Tottenham Gagal Mencetak Gol, Ternyata Ini Akar Masalahnya

Tottenham gagal mencetak gol dalam empat laga pembuka kompetisi liga untuk kali pertama, sebuah catatan yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Dibutuhkan waktu dua dekade sejak terakhir kali Spurs menutup empat pertandingan Premier League berturut-turut tanpa satu pun gol. Kekosongan di depan gawang itu kini menjadi sorotan utama, meski persoalan sesungguhnya jauh lebih rumit daripada sekadar ketajaman pemain depan.

Masalah Tottenham bukan hanya soal bola yang tidak masuk ke gawang. Perombakan skuad yang besar, rotasi pemain yang terlalu sering, dan badai cedera membuat tim ini belum menemukan bentuk permainannya. Kombinasi itu menjelaskan mengapa serangan mereka terlihat berbahaya sampai kotak penalti lawan, lalu macet begitu saja di langkah terakhir. Artikel ini mengurai apa yang sebenarnya terjadi di balik puasa gol Tottenham musim ini.

Empat Laga Tanpa Gol dan Rotasi yang Tak Berhenti

Hasil imbang tanpa gol melawan Everton pada Sabtu lalu menjadi titik kulminasi dari tren yang mengkhawatirkan. Sebelas pemain yang tampil sebagai starter dalam laga itu rata-rata baru menghabiskan 1,3 tahun bersama klub. Tottenham juga mencatatkan starting XI dengan rata-rata usia termuda ketiga di liga musim ini, sehingga wajar bila banyak pemain belum punya cukup pengalaman, baik secara individu maupun sebagai satu kesatuan tim.

Rotasi yang dilakukan Roberto De Zerbi memperparah keadaan. Sejak pertandingan pertama di liga, ia sudah melakukan 12 perubahan pada susunan pemain intinya, jumlah terbanyak dibandingkan manajer mana pun di divisi tersebut. Dengan rata-rata empat pergantian per laga, komposisi tim berubah jauh lebih sering dibanding musim lalu yang hanya 2,8 perubahan per pertandingan, padahal saat itu Tottenham memakai tiga manajer berbeda. Tidak mengherankan bila tim yang baru dibentuk ulang ini kesulitan menyatu.

Dari sisi komposisi, tingkat perputaran pemain menjadi akar persoalan. Hanya empat pemain yang musim lalu mencatat minimal separuh menit bermain di liga yang masih tampil pada musim ini. Salah satunya Richarlison, yang justru sudah dikeluarkan dari skuad Premier League Tottenham. Padahal kontribusinya musim lalu sangat besar, dengan 15 gol dan assist di liga atau setidaknya dua kali lipat lebih banyak dari pemain Tottenham lainnya, dan kini ia tidak akan mencetak gol maupun memberi assist dalam waktu dekat.

Richarlison juga merupakan pemain dengan masa bakti terpanjang keempat di klub saat ini. Di atasnya hanya ada Ben Davies, Brandon Austin, dan Rodrigo Bentancur, dan dari ketiganya hanya Bentancur yang kemungkinan besar bermain secara reguler.

Cedera dan Tur Pramusim yang Menyisakan Pertanyaan

Badai cedera turut mempersulit De Zerbi membangun tim yang solid. Sang manajer secara khusus menyoroti persiapan pramusim ketika menjelaskan situasi ini. “Micky van de Ven mengalami cedera di Australia. Domi Solanke juga. James Maddison juga. Mateus Fernandes mengalami cedera di Australia, ia kehilangan 15 hari dan pemulihannya tidak begitu cepat,” ujarnya.

Pramusim memang kerap ditentukan oleh tekanan komersial, termasuk negara mana yang harus dikunjungi klub setiap musim panas. Chelsea juga berada di Australia tahun ini, sementara Aston Villa dan Manchester City memainkan laga persahabatan di Asia. Namun Tottenham menjadi satu-satunya klub yang juga menempuh perjalanan ke belahan dunia tersebut pada musim panas sebelumnya, sehingga beban perjalanan mereka terhitung lebih berat.

Data Premier Injuries mencatat Spurs memimpin Premier League untuk jumlah hari yang hilang akibat cedera pada 2025-26, yaitu 1.560 hari. Newcastle menyusul dengan 1.271 hari, Arsenal 1.115 hari, dan Liverpool 967 hari, dan keempat klub tersebut berada di tujuh besar daftar itu. Menariknya, keempatnya juga merupakan klub yang bertandang ke Asia pada musim panas 2025, sehingga tingginya angka cedera bisa jadi hanya kebetulan. Meski demikian, sah-sah saja mempertanyakan apakah perjalanan pramusim yang panjang itu tepat untuk Tottenham.

Bola Sampai ke Area Berbahaya, tetapi Tak Ada Penyelesaian

Sejumlah metrik memperlihatkan dengan jelas di mana letak masalah serangan Tottenham. Klub ini mampu membawa bola ke area berbahaya, tetapi langkah berikutnya selalu menjadi penghambat. Total 46 take-on sukses yang mereka catatkan memimpin Premier League, namun hanya lima dari dribel sukses itu yang berujung pada terciptanya peluang atau tembakan. Manchester United mencatatkan 17 take-on lebih sedikit, tetapi menghasilkan output nyata dengan sembilan peluang atau tembakan, atau hampir dua kali lipat milik Tottenham.

Pola serupa terlihat pada statistik high turnover, yakni momen ketika bola direbut kembali dalam radius 40 meter dari gawang lawan untuk memulai rangkaian penguasaan baru. Spurs menorehkan angka tertinggi keempat musim ini dengan 34 kejadian, namun hanya Coventry yang mencatat angka lebih buruk, dengan hanya dua tembakan yang lahir dari situ. Tottenham hanya menghasilkan upaya gol dari 5,9 persen high turnover mereka, sementara rata-rata liga mencapai 19,9 persen. Tidak ada yang mengalir dengan lancar.

Statistik yang paling merugikan mungkin berkaitan dengan produktivitas di kotak penalti lawan. Total 119 sentuhan di kotak lawan terlihat cukup baik, hanya terpaut satu dari Arsenal, dan posisi mereka pun sering menguntungkan untuk mencetak gol. Namun Tottenham membutuhkan 3,97 sentuhan untuk setiap tembakan di dalam kotak, atau 0,47 lebih banyak dari tim mana pun dan 1,15 di atas rata-rata. Setiap aksi memakan waktu satu ketukan terlalu lama, dan itu fatal bagi banyak skema serangan.

Komposisi Skuad yang Kehilangan Penyelesai Andal

Persoalan bertambah rumit ketika menengok susunan skuad yang ada. Dalam hal gol sepanjang karier di Premier League, bek kiri berusia 32 tahun Andy Robertson menjadi rekrutan musim panas teratas Tottenham dengan koleksi 12 gol. Dominic Solanke, yang sempat menjadi transfer terbesar kedua di Eropa pada musim panas 2024, sampai kini masih lebih banyak mencetak gol di Championship (44) daripada di Premier League (41) dan belum pernah bermain setara 38 laga penuh liga untuk klub ini selama lebih dari dua musim.

Contoh lain datang dari Mikey Moore. Meski hanya bermain 90 menit sebelum dipinjamkan ke Cologne, ia menyumbang seperempat dari tembakan tepat sasaran Tottenham di musim ini, yaitu tiga tembakan. Ironi terbesarnya, Tottenham pernah memiliki dua penembak paling akurat di dunia dalam diri Harry Kane dan Son Heung-min, tetapi kini skuad mereka justru diisi pemain yang kesulitan mengarahkan bola ke sasaran. Sebagian besar pemain rata-rata hanya sedikit di atas standar akurasi tembakan liga, dan banyak pula yang berada di bawahnya.

Perbandingan dengan klub lain memperjelas masalah ini. Chelsea dan Bournemouth sama-sama mencatat 24 tembakan tepat sasaran musim ini, atau dua kali lipat milik Tottenham, padahal total tembakan mereka hanya selisih sembilan lebih banyak. Artinya, masalah Spurs bukan pada frekuensi melepas tembakan, melainkan pada kualitas penyelesaian akhir.

Jalan Panjang Menuju Tim yang Padu

De Zerbi sendiri mengakui kelemahan mendasar timnya, terutama setelah kekalahan di Piala Carabao di Anfield pada Selasa. “Kami harus menembak lebih banyak, menembak lebih baik, dan menyelesaikan situasi jelas dengan lebih baik,” katanya. Dalam laga itu Tottenham sebenarnya mencetak gol, tetapi kesalahan kiper Liverpool, Giorgi Mamardashvili, berperan besar atas gol Conor Gallagher tersebut.

Kenyataan itu menegaskan bahwa Tottenham tidak bisa terus bergantung pada kesalahan lawan untuk menutupi kelemahan jajaran penyerangnya yang boros. Tim ini masih menyimpan potensi, dengan banyak pemain muda yang mampu membawa bola ke area berbahaya, tetapi potensi tersebut belum berubah menjadi ancaman nyata. Pertanyaannya kini bukan lagi soal siapa yang mencetak gol, melainkan seberapa lama para rekrutan baru ini butuh waktu untuk membentuk satu kesatuan yang efektif. Pekerjaan rumahnya masih sangat panjang.