Hadiah Perdamaian FIFA: dari Palsu Jadi Bermakna

Hadiah perdamaian FIFA kini berada di titik terendah dalam sejarah singkatnya. Setelah sempat diserahkan kepada Donald Trump, trofi itu dialihkan oleh Presiden FIFA Gianni Infantino ke komite tanggung jawab sosial federasi tersebut. Langkah ini bukan untuk membuangnya, melainkan untuk menyelamatkannya sekaligus menghindarkan Infantino dari rasa malu karena harus mengakui bahwa penghargaan buatannya sejak awal memang hadiah palsu.

Polemik ini penting karena menyangkut cara FIFA mengelola citra dan kekuasaan di bawah Infantino. Hadiah perdamaian FIFA pertama kali diciptakan untuk menyenangkan Trump, sosok yang ia butuhkan agar potensi ekonomi pasar Amerika Utara tetap aman. Alih-alih menjadi pengakuan atas jasa kemanusiaan, penghargaan itu lebih berfungsi sebagai alat diplomasi personal. Ulasan ini sendiri merupakan opini Leander Schaerlaeckens, pengajar di Marist University dan penulis buku tentang perjalanan sepak bola Amerika Serikat.

Kronologi Hadiah Perdamaian FIFA untuk Trump

Pemberian pertama hadiah perdamaian FIFA berlangsung dalam suasana yang jauh dari khidmat. Infantino menyerahkan sebuah benda emas besar dan medali yang langsung dikalungkan Trump ke lehernya sendiri. Trump pun tampak sangat gembira dan sempat melupakan Nobel perdamaian yang selama ini ia idam-idamkan. Dalam konteks tujuannya, pemberian itu justru bisa disebut sukses besar karena berhasil membuat Trump senang.

Motif di balik pemberian tersebut juga tidak sulit ditebak. Infantino membutuhkan Trump tetap berpihak kepadanya demi mengamankan keuntungan dari pasar Amerika Utara. Keuntungan itu penting untuk memperkuat basis kekuasaannya di dalam FIFA. Karena itu, hadiah perdamaian FIFA lebih tepat dibaca sebagai instrumen politik ketimbang penghormatan atas nilai perdamaian.

Komite Tanggung Jawab Sosial dan Upaya Mencuci Citra

Kini hadiah itu berada di tangan komite tanggung jawab sosial beranggotakan 22 orang. Menurut kritik yang diangkat dalam artikel ini, komite tersebut adalah salah satu dari puluhan komite tetap yang dibentuk Infantino untuk membagi-bagikan tunjangan kepada para sekutunya. Komite itu diberi tugas merombak hadiah menjadi pengakuan atas harmoni dan tanggung jawab sosial.

Seperti dilaporkan The Guardian, komite tersebut kemungkinan akan berupaya mendepolitisasi penghargaan itu. Salah satu caranya adalah berhenti memberikannya kepada politisi. Alasannya sederhana: untuk sementara ini tidak ada calon otokrat yang perlu dirayu. Mohammed bin Salman, penguasa de facto Arab Saudi sekaligus tuan rumah Piala Dunia 2034, tampaknya tidak menyukai hal semacam itu.

Monumen Kesalahan Infantino dan Ujian Berikutnya

Wujud pertama hadiah perdamaian FIFA akan tetap dikenang sebagai monumen kesalahan Infantino. Ia menjadi puncak kesombongan dan lambang era ketika Infantino berlutut di hadapan para pemimpin otoriter. Reputasi itu hanya bisa berubah bila ia mampu melewati badai akibat upayanya memprivatisasi sebagian Piala Dunia. Andai ia lolos, ia mungkin muncul kembali dalam kondisi lebih hati-hati, jika sifat itu masih ada padanya.

Ada pula ujian lain yang menantinya, yakni pemilihan presiden FIFA pada Maret nanti. Bila ia bertahan, perombakan hadiah perdamaian FIFA bisa menjadi salah satu cara memperbaiki citranya. Namun bila ia tersandung, nasib penghargaan itu ikut bergantung pada arah kepemimpinan berikutnya.

Potensi Baru: Menyorot Kebaikan Sepak Bola

Meski begitu, versi kedua hadiah perdamaian FIFA menyimpan potensi yang tulus. Penghargaan ini bisa menyorot sisi baik sepak bola yang kadang muncul dan memberi panggung bagi mereka yang memanfaatkan pengaruh budaya sepak bola untuk memperbaiki hidup orang lain. Sifat sepak bola yang melampaui lapangan membuatnya mampu mencerminkan budaya dan geopolitik. Dalam momen tertentu, olahraga ini berubah menjadi wadah bagi kebaikan.

Ada banyak kandidat yang layak untuk penghargaan semacam itu. Beberapa di antaranya:

  • Afghan Women United, yang diakui sebagai perwakilan resmi negaranya meski bermain sebagai pengungsi di pengasingan. Pada Juni lalu mereka menjalani dua laga persahabatan melawan Cook Islands di Selandia Baru. Keduanya berakhir dengan kekalahan, tetapi itu bukan persoalan utama. Keberadaan tim ini sendiri sudah menjadi protes besar terhadap Taliban yang kembali menindas perempuan sejak merebut Kabul pada 2021.
  • Shakhtar Donetsk, klub Ukraina yang tetap bertahan bahkan berkembang meski wilayah Donbas mereka dilanda invasi Rusia sekitar selusin tahun lalu. Akibatnya, klub itu harus bermain di tempat lain hingga sekarang.
  • Juan Mata, mantan pemain timnas Spanyol yang lewat Common Goal meyakinkan pemain dan pelatih lain untuk menyumbangkan 1 persen penghasilan mereka bagi amal. Ada pula Marcus Rashford yang membuat pemerintah Partai Konservatif mendapat tekanan sehingga mau memberi makan anak-anak selama pandemi.
  • Sadio Mané, yang membiayai pembangunan rumah sakit dan sejumlah proyek infrastruktur di Senegal, kampung halamannya. Hal serupa dilakukan N’Golo Kanté di Mali.
  • Tartan Army, pendukung Skotlandia, yang mengumpulkan dana untuk yayasan anak-anak di mana pun tim mereka bermain. Para pemain Inggris juga layak dipertimbangkan karena menyumbangkan honor pertandingan mereka untuk amal sejak 2007, dengan total lebih dari 6,7 juta dolar AS atau sekitar 5 juta poundsterling.

Rebranding dan Syarat yang Lebih Jelas

Pertanyaan wajar muncul: apa hubungan semua itu dengan perdamaian? Jawabannya, hadiah perdamaian FIFA sebaiknya diganti nama agar tidak lagi diasosiasikan dengan pemimpin paling tidak damai dari sebuah negara Barat dalam beberapa generasi. Penghargaan ini juga perlu syarat dan aturan yang lebih jelas, yang berarti benar-benar memiliki syarat dan aturan, bukan sekadar nama. Selain itu, gagasan untuk sepenuhnya menghindari politik tampaknya perlu ditinggalkan.

Anda tidak bisa sekaligus memiliki penghargaan yang mengakui kebaikan sosial dan bersikap apolitis. Keduanya saling bertentangan dan hanya akan membuat penghargaan kehilangan makna. Namun hal itu bukan masalah besar asalkan hadiah tersebut benar-benar tulus menghargai warga terbaik sepak bola. Syaratnya satu lagi: penghargaan itu harus melayani lebih dari sekadar kepentingan pribadi presiden FIFA.

Singkatnya, wujud pertama hadiah perdamaian FIFA adalah hadiah palsu yang mencapai tujuannya justru karena dipakai untuk menyenangkan seorang politisi. Perombakan oleh komite tanggung jawab sosial memberi peluang untuk mengubahnya menjadi penghargaan yang bermakna. Bila dikelola dengan tulus, hadiah perdamaian FIFA bisa menyorot mereka yang memakai sepak bola untuk kebaikan, bukan sekadar memperkuat kekuasaan segelintir orang.

Yang dibutuhkan bukan trofi baru yang megah, melainkan niat yang jujur untuk mengakui siapa yang benar-benar berjasa. Selama itu belum ada, sepak bola hanya akan terus memutar ulang sandiwara lama dengan nama yang berbeda.