Zidane Pelatih Prancis, Misteri yang Mulai Terbuka

Zinedine Zidane akhirnya menjalani debut sebagai pelatih Timnas Prancis. Pada laga Nations League melawan Turki, Jumat, sosok yang selama ini dikenal tertutup itu untuk pertama kalinya memimpin Les Bleus — pertemuan antara seorang pelatih penuh teka-teki dan skuad yang sulit ditebak. Debut ini sekaligus menjadi momen langka ketika publik sepak bola bisa melihat langsung seperti apa wajah kepelatihan Zidane di luar Real Madrid.

Penunjukan Zidane menutup era panjang Didier Deschamps yang berlangsung sekitar 14 tahun. Selama periode itu, Prancis tiga kali mencapai final turnamen besar, tetapi prestasi tersebut selalu menyisakan rasa belum tuntas. Tim ini melangkah maju, jarang benar-benar memukau, sampai akhirnya tampil menyerang dengan ganas pada Piala Dunia musim panas ini — sebelum akhirnya kewalahan di lini tengah oleh Spanyol. Kombinasi antara pelatih yang misterius dan skuad yang berubah-ubah itulah yang membuat laga melawan Turki terasa jauh lebih penting dari sekadar satu pertandingan Nations League.

Debut Zidane dan Wajah Baru di Tubuh Prancis

Langkah pertama Zidane sebagai pelatih Prancis langsung memberi sinyal bahwa ia ingin memegang kendali sejak awal. Ia mengambil keputusan yang tidak biasa dengan melarang pers meliput kedatangan para pemain di markas Clairefontaine. Kebijakan itu menunjukkan bahwa ia ingin membangun ruang kerja yang tertutup dari sorotan luar, setidaknya pada tahap-tahap awal masa kepelatihannya.

Skuad yang ia panggil juga bukan sambungan langsung dari era Deschamps. Sejumlah nama baru muncul, menandakan adanya keinginan untuk menyegarkan komposisi tim. Dalam situasi seperti ini, pertanyaan utamanya bukan hanya soal siapa yang bermain, tetapi bagaimana Zidane ingin timnya bermain — sesuatu yang sampai sekarang masih menjadi tanda tanya besar.

Otonomi yang dimiliki pelatih tim nasional memang berbeda dibandingkan pelatih klub. Waktu latihan lebih terbatas, pertemuan dengan pemain lebih jarang, dan tidak ada bursa transfer di tengah musim untuk memperbaiki kelemahan. Namun justru di ruang yang lebih sempit itulah karakter seorang pelatih sering kali terlihat paling jelas. Bagi Zidane, Prancis bisa jadi tempat di mana sifat aslinya sebagai juru taktik akhirnya menemukan bentuk.

Rekam Jejak: Tiga Liga Champions yang Sulit Dinilai

Penilaian atas karier kepelatihan Zidane selalu berputar pada satu paradoks. Ia termasuk lima pelatih yang mampu memenangi Liga Champions tiga kali atau lebih, sederet dengan Bob Paisley, Pep Guardiola, dan Luis Enrique, serta hanya berada di bawah Carlo Ancelotti. Ia bahkan satu-satunya pelatih yang meraih tiga trofi Liga Champions secara beruntun.

Namun, dalam rentang masa yang sama, ia hanya meraih satu gelar La Liga. Ia meninggalkan Real Madrid lima hari setelah kesuksesan Liga Champions ketiga, dengan alasan yang samar tentang kebutuhan klub akan perubahan. Motivasi di balik keputusan itu, seperti banyak hal lain dalam kariernya, tetap tidak jelas bagi orang luar.

Ia kemudian kembali pada Maret tahun berikutnya, setelah masa kepelatihan Julen Lopetegui dan upaya Santi Solari merapikan sisa-sisa kekacauan. Dalam dua musim penuh setelahnya, ia menambah satu gelar La Liga lagi. Secara keseluruhan, ia mengumpulkan dua gelar liga dari empat musim penuh, sementara tiga trofi Liga Champions datang pada dua setengah musim pertamanya.

Angka-angka lain yang ia kumpulkan justru terlihat nyaris tidak terbantahkan:

  • Hanya kalah delapan kali dalam 100 pertandingan pertamanya, sebuah rekor.
  • Mencetak gol dalam 73 laga beruntun, juga sebuah rekor.
  • Menang 16 kali berturut-turut di La Liga, menyamai rekor bersama.
  • Meraih 13 kemenangan tandang beruntun, sebuah rekor.

Masalahnya, tumpukan statistik itu justru memunculkan efek sebaliknya dari yang mungkin diharapkan. Madrid asuhan Zidane pada periode pertama memang sangat dominan, tetapi apakah dominasi itu lahir dari kejeniusannya, atau ia tampak jenius karena timnya sedominan itu? Pertanyaan yang kemudian menjadi penting bukan lagi berapa banyak, melainkan bagaimana caranya menang.

Kenapa Kesuksesan Itu Tetap Dipertanyakan

Jawaban atas pertanyaan “bagaimana” itu ternyata tidak pernah benar-benar memuaskan. Madrid menang, tetapi jarang dengan permainan yang benar-benar memikat. Bahkan tiga gelar Liga Champions beruntun, yang seharusnya menjadi bukti terkuat kebesaran Zidane, justru memberi sedikit sekali petunjuk tentang keunggulan metode kepelatihannya.

Pada 2016, Madrid melewati Roma dan Wolfsburg, lalu menyingkirkan Manchester City lewat adu penalti di semifinal berkat gol bunuh diri Fernando, sebelum mengalahkan Atlético Madrid melalui adu penalti di final yang tidak mudah diingat. Musim berikutnya jauh lebih meyakinkan, dengan lonjakan performa di perpanjangan waktu melawan Bayern serta penampilan gemilang Cristiano Ronaldo yang menghancurkan Napoli, Atlético, dan Juventus.

Namun 2018 kembali terasa biasa-biasa saja. Di perempat final melawan Juventus, Madrid sempat membuang keunggulan tiga gol sebelum diselamatkan penalti di menit akhir. Kemenangan atas Liverpool di final juga tidak lepas dari cedera bahu Mohamed Salah setelah benturan dengan Sergio Ramos, kesalahan serius Loris Karius yang mungkin sedang tidak fit, dan gol indah Gareth Bale.

Dari seluruh rentetan itu, sangat sulit menunjukkan satu momen spesifik yang bisa dikaitkan langsung dengan kejeniusan taktik Zidane. Ia tidak menciptakan trio lini tengah Casemiro, Luka Modrić, dan Toni Kroos. Ia juga tidak menemukan peran baru untuk Ronaldo atau Bale. Mungkin ia memang punya kemampuan khusus untuk membujuk para pemain bintang agar tampil hebat secara konsisten, tetapi dari luar, hal itu sulit dibuktikan. Sebagai Zidane, ia tetap tidak terbaca — sebuah sosok kosong yang bisa diisi pesan apa pun sesuai keinginan pengamatnya.

Warisan Deschamps dan Soal Disiplin

Pelatih Real Madrid memang kerap menghadapi masalah serupa. Mereka punya pemain hebat, dan pemain hebat melakukan hal-hal hebat. Filosofi dan struktur taktik seolah selalu tersubordinasi pada kualitas individu. Ancelotti, seperti Zidane, sering kurang dihargai karena dianggap hanya membiarkan pemain bermain sesuai instingnya.

Penilaian itu mungkin tidak adil, dan kalaupun ada benarnya, kemampuan semacam itu tetap layak disebut keterampilan. Sebab, banyak pelatih Madrid lain yang justru gagal membiarkan para pemainnya mengekspresikan keunggulan bawaan mereka. Jadi, setidaknya bisa dikatakan bahwa Zidane punya aura. Bahkan mereka yang menuduhnya sekadar sepasang tangan yang bertepuk di pinggir lapangan harus mengakui bahwa ada tangan yang lebih berwibawa daripada tangan lainnya.

Kualitas itu bisa jadi sangat penting bagi Prancis. Antara dua gelar Piala Dunia mereka, tim nasional ini dikenal karena masalah disiplin, mulai dari skandal di Seoul pada 2002 hingga aksi pemogokan di Knysna pada 2010. Reputasi itulah yang harus dikelola Zidane, terlebih ia memilih menutup akses pers sejak awal.

Di sisi lain, selama 14 tahun menangani Prancis, Deschamps berhasil mencegah keruntuhan disiplin yang pernah menjatuhkan para pendahulunya, meski menghadapi sejumlah situasi yang sangat sulit. Kecenderungannya bermain hati-hati memang sering dianggap kontraproduktif — sampai akhirnya, di semifinal melawan Spanyol, ia justru tidak cukup berhati-hati. Namun catatan bahwa ia mampu menjaga tim tetap utuh selama lebih dari satu dekade tetap tidak bisa diabaikan.

Aura Zidane dan Apa yang Menanti Berikutnya

Prancis yang diwarisi Zidane mungkin bukan skuad paling bermasalah dibandingkan generasi satu dekade terakhir. Namun perubahan yang ia lakukan, terutama dalam hal kontrol akses media, menunjukkan bahwa ia sadar betul tantangan utamanya bukan sekadar merancang formasi. Ia harus membangun kembali cara tim ini bekerja di dalam dan di luar lapangan.

Kedalaman skuad Prancis sendiri sudah lama menjadi bahan perdebatan menarik. Kualitas pemainnya begitu melimpah sehingga tim “B” mereka pun diperkirakan mampu bersaing serius di Piala Dunia. Kekayaan talenta semacam itu selalu menghadirkan godaan untuk sekadar mengandalkan kualitas individu, bukan membangun pola permainan yang jelas. Di sinilah pertanyaan tentang identitas kepelatihan Zidane menjadi semakin relevan.

Jika ia mampu menjawabnya, maka teka-teki besar tentang dirinya sebagai pelatih akhirnya akan menemukan wajah. Dan jika itu terjadi, debut melawan Turki bisa dicatat sebagai titik awal terbukanya tabir, bukan sekadar pertandingan pembuka yang biasa.

Yang jelas, Zidane kini berada di posisi yang jarang ia alami: dituntut menjelaskan dirinya sendiri. Di Madrid, trofi berbicara lebih keras daripada metode. Di Prancis, dengan waktu kerja yang terbatas dan sorotan publik yang tinggi, cara ia mengelola tim akan lebih mudah dinilai. Jawaban atas pertanyaan lama tentang dirinya mungkin tidak akan datang dari piala, melainkan dari bagaimana Les Bleus bermain dari minggu ke minggu.

Pada akhirnya, debut sebagai pelatih Prancis adalah ujian yang berbeda dari semua yang pernah Zidane jalani. Ia tidak lagi bekerja dengan skuad yang secara struktural lebih kuat dari hampir semua lawannya. Ia harus membuat pilihan, menjelaskan arah, dan menghadapi tekanan tanpa bantuan dominasi yang selama ini menutupi ketidakjelasan metodenya. Jika ia berhasil, misteri Zidane sebagai pelatih akhirnya akan terungkap — dan kali ini bukan lewat bisikan atau aura, melainkan lewat permainan tim yang bisa disaksikan semua orang.