara hukum demi melindungi nilai merek. Situasi ini berpotensi mengubah cara sponsor menilai risiko bekerja sama dengan klub-klub besar, terutama yang tengah menghadapi sengketa dengan otoritas liga.
Apa yang Mungkin Terjadi Berikutnya
Etihad menyatakan akan mencari nasihat hukum mengenai opsi dan langkah yang bisa ditempuh untuk melindungi kepentingannya. Artinya, langkah hukum yang mereka pertimbangkan masih berada di tahap kajian, belum berupa gugatan resmi. Keputusan Etihad selanjutnya akan sangat bergantung pada hasil telaah tersebut serta perkembangan proses yang sedang dijalani Manchester City.
Di sisi lain, pernyataan Etihad menegaskan bahwa maskapai tersebut tetap berdiri bersama klub dan para pendukungnya. Sikap itu menunjukkan bahwa meski bersitegang dengan Premier League, hubungan mereka dengan Manchester City tidak dalam posisi renggang. Justru sebaliknya, krisis ini tampak memperkuat aliansi antara klub dan sponsor utamanya.
Yang perlu dicermati adalah bagaimana Premier League menanggapi permintaan Etihad agar liga bertanggung jawab atas cara temuan tersebut disajikan. Jika liga tidak memberi respons yang memadai, bukan tidak mungkin maskapai tersebut melangkah lebih jauh ke ranah hukum. Sebaliknya, komunikasi yang lebih terbuka bisa meredakan ketegangan sebelum berkembang menjadi sengketa yang lebih rumit.
Kesimpulan
Etihad Airways mempertimbangkan langkah hukum terhadap Premier League karena merasa keputusan komisi independen membawa implikasi merugikan, meskipun namanya tidak tercantum dalam laporan yang dipublikasikan. Maskapai itu menolak segala temuan yang menyiratkan keterlibatan mereka dalam pengaturan komersial yang tidak patut dan mempersoalkan cara liga mengomunikasikan hasil pemeriksaan. Etihad juga menegaskan tidak pernah dilibatkan dalam proses pemeriksaan sebelum kesimpulan diambil.
Kasus ini menunjukkan bahwa dampak sengketa aturan keuangan sebuah klub bisa meluas ke mitra komersialnya. Sambil menunggu langkah hukum yang mungkin ditempuh Etihad, perhatian publik akan tertuju pada dua hal: bagaimana Manchester City menantang kesimpulan komisi, dan bagaimana Premier League menanggapi kritik soal transparansi yang kini datang dari sponsor utama salah satu klub anggotanya.
