Cristian Volpato: Kisah Pemain Australia yang Memilih Timnas di Tengah Kontroversi

Keputusan Cristian Volpato yang Mengubah Segalanya

Cristian Volpato menjadi sorotan setelah memutuskan untuk membela Timnas Australia (Socceroos) di Piala Dunia, meninggalkan masa lalunya bersama tim junior Italia. Keputusan ini bukan sekadar pilihan olahraga, melainkan juga perjalanan emosional yang terkait erat dengan salah satu momen paling dramatis dalam sejarah sepak bola Australia: kekalahan kontroversial dari Italia pada Piala Dunia 2006. Volpato, yang tumbuh di Sydney, kini menjadi simbol rekonsiliasi antara Australia dan Italia setelah dua dekade penuh luka.

Dalam pertandingan yang hampir membawa Australia ke kemenangan pertama di fase gugur Piala Dunia, Fabio Grosso mendapatkan penalti kontroversial yang dieksekusi oleh Francesco Totti, mengantarkan Italia menjadi juara. Uniknya, Volpato memiliki hubungan langsung dengan kedua tokoh itu. Mantan agennya adalah Totti, dan pelatihnya di Sassuolo adalah Grosso—kini Grosso telah pindah ke Fiorentina. Volpato mengaku sudah menonton pertandingan itu puluhan kali. “Ini gila,” katanya, “mantan agen saya yang mencetak gol, pelatih saya yang memenangkan penalti. Benar-benar kebetulan yang tak terduga.”

Pelajaran dari Momen Kontroversial 2006

Bagi banyak penggemar Australia, keputusan wasit saat itu dianggap sebagai ketidakadilan. Namun Volpato melihat sisi lain. “Detail kecil bisa mengubah pertandingan,” ujarnya. “Kami harus memanfaatkannya dalam permainan kami sendiri, karena detail kecil bisa membuat perbedaan besar.” Saat Socceroos bersiap menghadapi Mesir di laga persahabatan di Dallas, semangat untuk meraih kemenangan pertama di fase gugur Piala Dunia tetap membara.

Volpato sendiri baru menjalani start pertamanya di Piala Dunia melawan Paraguay, tampil sebagai pemain sayap kanan yang berbahaya bersama Jordy Bos. Masuknya dia ke skuad Piala Dunia sempat diragukan karena masalah paspor Australia yang sudah kedaluwarsa. Ia harus terbang kilat ke Sydney sehari sebelum turnamen untuk mengurus perpanjangan. “Syukurlah, saya berterima kasih kepada petugas kantor paspor yang membantu saya mendapatkannya dengan cepat,” kenangnya.

Dari Penolakan di Australia Menuju Sukses di Italia

Perjalanan Volpato tidak selalu mulus. Saat berusia 16 tahun, ia ditolak oleh dua akademi sepak bola Australia. “Keduanya bilang saya tidak cukup bagus untuk bermain,” katanya. Sang ayah menghiburnya dalam perjalanan pulang, “Jangan khawatir, kita akan ke Italia sekarang dan mencobanya.” Ibunya bahkan menjual tokonya demi pindah ke Italia bersama Volpato. Di sana, ia berhasil masuk akademi AS Roma, klub raksasa Serie A. “Syukur, saya bisa mengikuti uji coba dan hidup saya berubah sejak saat itu. Saya merasa harus berterima kasih kepada Italia karena memberi saya kesempatan kedua,” ujarnya.

Setelah itu, Volpato dipanggil memperkuat tim junior Italia. Namun hubungannya dengan staf pelatih Australia tetap berlangsung selama bertahun-tahun. Titik balik terjadi akhir Mei lalu, setelah pertandingan antara klubnya melawan Parma, tempat bek Socceroos Alessandro Circati bermain. “Sesuatu mengklik di hati saya dan berkata: ‘Pergilah, saya rasa Anda pantas berada di sana,’” kenang Volpato. “Saya tidak ingin datang dengan perasaan setengah-setengah. Jika saya ingin datang, itu karena saya benar-benar yakin.”

Menghadapi Troll dan Menjadi “One of Our Own”

Sebelum beralih ke Australia, Volpato sempat menjadi sasaran ejekan daring dari sebagian penggemar Socceroos yang menganggapnya telah mengabaikan negara tempat ia dibesarkan. “Saya manusia biasa, seperti 90% orang lainnya yang kecanduan ponsel. Akan ada yang baik dan buruk, tapi sebagai pemain sepak bola, Anda harus tangguh dan kadang bisa menggunakan itu sebagai bahan bakar,” katanya.

Kini, para penggemar Australia memiliki yel-yel khusus untuknya: “One of our own” (salah satu dari kita). Video yel-yel itu dikirimkan keluarganya dan membuat keputusannya semakin terasa benar. “Saya merasa bisa menjadi diri sendiri di sini, dan saya bisa menunjukkan kemampuan saya lebih banyak,” ucapnya.

Masa Depan Cristian Volpato di Timnas Australia

Dengan usia 22 tahun, Volpato masih memiliki banyak waktu untuk berkembang. Kehadirannya memberikan warna baru di sektor sayap Socceroos yang haus akan kreativitas. Jika ia terus tampil konsisten, bukan tidak mungkin pemain kelahiran Sydney ini akan menjadi andalan dalam perjalanan Australia menuju Piala Dunia 2026. Keputusannya memilih Australia ketimbang Italia mungkin kontroversial bagi sebagian orang, tetapi bagi Volpato, inilah panggilan hati yang paling tepat.

Seperti ia simpulkan, “Detail kecil membuat perbedaan besar.” Begitu pula dengan langkah kecil yang ia ambil—dari toko milik ibunya di Sydney, akademi Roma, hingga kini berseragam hijau-kuning Australia. Cristian Volpato adalah bukti bahwa terkadang, jalan terbaik adalah yang kita pilih sendiri, meski penuh liku.