Manchester United kembali menelan hasil pahit di kompetisi domestik setelah tersingkir dari Carabao Cup pada Rabu, dan krisis yang membelit klub itu kini menyeret dua nama sekaligus: Michael Carrick di kursi pelatih kepala serta Jason Wilcox sebagai direktur sepak bola. Sorakan tidak puas bercampur apati mewarnai langkah para pemain meninggalkan lapangan, dengan Carrick dan skuadnya menjadi sasaran utama kekecewaan. Di sisi lain, Wilcox terlihat murung saat meninggalkan kotak direktur, tetapi ia dan jajaran petinggi klub dinilai tetap harus ikut menanggung tanggung jawab atas keputusan-keputusan yang mereka ambil.
Tekanan terhadap Carrick tidak berhenti di satu laga. Jika Manchester United kembali gagal di markas Fulham pada akhir pekan, beban yang dipikulnya dipastikan membesar secara signifikan. Para pendukung sendiri sudah lama memahami siapa yang sesungguhnya mengelola klub, terbukti dari aksi protes rutin yang menyasar keluarga Glazer dan Sir Jim Ratcliffe. Mereka sadar bahwa tidak semua yang terjadi selama 90 menit adalah kesalahan pelatih kepala atau para pemain yang mengenakan kostum klub, sehingga sorakan dan apati itu sesungguhnya menyasar dua hal berbeda: performa jangka pendek dan arah besar klub.
Tekanan pada Michael Carrick Memuncak
Gambaran paling jelas soal apa yang sedang salah di dalam tim terlihat saat menghadapi Brighton. Manchester United sempat unggul dua gol hanya dalam sepuluh menit, tetapi kemudian kalah secara pantas dalam pertandingan yang nyaris tidak mereka ikuti selama 80 menit tersisa. Carrick tentu menyadari kondisi ini, dan hasil tersebut menjadi indikasi kuat bahwa ada persoalan mendasar dalam tim, bukan sekadar nasib buruk semata.
Ironi muncul ketika melihat cara Brighton membangun skuad. Meski datang dengan banyak perubahan, Brighton memiliki deretan talenta menarik yang direkrut dari berbagai penjuru dunia berkat kerja pencarian bakat dan rekrutmen yang cermat. Mereka merekrut pemain dari klub di tujuh negara pada bursa musim panas, sementara Manchester United hanya mendatangkan empat pemain dari sesama klub Liga Primer. Risiko terukur dan dinamisme seharusnya menjadi bagian dari pekerjaan di level ini, tetapi hal itu jarang terlihat di Old Trafford, dan menjadi semakin ironis karena perekrutan paling sukses musim panas lalu justru datang dari Royal Antwerp, yakni Senne Lammens, baik dari sisi harga maupun konsistensi penampilan.
Carrick sendiri tidak bisa lepas dari kritik. Tim ini tampil di bawah standar, dan kemenangan besar atas tim promosi Ipswich maupun klub Azerbaijan, Sabah, tidak cukup menutupi awal musim yang mengecewakan. Lini belakang kesulitan dengan kebobolan tujuh gol dalam empat pertandingan Liga Primer, dan saat melawan Brighton, pasangan Leny Yoro dan Ayden Heaven tampil nyaris tanpa arah. Sementara itu, lini depan terlihat tidak padu dan sulit menciptakan keterhubungan permainan.
Peran Jason Wilcox dan Strategi Rekrutmen yang Dipertanyakan
Wilcox bukan figur baru di Old Trafford. Ia datang pada 2024, awalnya sebagai direktur teknis dari Southampton, dan turut mengawal keputusan mempertahankan Erik ten Hag setelah finis di posisi kedelapan. Ten Hag akhirnya diberhentikan setelah awal musim berikutnya berjalan buruk, lalu manajemen merekrut Ruben Amorim dari Sporting meski taktiknya tidak sejalan dengan skuad yang tersedia dan dana yang ada tidak cukup untuk melakukan perombakan besar yang dibutuhkan. Manchester United mengakhiri musim di posisi ke-15 dan menelan kekalahan memalukan dari Tottenham di final Liga Europa, sebelum Amorim diberhentikan setelah 14 bulan karena kekurangannya. Setelah rangkaian itu, Wilcox kembali diberi kesempatan untuk membenahi keadaan.
Kritik terhadap strategi rekrutmen pun menguat. Carrick dan Wilcox sebenarnya belum bisa dinilai secara utuh sampai Carlos Baleba, pembelian termahal dari tiga akuisisi musim panas, tersedia, karena atributnya diharapkan menjawab masalah mobilitas di lini tengah. Menyasar gelandang tengah memang logis setelah kepergian Casemiro dan ketidakmemadaian Manuel Ugarte, tetapi itu bukan satu-satunya area yang butuh perhatian. Kekurangan menyeluruh pada skuad sebenarnya sudah diakui secara internal, namun kurangnya variasi dalam memperkuat tim terasa naif dan kini terbukti demikian.
Mendatangkan pemain dari sesama klub Liga Primer memang jarang hemat biaya, meski ada logika untuk memangkas waktu adaptasi. Dengan kondisi kekurangan bek kiri dan keterbatasan Joshua Zirkzee, mencari opsi gelandang yang lebih murah daripada Andrey Santos yang dihargai 50 juta poundsterling sebenarnya bisa lebih menguntungkan bagi kesehatan tim secara keseluruhan. Seseorang perlu meredakan tekanan pada Carrick dengan menjelaskan mengapa dianggap paling tepat menghabiskan 155 juta poundsterling untuk tiga pemain di posisi yang sama. Sementara dunia luar hanya bisa berspekulasi, Carrick justru harus menyiapkan rencana alternatif ketika Luke Shaw, seperti yang banyak diperkirakan, harus menepi karena cedera.
Analisis: Kenapa Hanya Pelatih yang Menanggung Konsekuensi
Wilcox pernah menjalankan tugas media internal klub. Pada 30 Oktober 2025, setelah tiga kemenangan beruntun, ia membahas rencana jangka panjang yang kemudian buyar akibat pemecatan Amorim hanya sekitar dua bulan setelahnya. Saat itu keadaan sedang berjalan baik ketika Wilcox membuka diri kepada staf editorial Manchester United, tetapi di luar pernyataan soal pemecatan, ia terlihat tidak punya selera untuk berbicara ketika keadaan memburuk.
Di Eropa, direktur olahraga yang berbicara kepada pers memang hal biasa, tetapi Liga Primer belum mengikuti kebiasaan itu, dan keheningan di Manchester United kian terasa ketika tim berada di posisi ke-13. Ada ketimpangan yang mencolok: kekuasaan membawa tanggung jawab besar, tetapi hanya Carrick yang dipaksa memeluknya. Ten Hag dan Amorim telah jatuh karena kegagalan mereka, sementara figur lain dibiarkan terus melangkah tanpa konsekuensi serupa. Carrick dan Wilcox sama-sama menaruh modal besar untuk kesuksesan tim, namun tampaknya hanya satu orang yang akan merasakan akibatnya jika keadaan tidak membaik.
Perlu dicatat bahwa Wilcox dihormati ketika bekerja sebagai kepala akademi Manchester City, dan mereka yang pernah berurusan dengannya menilai ia luar biasa serta cocok untuk peran di level tersebut. Kini ia disorot dan dikritik atas pekerjaannya di Manchester United setelah naik ke posisi yang lebih tinggi. Banyak pihak di luar klub akan kecewa bila JJ Gabriel akhirnya pergi, tetapi Wilcox tidak bisa disalahkan dalam hal itu karena ia telah berupaya keras meyakinkan pemain tersebut untuk bertahan, termasuk melalui lingkaran terdekat sang remaja.
Konteks Lebih Luas: Belanja, Posisi Klasemen, dan Laga Kontra Fulham
Bagi para pendukung, sulit menerima kenyataan bahwa klub yang kembali berlaga di Liga Champions justru kalah dalam hal belanja dari tim-tim promosi pada musim panas. Namun inilah realitas yang harus dihadapi setelah bertahun-tahun salah urus finansial, dan konsekuensinya adalah dana yang tersedia harus dibelanjakan dengan sangat hati-hati. Fans memahami bahwa sorakan mereka ditujukan untuk satu pertandingan tertentu, sedangkan apati mencerminkan kekhawatiran yang jauh lebih besar terhadap masa depan klub.
Persoalannya, kehati-hatian itu harus diwujudkan dalam keputusan yang tepat, bukan sekadar menumpuk pemain di satu posisi. Kekalahan dari Brighton, ditambah posisi ke-13 di liga dan rekor pertahanan yang rapuh, menunjukkan bahwa masalah Manchester United bersifat struktural, bukan hanya soal motivasi pemain atau pilihan formasi pelatih. Selama persoalan di balik layar tidak dijelaskan secara terbuka, tekanan akan terus menumpuk di kursi pelatih kepala, sementara posisi direktur sepak bola relatif aman dari sorotan publik.
Laga di markas Fulham pada akhir pekan menjadi ujian berikutnya. Kekalahan akan memperbesar tekanan yang sudah ada, sedangkan hasil positif hanya memberi ruang bernapas sementara. Yang lebih penting, pertandingan itu akan menjadi penanda apakah perbaikan yang dijanjikan benar-benar berjalan atau hanya bertumpu pada kemenangan atas lawan-lawan yang jauh lebih lemah.
Kesimpulan
Krisis Manchester United tidak bisa dijelaskan hanya dengan menunjuk satu nama. Carrick memang bertanggung jawab atas performa tim di lapangan, tetapi Wilcox dan jajaran petinggi klub memegang peran besar dalam keputusan jangka panjang yang membentuk skuad saat ini. Selama hanya pelatih kepala yang menanggung akibat sementara pihak lain terus melanjutkan tanpa evaluasi yang setara, persoalan yang sama berpotensi berulang di musim-musim berikutnya.
Laga kontra Fulham akan menjadi momen penting untuk menilai arah klub, tetapi seberapa pun hasilnya nanti, pertanyaan yang lebih mendasar tentang siapa yang sebenarnya bertanggung jawab masih menunggu jawaban. Para pendukung Manchester United bukan hanya ingin kemenangan sesaat, melainkan bukti bahwa klub ini dikelola dengan arah yang jelas dan konsisten.
