Komisaris Baru MLS: Promosi Degradasi Tak Segera Hadir

Komisaris baru Major League Soccer (MLS), Larry Berg, menegaskan bahwa sistem promosi degradasi tidak akan diterapkan di liga sepak bola Amerika Serikat tersebut dalam waktu dekat. Pernyataan itu ia sampaikan dalam konferensi pers perkenalannya sebagai komisaris terpilih pada Selasa waktu setempat. Berg dijadwalkan resmi menjabat mulai 2027 menggantikan Don Garber yang telah lama memimpin liga.

Berg, yang juga salah satu pemilik Los Angeles FC (LAFC), mengaku memahami daya tarik promosi dan degradasi bagi para penggemar sepak bola. Namun, ia menilai sistem yang lazim digunakan di liga-liga Eropa dan berbagai kompetisi dunia lainnya itu tidak tepat untuk membangun MLS ke depan. Sikap ini menjadi pernyataan kebijakan paling gamblang dari Berg dalam penampilan publik pertamanya sebagai komisaris terpilih, di hadapan karyawan MLS dan sejumlah jurnalis.

Berg Nilai Promosi Degradasi Tak Tepat untuk MLS

Dalam konferensi pers yang digelar Selasa itu, Berg menjelaskan secara terbuka alasan penolakannya terhadap sistem promosi dan degradasi. “Saya bisa memahami daya tariknya bagi penggemar, tetapi saya tidak pikir ini cara yang bagus untuk membangun liga,” ujarnya. Ia juga menilai sistem tersebut tidak akan membantu pembangunan stadion, fasilitas latihan, maupun mendorong pemilik klub untuk berinvestasi dalam skuad mereka.

Menurut Berg, daya tarik utama sistem promosi dan degradasi bagi penggemar adalah tingkat ketegangan yang sangat tinggi. Namun, ia yakin MLS bisa menciptakan ketegangan serupa melalui kompetisi yang sudah ada. “Ada cara lain untuk menciptakan ketegangan selama musim reguler, dan lagi-lagi di babak playoff untuk melaju ke babak berikutnya,” jelas pria yang juga memiliki saham di AS Roma dan Swansea City ini.

Berg menegaskan bahwa fokus MLS ke depan adalah memperkuat kompetisi yang sudah berjalan, bukan mengubah struktur liga secara fundamental. Menurutnya, ketegangan kompetitif justru bisa diciptakan lewat musim reguler yang ketat dan babak playoff yang dramatis. “Itulah yang ingin kami fokuskan,” tambahnya.

Struktur Unik MLS Menjadi Penghambat Utama

MLS yang mulai berkompetisi pada 1996 memiliki struktur yang berbeda dari liga sepak bola pada umumnya di dunia. Melalui sistem single-entity, kantor pusat liga memegang hak kepemilikan atas seluruh tim dan kontrak pemain. Struktur inilah yang menjadi kunci dalam menekan risiko dan menarik investor pertama saat liga berdiri.

Sistem promosi dan degradasi sendiri tidak pernah diterapkan di MLS karena dua alasan besar. Pertama, jumlah tim yang belum mencukupi untuk membuat sistem tersebut layak dijalankan. Kedua, sistem itu dianggap terlalu berisiko bagi para pemilik klub yang juga berperan sebagai investor-operator bagi liga secara keseluruhan.

Di Amerika Serikat sebenarnya terdapat liga divisi kedua bernama USL Championship yang bisa menjadi kandidat alami untuk sistem promosi dan degradasi. Namun, kedua organisasi tersebut belum menunjukkan ketertarikan untuk bekerja sama. Apalagi sejak tim cadangan MLS ditarik dari USL setelah pandemi Covid-19, hubungan keduanya semakin renggang.

Ekspansi Besar-besaran dan Spekulasi Pro/Rel Internal

MLS telah tumbuh sangat pesat dalam dua dekade terakhir. Jumlah klub meningkat dari hanya 10 tim pada pergantian abad menjadi 30 tim pada 2026 mendatang. Laju ekspansi ini sempat memunculkan spekulasi bahwa MLS bisa saja terus menambah jumlah tim dan memberlakukan versi internal dari sistem promosi dan degradasi, semacam MLS 1 dan MLS 2.

Namun, Berg dengan tegas menepis kemungkinan tersebut. “Saya tidak pikir itu tepat untuk liga kami,” katanya. Ia mengakui bahwa Garber pernah berujar “never say never” mengenai pro/rel, tetapi Berg sendiri tidak melihat sistem itu akan hadir dalam waktu dekat.

Pernyataan Berg ini sekaligus memberi sinyal bahwa arah kebijakan MLS tidak akan banyak berubah di bawah kepemimpinannya. Ekspansi klub kemungkinan tetap berlanjut, tetapi tanpa perubahan struktur kompetisi yang fundamental. Bagi para penggemar yang mendambakan pro/rel, ini tentu bukan kabar yang menggembirakan.

Profil Larry Berg: Dari Private Equity ke Kursi Komisaris MLS

Berg terpilih melalui pemungutan suara dalam pertemuan para pemilik klub MLS pada Senin, sehari sebelum konferensi pers perkenalannya. Proses pemilihan ini merupakan akhir dari pencarian yang menurut Jimmy Haslam, salah satu ketua komite suksesi, dimulai dari “125 pria dan wanita” kandidat. “Beberapa berasal dari olahraga, beberapa dari media, beberapa dari teknologi, dan beberapa murni dari dunia bisnis,” kata Haslam yang juga pemilik Columbus Crew. Konferensi pers perkenalan Berg turut dihadiri oleh Garber dan rekan ketua komite suksesi lainnya, Bennett Rosenthal yang merupakan pemilik LAFC.

Proses seleksi akhirnya mengerucut pada dua kandidat, yaitu Berg dan David Nathanson, mantan eksekutif Fox Sports. Berg sendiri bukan sosok asing di dunia sepak bola global. Selain menjadi salah satu pemilik LAFC, ia juga memegang saham minoritas di AS Roma yang berlaga di Serie A Italia dan Swansea City yang berkompetisi di liga Inggris.

Swansea sendiri terakhir kali bermain di Premier League pada musim 2017-2018. Artinya, Berg memiliki pengalaman langsung sebagai pemilik klub yang berkompetisi di liga dengan sistem promosi dan degradasi. Meski demikian, ia tetap meyakini bahwa sistem tersebut bukan cara yang tepat untuk mengembangkan MLS di Amerika Utara.

Di luar sepak bola, Berg memiliki karier panjang di dunia investasi. Ia bekerja selama 30 tahun di Apollo Global Management dan terakhir menjabat sebagai senior partner di 26North. Ketika ditanya apakah latar belakang private equity-nya akan memengaruhi pendekatannya sebagai komisaris, Berg menilai hal itu justru menjadi keunggulan baginya.

“Saya pikir ada banyak karakteristik dalam private equity yang berlaku untuk hal-hal lain, dan itu bukan hal yang mengejutkan,” ujar Berg. “Ini tentang rasa urgensi, tentang siap turun tangan, mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar, dan menyelaraskan orang untuk tujuan bersama.” Baginya, pada akhirnya pekerjaan komisaris adalah tugas tata kelola yang melibatkan 30 pemilik klub dan banyak konstituen lainnya.

Penolakan Berg terhadap sistem promosi dan degradasi menegaskan bahwa MLS akan tetap bertahan dengan model bisnis single-entity yang telah berjalan selama ini. Meskipun liga terus berkembang dan jumlah klub semakin bertambah, perubahan struktur fundamental tampaknya bukan prioritas. Berg justru ingin mengarahkan fokus pada penguatan kompetisi musim reguler dan playoff untuk menciptakan ketegangan yang diinginkan para penggemar.

Dengan latar belakang investasi global dan pengalamannya memiliki klub di liga Eropa, Berg diharapkan membawa perspektif baru bagi MLS. Namun, bagi para penggemar yang menantikan sistem promosi dan degradasi di Amerika Serikat, mereka harus bersabar lebih lama. Berg sendiri menegaskan, meski tidak menutup kemungkinan sepenuhnya, sistem tersebut tidak akan hadir dalam waktu dekat.