Kasus Manchester City: Restitusi, Bukan Sekadar Retribusi

Kasus Manchester City memasuki babak baru yang jauh lebih rumit daripada sekadar perdebatan soal poin dan trofi. Dalam kolomnya, jurnalis Jonathan Liew menyoroti situasi setelah muncul kabar bahwa Manchester City dinyatakan bersalah atas seluruh tuduhan finansial yang diajukan Premier League. Alih-alih langsung membahas sanksi, ia justru melempar pertanyaan mendasar: hukuman seperti apa yang benar-benar adil bagi sebuah klub yang sudah telanjur menjelma menjadi instrumen diplomasi sebuah negara?

Pertanyaan itu penting bukan hanya bagi pendukung City, tetapi bagi seluruh ekosistem sepak bola Inggris. Sebab apa yang terjadi pada City menyentuh isu yang jauh lebih luas: kepemilikan negara atas klub, arus uang dari penonton dan penyiar, hingga kepercayaan publik terhadap kompetisi yang mereka tonton setiap pekan. Liew sendiri menegaskan bahwa tulisannya adalah sebuah prospektus pribadi, bukan putusan hukum, dan ia memandu argumennya dengan dua prinsip utama yang akan dibedah dalam artikel ini.

Reaksi Publik dan Guyonan yang Menyelimuti Kasus Manchester City

Begitu kabar tersebut mencuat, reaksi publik bergerak cepat ke wilayah yang khas Inggris: satire. Liew mencatat bagaimana akun Sainsbury’s di Instagram mengunggah gambar bertuliskan candaan tentang “barang tak terduga di area pengemasan”, sementara Domino’s Pizza tanpa henti menggoda dengan klaim receh soal topping nanas. Kota Manchester pun seolah berubah menjadi panggung komedi kolektif, tempat kemarahan disalurkan lewat lelucon.

Para penggemar City pun tak luput. Seorang pendukung di BBC 5 Live berargumen bahwa sikap klub menantang aturan yang dianggap tidak adil merupakan bagian dari tradisi pembangkangan sipil, dari gerakan suffragette hingga peristiwa Peterloo, dan karena itu bisa dibenarkan. Liam Gallagher menambah bumbu lewat ocehan tengah malam di platform X, termasuk perbandingan yang menyamakan City dengan sosok yang siap mati di kayu salib. Balasan paling populer untuk unggahan itu, menurut Liew, justru sebuah plesetan judul lagu Oasis.

Bagi Liew, gelombang olok-olok ini punya fungsi tersendiri: semacam penyembuhan kolektif, lelucon sebagai terapi. Ia mengingatkannya pada cara orang Inggris menghadapi hampir segala hal, dari pemilu dipercepat sampai kematian selebritas kesayangan. Dalam logika itu, sebelum poin dan gelar dicabut, martabat yang lebih dulu digerogoti.

Serangan Balik Abu Dhabi dan Bayang-Bayang Diplomasi

Namun di dunia nyata, konsekuensi bergerak lebih serius. Ketika City mengajukan banding, Etihad Airways disebut mengancam menggugat Premier League karena dampak merusak dari putusan tersebut. Di saat yang sama, pejabat pemerintah Uni Emirat Arab diam-diam memperingatkan bahwa perkara ini bisa mengancam hubungan diplomatik dan investasi bernilai miliaran poundsterling ke Inggris.

Liew menyoroti kejanggalan di balik ancaman-ancaman itu: semuanya pada dasarnya berasal dari entitas yang sama. Ia mengibaratkan situasi ini seperti pertunjukan teater satu orang di Edinburgh fringe, ketika semua tokoh dimainkan oleh satu aktor yang berlari-lari berganti kostum. Pejabat UEA, jajaran Etihad Airways, dan dewan Manchester City digambarkannya sebagai pihak yang tak benar-benar bisa dipisahkan.

Dari situ muncul pelajaran yang menurut Liew sudah lama terlambat disadari: ketika aktor negara dibiarkan menguasai klub sepak bola, keputusan sekecil apa pun bisa berubah menjadi urusan diplomasi, geopolitik, bahkan perdamaian dan perang. Contoh paling telak adalah sikap Andy Burnham, yang awalnya membela kepemilikan City dengan tegas sebelum tampaknya sadar bahwa berpihak pada klub yang dianggap curang bisa berbuah buruk di sejumlah daerah pemilihan.

Mengapa Mencabut Trofi Bukan Jawaban yang Serius

Prinsip pertama yang dipegang Liew adalah penolakan terhadap upaya menulis ulang sejarah. Menugaskan kembali trofi dan medali, menurutnya, adalah solusi yang tidak serius untuk orang-orang yang juga tidak serius. Ia membandingkannya dengan meminta hiu memuntahkan, menyusun kembali, dan menghidupkan lagi tubuh peselancar yang baru saja dihancurkannya — sesuatu yang mustahil dilakukan.

Mengatakan kepada dunia bahwa apa yang kita saksikan dulu tidak nyata adalah satu hal; menciptakan fiksi berlapis bahwa yang sebenarnya terjadi adalah hal lain sepenuhnya adalah hal yang berbeda. Liew mengutip Jamie Carragher dari Sky Sports yang menegaskan bahwa kemenangan lebih soal momen dan kenangan ketimbang piala, aura kemenangan, dan pusing ringan keesokan harinya. Semua itu, kata Carragher, sudah hilang selamanya dan tak bisa dikembalikan.

Liew menambahkan bahwa City sendiri sudah tahu hal ini sejak awal. Gol Yaya Touré, kemenangan 6-1 di Old Trafford, gol Sergio Agüero, dan gol Vincent Kompany adalah momen yang aman, tersimpan, dan tak tersentuh. Banyak pendukung City akhir-akhir ini berkata, “Kami tahu apa yang kami rasakan,” dan menurut Liew, mereka benar.

Pertanyaan sejenis juga mengemuka pada tataran etika. Liew menyebut perdebatan antara pandangan Kant atau Hegel soal kewajiban membatalkan kerusakan, Durkheim yang melihat hukuman sebagai peneguhan nilai moral bersama, dan Bentham yang menekankan pencegahan kejahatan di masa depan. Dalam kasus ini, tidak ada preseden yang benar-benar sepadan, sehingga tidak ada jawaban yang jelas salah — dan itu yang membuat semuanya kian pelik.

Hukuman Harus Menghantam Pemilik, Bukan Penggemar

Prinsip kedua Liew tegas: hukuman apa pun harus memberi dampak maksimal bagi pemilik City dan dampak seminimal mungkin bagi para penggemarnya. Ia mengakui bahwa pendukung mungkin ikut menikmati hasil kecurangan dan kerap membela pemilik dengan cara yang menyebalkan serta berpikiran sempit. Namun melempar mereka ke bawah bus juga terasa memuaskan secara emosional, bukan menyelesaikan masalah.

Menurut Liew, para penggemar pada akhirnya juga korban dari penipuan besar. Mereka digaslighting, dibohongi, dan diberi tahu bahwa mimpi itu adalah kehidupan nyata. Justru karena mereka begitu ingin mempercayainya, tipu dayanya terasa makin kejam.

Karena itu, segala bentuk penyelesaian yang mencabut klub dari salah satu basis penggemar terbesar di negeri ini dinilai akan gagal. Memaksa klub keluar dari keberadaannya, melumpuhkannya, lalu membiarkannya memohon belas kasihan di dasar rantai makanan, bukan hanya tidak realistis, tapi juga kontraproduktif. Daya tarik komersial Manchester City ikut menopang seluruh liga, sehingga kontrak penyiaran dan komersial harus dirombak jika klub itu dibuang. Pada akhirnya, mengeluarkan City dari sepak bola akan merugikan banyak pihak di puncak industri sepak bola Inggris secara finansial.

Restitusi: Ambil Alih Klub, Lalu Kembalikan kepada Fans

Ada satu jalan keluar yang menurut Liew memenuhi kriteria restitusi meski terkesan mustahil: mengambil alih klub dari pemiliknya. Regulator sepak bola yang baru dibentuk memiliki kewenangan mencopot pemilik yang bermasalah dan memaksa mereka menjual sahamnya. Namun ia mempertanyakan logikanya, karena nilai City kini disebut sekitar £4 miliar, dibandingkan sekitar £200 juta ketika Abu Dhabi United Group mengambil alih pada 2008.

Jika dijual di harga pasar, para pelaku justru bisa pergi dengan keuntungan hingga 20 kali lipat dari investasi awal mereka, sebagian besar karena kecurangan itu sendiri. Karena itu Liew berargumen bahwa City tidak seharusnya dijual, melainkan diambil kembali oleh negara — semacam requisisi atau nasionalisasi. Ia bahkan menyelipkan usul bernada satire seperti memberi klub nama patriotik dan mengembalikan Phil Foden ke kas negara.

Meski terdengar berlebihan, ada preseden terbaru yang bisa dirujuk. Operasional Chelsea sempat dikendalikan pemerintah setelah sanksi dijatuhkan kepada pemiliknya, Roman Abramovich, dan ia setuju melepas klub tersebut. Menurut Liew, langkah itu terasa surealis dan luar biasa, tetapi memang dirancang hanya sebagai tindakan sementara.

Sejumlah tuas lain juga tersedia jika ada kemauan politik. Stadion Etihad dimiliki oleh dewan kota Manchester. Sebuah laporan dari Tax Policy Associates menyebut City berpotensi berutang pajak hingga £12 juta kepada HMRC terkait kontrak Roberto Mancini. Komite Treasury lintas partai pun mendesak HMRC menelusuri temuan dari kasus Premier League ini. Sementara itu, setiap pekan City bertahan di bawah kepemilikan saat ini, uang dari penggemar, penyiar, dan sponsor terus mengalir ke kantong Abu Dhabi — sehingga memperpanjang proses justru menguntungkan pihak yang berkuasa di klub.

Apa Artinya bagi Masa Depan Sepak Bola Inggris

Gagasan negara memiliki taman, jalan tol, museum, atau mengambil alih perusahaan kereta, pabrik baja, dan bank yang bermasalah bukan hal aneh. Dalam setiap kasus itu ada pengakuan bahwa aset tersebut punya nilai sosial lebih luas yang perlu dilindungi dari kekuatan pasar. Liew memakai logika yang sama untuk Manchester City.

Tujuan jangka panjangnya bukan menjalankan City sebagai perpanjangan tangan negara, melainkan mengembalikan klub kepada rakyatnya. Ia membayangkan penyusunan struktur tata kelola secara bertahap yang memberi penggemar suara sungguhan dalam menjalankan klub, sekaligus memfasilitasi penjualan di kemudian hari. Sementara itu, klub tetap dijaga sebagai entitas yang beroperasi dan menghasilkan pendapatan untuk membayar kembali utangnya kepada sepak bola Inggris.

Liew sendiri mengakui bahwa semua ini kemungkinan besar tidak akan terjadi. Abu Dhabi, tulisnya, lebih memilih menyewa 50 pengacara terbaik dunia untuk menggugat Burnham selama 30 tahun ke depan daripada membiarkan salah satu aset berharganya diberikan secara gratis. Namun ia melempar pertanyaan balik: bukankah ini justru yang seharusnya kita inginkan?

Penutup: City Bukan Penyakit, Melainkan Gejala

Jika ada hal berharga yang bisa dipetik dari kasus Manchester City selain meme dan bahan lelucon, mungkin inilah momen untuk memikirkan ulang model kepemilikan sepak bola Inggris secara radikal. Liew menilai sistem yang dibangun atas perpindahan kekayaan besar-besaran dari penggemar ke pemilik pada dasarnya adalah eksploitasi dengan nama lain. Dalam kerangka itu, City bukanlah penyakitnya, melainkan gejalanya.

Dua prinsip yang ia tawarkan tetap menjadi pijakan: menolak menulis ulang sejarah demi kepuasan sesaat, dan mengarahkan hukuman kepada pemilik alih-alih penggemar. Selebihnya, ia mengingatkan satu aturan politik yang paling krusial dan paling sering dilupakan: jangan pernah menyia-nyiakan krisis yang datang.