Musim 2026 Major League Soccer (MLS) kembali bergulir pada Kamis ini, tepat di sela-sela semifinal Piala Dunia dan perebutan tempat ketiga. Setelah jeda enam pekan, para penggemar dari 30 tim harus mengingat kembali posisi klub mereka. Lebih dari setengah musim reguler masih tersisa, ditambah jadwal Leagues Cup yang semakin memadat. Meskipun MLS tidak terlalu menonjol selama Piala Dunia—hanya disebut saat komentator menyebut klub pemain yang berlaga—liga ini tetap mencatatkan menit bermain terbanyak keenam di antara semua liga, tertinggi di luar lima liga top Eropa. Sebanyak 22 dari 30 klub MLS mengirim setidaknya satu pemain ke turnamen tersebut.
Total 44 pemain harus meninggalkan tim MLS mereka di tengah musim untuk berlaga di Piala Dunia. Kini, mereka kembali dengan berbagai cerita yang akan memengaruhi performa klub masing-masing. Berikut tujuh narasi utama yang patut disimak.
Son Heung-min: Krisis Gol Berlanjut di LA?
Son Heung-min tampil kurang efektif di depan gawang saat Korea Selatan tersingkir di fase grup. Mantan ikon Tottenham itu memimpin tim dengan tujuh tembakan, namun hanya satu yang mengarah ke gawang. Jika bukan karena Concacaf Champions League dan laga persahabatan melawan Trinidad dan Tobago pada Mei, Son akan tanpa gol untuk klub dan negara sepanjang 2026. Ia juga gagal mencetak gol dalam 13 penampilan MLS bersama Los Angeles FC.
Son adalah opsi kedua di lini depan LAFC setelah winger Denis Bouanga. Dari 39 percobaannya, 19 diambil dari luar kotak penalti, dan hanya tujuh yang berasal dari jarak kurang dari 12 yard. Meski delapan assist-nya membantu LAFC tetap bersaing di puncak Wilayah Barat, tim harus lebih memaksimalkan rekrutan termahal liga ini dengan menempatkannya di area tembak yang lebih dekat ke gawang.
Sebastian Berhalter: Hengkang dari Vancouver – atau MLS?
Penampilan tenang Sebastian Berhalter bersama Amerika Serikat di Piala Dunia membuat pamornya naik drastis. Ia kerap menjadi pemain pertama yang diturunkan Mauricio Pochettino dari bangku cadangan. Di klub, ia menjadi poros penguasaan bola Vancouver Whitecaps, bebas bergerak di lapangan untuk menjaga ritme tim yang paling disiplin secara taktik di MLS. Ia juga termasuk pengambil tendangan bebas terbaik dari kaki kanan di liga dan dalam kumpulan pemain AS.
Berhalter tiba di Vancouver dengan status murah dan kontraknya akan habis pada Desember. Dengan masa depan klub yang masih belum jelas, pesaing lain mungkin memiliki jalan mudah untuk merebut tanda tangannya. Akankah rival MLS menawarkan kontrak besar untuk memperkuat lini tengah mereka, atau pemain berusia 25 tahun kelahiran London ini akan meninggalkan liga sama sekali?
Orlando City: Crépeau, Ojeda, dan Pasalic Bantu Selamatkan Musim Bersama Griezmann?
Orlando City menjadi salah satu tim MLS yang paling banyak mewakili Piala Dunia, dengan Maxime Crépeau (Kanada), Braian Ojeda (Paraguay), dan Marco Pasalic (Kroasia) masing-masing tampil di fase gugur. Namun, The Lions tampil buruk di trimester pertama musim, masuk jeda Piala Dunia di posisi ke-12 Wilayah Timur dengan selisih gol terburuk (-21).
Meski begitu, mereka hanya tertinggal empat poin dari zona playoff dan seharusnya jauh lebih baik dengan kedatangan Antoine Griezmann. Crépeau mengejutkan banyak pihak dengan menjadi kiper utama Kanada mengalahkan Dayne St Clair milik Miami, sebuah keputusan yang bisa meningkatkan kepercayaan dirinya setelah melaju hingga babak 16 besar. Pasalic juga mendapat lebih banyak menit bermain dari perkiraan untuk Kroasia dan mencatat 12 gol serta 5 assist bersama Orlando pada 2025. Di Wilayah Timur yang terbuka lebar selain dua tim teratas, Orlando bisa meroket cepat.
Miguel Almirón dan Suporter Paraguay: Apa Selanjutnya?
Miguel Almirón menjalani Piala Dunia yang kacau. Sebuah diving yang tidak tepat waktu melawan AS membuatnya menjadi pemain pertama yang mendapat kartu kuning akibat tinjauan “mistaken identity”. Di laga berikutnya, pemeriksaan VAR lain menghasilkan kartu merah yang memicu lagu viral. Beruntung, ia bisa kembali menjadi starter saat Paraguay mengalahkan Jerman di babak 32 besar, menutup turnamen dengan catatan positif.
Atlanta United terus terpuruk meski belanja besar, namun kembalinya Almirón ke jalur gol akan sangat membantu. Ia adalah satu dari empat pemain Paraguay yang kembali ke tim MLS setelah kemenangan terkenal atas Jerman, bersama Ojeda (Orlando), Matías Galarza (Atlanta), dan Andrés Cubas (Vancouver). Masing-masing berpotensi membawa status pahlawan mereka kembali ke klub.
Petar Musa: Ke Mana Arah Kariernya?
Petar Musa langsung membayar kepercayaan pelatih Kroasia Zlatko Dalic saat diturunkan sebagai starter melawan Inggris dengan mencetak gol penyeimbang di tengah kekalahan 4-2. Namun, ia kesulitan melanjutkan momentum tersebut: ditarik keluar saat jeda di laga grup kedua dan tidak dimainkan lagi setelah itu.
Musa bisa dibilang sebagai penyerang tengah serba bisa terbaik MLS sejak bergabung dengan FC Dallas. Kepulangannya akan melegakan pelatih Eric Quill. Dallas awalnya merekrut Musa dari Benfica pada 2024, dan banyak yang menduga ia akan diminati klub Eropa setelah mencetak 46 gol dalam 5.632 menit MLS (0,74 per 90 menit). Jika tidak ada yang mengetuk pintu Dallas, ia harus memikat perhatian dengan kembali ke level mencetak gol tingginya.
Mbekezeli Mbokazi: Kiper Belakang untuk Lewandowski?
Mbekezeli Mbokazi tampil kuat di Piala Dunia. Pemain berusia 20 tahun itu menjadi bek paling andal Afrika Selatan saat Bafana Bafana mencapai fase gugur pertama mereka. Ia akan segera masuk tim MLS All-Star, padahal baru menjalani setengah musim bersama Chicago Fire.
Tim asuhan Gregg Berhalter akan mendapat sorotan lebih besar setelah Robert Lewandowski bergabung dengan karier gemilang di Eropa. Fire duduk di posisi ketiga Wilayah Timur, kebobolan gol kedua paling sedikit di konferensi, sebagian berkat adaptasi cepat Mbokazi. Gol diharapkan mengalir lebih lancar seiring Lewandowski beradaptasi.
Apa Lagi yang Tersisa untuk Messi Setelah Piala Dunia?
Sejak 2023, hampir mustahil membahas MLS tanpa menyebut bintang utamanya. Lionel Messi hampir mencapai segalanya bersama Inter Miami, termasuk membuka stadion baru dengan tribun yang dinamai sesuai namanya. Ia menandatangani perpanjangan kontrak pada musim gugur lalu yang membuatnya terikat hingga Desember 2028. Namun, perannya sebagai salah satu pemilik saham memudahkan diskusi tentang rencana pensiun.
Air mata Messi setiap kali Argentina melakukan comeback heroik menekankan betapa dekatnya akhir karier gemilangnya. Adegan laga persahabatan pra-Piala Dunia terakhirnya di Argentina seolah menutup kemungkinan sebagai coda Copa América. Dampak kepergiannya, kapan pun itu, akan sangat terasa di seluruh organisasi Miami dan MLS secara luas. Mampukah ia terus menghibur puluhan ribu penonton di Amerika Utara tanpa insentif untuk tetap tajam demi mempertahankan gelar Piala Dunia?
Kesimpulan: Kembalinya MLS setelah Piala Dunia tidak hanya membawa kembali para pemain, tetapi juga serangkaian cerita yang akan mewarnai sisa musim. Dari nasib Sebastian Berhalter hingga krisis gol Son Heung-min, serta masa depan Messi di Inter Miami, setiap narasi akan menentukan langkah klub-klub MLS menuju playoff. Akankah drama di lapangan hijau sepadan dengan yang terjadi di Piala Dunia? Hanya waktu yang bisa menjawab.
