Dari 32 ke 48 Tim: Langkah Berani FIFA
Keputusan FIFA memperluas Piala Dunia pria dari 32 menjadi 48 tim, yang diumumkan tak lama setelah Gianni Infantino menggantikan Sepp Blatter, langsung menuai reaksi beragam. Legenda Argentina Diego Maradona menyambut positif karena inisiatif ini memberi setiap negara mimpi untuk lolos ke turnamen, menghidupkan kembali gairah sepak bola. Di sisi lain, Joachim Löw yang saat itu menangani Jerman juara dunia, justru khawatir kualitas pertandingan akan menurun. “Dalam jangka panjang, nilai olahraganya terancam,” ujarnya.
Kini, setelah edisi perdana 48 tim dimenangkan Spanyol melalui 104 pertandingan selama lima setengah minggu di Amerika Utara, kita bisa melihat bahwa baik Maradona maupun Löw sama-sama memiliki alasan yang kuat. Piala Dunia 48 tim memang membawa warna baru, tapi juga menyisakan sejumlah masalah yang patut dicermati.
Wajah Baru dari Seluruh Dunia
Cape Verde dan Para Debutan yang Bersinar
“Sepak bola lebih dari sekadar Eropa dan Amerika Selatan; sepak bola itu global,” kata Infantino saat format 48 tim diumumkan pada 2017. Dan Piala Dunia 2026 benar-benar merayakan keragaman sepak bola dunia. Afrika dan Asia mendapat tambahan jatah kuota kualifikasi, dan keempat tim debutan tampil mengesankan. Gol penyeimbang Livano Comenencia untuk Curaçao melawan Jerman menjadi sorotan di fase grup, sementara Cape Verde menjadi kisah underdog terbesar meski tak meraih kemenangan satu pun.
Dengan adanya babak 32 besar, enam negara untuk pertama kalinya merasakan pertandingan sistem gugur di Piala Dunia. Mesir dan Kanada bahkan berhasil meraih kemenangan pertama mereka di fase ini. Jika Infantino benar-benar mendistribusikan pendapatan rekor turnamen ke seluruh asosiasi anggota FIFA, negara-negara kecil—terutama yang memanfaatkan diaspora yang sebelumnya belum tergarap—berpotensi menjadi semakin kuat di masa depan.
Kesenjangan Kelas yang Semakin Lebar
Turnamen yang lebih besar juga berarti kesenjangan antara lawan di fase grup semakin nyata. Pada edisi 32 tim di Qatar 2022, pertandingan Brasil vs Ghana menjadi selisih peringkat terbesar (60 peringkat). Namun dalam edisi 48 tim ini, terdapat lima pertandingan grup dengan selisih lebih dari 65 peringkat. Beberapa di antaranya cukup kompetitif—misalnya Inggris 0-0 Ghana, atau Spanyol 0-0 Cape Verde. Namun, kekalahan mengejutkan bagi tim besar nyaris mustahil terjadi, apalagi tersingkir secara memalukan seperti yang dialami Spanyol (juara bertahan) pada 2014 atau Jerman pada 2018. Hanya Uruguay yang tampil buruk dan menjadi korban awal dari tim utama.
Jika pada 2022 Kosta Rika memiliki selisih gol terburuk (-8), pada edisi kali ini ada lima negara yang menyamai atau lebih buruk dari catatan tersebut. Irak (-11) menjadi bulan-bulanan di Grup I—grup yang nyaris menjadi grup neraka berisi Prancis, Norwegia, Senegal, dan Irak—semua tim besar lolos sesuai prediksi. Di sisi lain, fase grup yang lebih landai memberi kesempatan bagi bintang seperti Kylian Mbappé dan Lionel Messi untuk membangun momentum dalam persaingan Sepatu Emas yang ketat.
Kelemahan Sistem Peringkat Ketiga
Setelah drama di fase grup Piala Dunia 2022 yang hanya menyisakan dua tim (sekitar 6%) tersingkir sebelum pertandingan terakhir, FIFA sempat berencana menggunakan grup tiga tim untuk format 48. Namun akhirnya mereka mempertahankan grup empat tim, dengan delapan tim peringkat ketiga melaju ke babak 32 besar. Sistem ini tidak sepenuhnya menghilangkan kecurigaan kolusi antartim maupun keunggulan kompetitif bagi tim yang bermain lebih akhir—mereka sudah tahu hasil apa yang dibutuhkan untuk lolos.
Lawannya di babak gugur pun bisa berubah seketika. Ketika Riyad Mahrez membawa Aljazair unggul 3-2 atas Austria di menit ke-93 pertandingan terakhir Grup J, Aljazair akan lolos sebagai runner-up dan bertemu Spanyol di babak 32 besar. Namun saat mereka kebobolan penyeimbang di menit ke-96, mereka malah harus menghadapi Swiss di sisi lain undian. Pendukung dan pemain tim peringkat ketiga seperti Skotlandia juga harus menunggu berhari-hari untuk mengetahui bahwa mereka ternyata pulang.
Dengan perubahan tie-breaker dari selisih gol menjadi head-to-head, ada lima tim (sekitar 10%) yang sudah tersingkir sebelum pertandingan grup terakhir mereka. Sistem peringkat ketiga hanya memberikan ilusi bahwa segalanya masih bisa diperjuangkan.
Ke Mana Arah Berikutnya: 64 Tim?
Infantino kembali menekankan pentingnya menyelenggarakan Piala Dunia “bukan hanya untuk Eropa dan Amerika Selatan” ketika ia memberi isyarat akan memperluas turnamen menjadi 64 tim. Menambahkan 16 negara lagi—namun hanya 24 pertandingan tambahan—tampaknya menjadi langkah logis bagi FIFA jika ingin menghilangkan sistem peringkat ketiga dan kembali ke format dua tim teratas lolos. Akan ada lebih banyak ketegangan, meskipun kesenjangan di dalam grup semakin lebar.
Negara seperti Kaledonia Baru (peringkat 151) dan Indonesia (118) sempat terlibat di babak kualifikasi akhir untuk edisi 2026 dan bisa lolos dengan kuota yang lebih besar. Bagaimana kemampuan mereka melawan Spanyol atau Argentina? Dan jika 16 tim terbaik dunia berada di pot yang sama, pertandingan grup yang glamor—yang sudah langka di edisi ini—kemungkinan akan hilang sama sekali. Pertandingan Inggris 4-2 Kroasia tidak akan terjadi jika turnamen berisi 64 tim.
Belum lagi masalah logistik: empat pertandingan sehari selama tiga minggu fase grup, dengan banyak laga berlangsung di siang hari musim panas di Spanyol, Portugal, dan Maroko. Dari 23 stadion yang diusulkan, hanya Santiago Bernabéu dan Camp Nou yang baru direnovasi yang memiliki atap. Perluasan lebih lanjut pasti akan menjadi topik hangat dalam beberapa bulan ke depan.
Kesimpulannya, Piala Dunia 48 tim menghadirkan keragaman dan kebahagiaan bagi negara-negara kecil, namun juga memperlebar kesenjangan kualitas dan menyisakan celah dalam sistem kompetisi. Pertanyaan tentang format ideal masih terbuka lebar, dan masa depan turnamen ini akan terus menjadi perdebatan seru.
