Kebangkitan Leeds United di bawah asuhan Daniel Farke terus berlanjut musim ini. Tim asal Yorkshire itu kini belum terkalahkan di liga dan tampil dengan gaya yang semakin sulit dibaca lawan. Di balik performa tersebut, Farke tengah menegosiasikan perpanjangan kontrak dari posisi yang jauh lebih kuat dibandingkan setahun lalu.
Perubahan ini bukan kebetulan. Farke dikenal menuntut keberanian sekaligus kemampuan beradaptasi cepat dari para pemainnya, dan pendekatan itulah yang perlahan mengangkat kualitas Leeds. Klub juga bergerak agresif di luar lapangan, mulai dari belanja pemain bernilai besar hingga perluasan stadion Elland Road, sehingga suasana sebagai klub yang sedang naik kian terasa.
Taktik Adaptif Daniel Farke Jadi Kunci Leeds Sulit Diprediksi
Farke ingin timnya menjadi lawan yang sukar diperkirakan. Menjelang laga melawan Newcastle, ia menegaskan bahwa Leeds memiliki sejumlah pendekatan berbeda yang bisa dipakai sesuai situasi. Fleksibilitas ini sengaja dirancang agar rival tidak mudah menyiapkan taktik balasan.
Contohnya, jika lawan punya dua bek tengah yang sangat kuat di udara, Farke memilih membangun serangan dengan lebih banyak umpan pendek. Prinsip dasarnya tetap sama: Leeds ingin menguasai bola, berani mengambil risiko saat membangun serangan dari belakang, dan mampu memecah pressing lawan lewat permainan bola yang rapi.
Meski begitu, Leeds bukan tim yang anti terhadap bola panjang. Musim ini hanya Hull dan Nottingham Forest yang persentase umpan panjangnya lebih tinggi daripada Leeds yang biasanya dipimpin Dominic Calvert-Lewin di lini depan. Menurut Farke, kehadiran penyerang target yang kuat membuat opsi umpan langsung tetap berguna untuk diterapkan.
Variasi gaya semacam itu mencerminkan sosok Farke yang mengagumi dua pendekatan berbeda dari sahabatnya, Pep Guardiola dan Jürgen Klopp. Ia menyatukan keduanya menjadi identitas permainan yang khas di Leeds. Kombinasi inilah yang membuat timnya tetap relevan menghadapi lawan dengan karakter beragam.
Kisah Kuda yang Menjelaskan Keberanian Farke
Sebelas tahun lalu, Farke pernah menunggangi seekor kuda palomino mengelilingi lapangan di Lippstadt dan melambaikan tangan kepada penonton yang memenuhi stadion. Saat itu ia adalah mantan penyerang tengah yang beralih menjadi manajer sekaligus direktur olahraga klub Jerman tersebut. Bagi banyak orang, cara itu tampak sebagai perpisahan yang menyenangkan.
Namun sedikit orang di tribun yang tahu bahwa Farke sebenarnya takut kuda. Ia menaiki pelana hanya karena tidak enak hati kepada ketua klub yang telah menyiapkan kejutan khusus tersebut. “Aku tidak bisa menolaknya,” ujarnya. “Tapi itu menyembuhkan rasa takutku, dan ternyata menyenangkan.”
Cerita itu menjadi gambaran karakter yang kini ia tuntut dari para pemain Leeds. Farke ingin timnya tampil berani menanggung risiko, namun tetap cepat menyesuaikan diri ketika situasi pertandingan berubah.
Malam di Etihad dan Titik Balik Musim Lalu
Musim lalu menjadi masa yang berat bagi Farke. Antara 4 Oktober hingga 29 November, Leeds menjalani tujuh pertandingan Premier League dan kalah di enam di antaranya. Tekanan terhadap posisinya saat itu sangat besar.
Semuanya berubah pada 29 November. Leeds kalah 3-2 di kandang Manchester City, tetapi perubahan taktik Farke di babak kedua menjadi penyelamat. Ia beralih ke formasi tiga bek dan memasukkan Calvert-Lewin, keputusan yang membuat tim yang sempat tertinggal 2-0 mampu menyamakan kedudukan lewat penampilan babak kedua yang transformatif. Gol Phil Foden di masa tambahan waktu akhirnya merusak hasil tersebut.
Sejak malam itu, arah Leeds berubah. Mereka menyelesaikan 28 pertandingan liga berikutnya dengan hanya lima kekalahan dan menembus semifinal Piala FA. Musim ini, Leeds yang bergantian memakai tiga dan empat bek tetap belum terkalahkan, sama seperti Newcastle. Kemampuan beradaptasi itulah yang hampir pasti menyelamatkan pekerjaan Farke.
Rekrutmen Berkualitas dan Ambisi Besar Leeds
Kepercayaan diri Leeds juga tercermin dari pergerakan di bursa transfer. Kedatangan kiper Timnas Inggris, James Trafford, dari Manchester City musim panas ini dengan nilai £40 juta menjadi rekor biaya untuk seorang kiper asal Inggris. Mengingat Newcastle sempat tiga kali mencoba membeli Trafford, kesepakatan ini terasa seperti kemenangan tersendiri bagi Leeds.
Ambisi klub tidak berhenti pada transfer pemain. Elland Road sedang diperluas dari kapasitas di bawah 38.000 menjadi 53.000 kursi, dengan alat berat dan pekerja proyek yang terlihat jelas di sekitar stadion. Atmosfer sebagai klub yang sedang tumbuh pun kian terasa.
“Ada sesuatu yang berjalan baik di sini,” kata Trafford setelah resmi bergabung. Ia menyebut pemilik klub, 49er Enterprises, ingin membawa Leeds kembali ke posisi historisnya dan yakin hal itu akan terwujud. Menurutnya, energi, fisik, dan kualitas di dalam tim membuat segalanya mungkin musim ini, ditopang semangat yang luar biasa.
Harmoni di ruang ganti tak lepas dari kebijakan “no dickheads” yang diterapkan Farke dalam menyaring calon pemain, serta kepemimpinan Ethan Ampadu sebagai kapten. Perekrutan yang cermat perlahan menaikkan kualitas tim, seperti bek tengah Bosnia dan Herzegovina, Tarik Muharemovic, yang dibeli £34 juta dari Sassuolo dan tampil sebagai bek tangguh sekaligus pengumpan andal. Kehadiran Harry Wilson dari Fulham menambah opsi di lini tengah dan sayap.
Dengan kontrak yang tersisa kurang dari satu tahun, Farke kini bernegosiasi dari posisi kuat. Direktur pelaksana Leeds, Robbie Evans, menegaskan pihaknya ingin Farke bertahan jangka panjang dan sedang mengupayakan hal itu.
Ujian Berat Menanti: Newcastle di Elland Road
Senin malam, Farke akan menyambut Newcastle asuhan rekan senegaranya, Matthias Jaissle, di Elland Road. Newcastle dikenal berbahaya, terutama lewat serangan balik cepat. Farke pun menyadari bahwa laga ini akan menjadi ujian berat bagi timnya.
Sebelum itu, Farke sempat menghadapi situasi tak menyenangkan ketika kiper cadangan Trafford, Michael Zetterer, tampil kewalahan dalam debutnya. Leeds yang dirotasi kalah 6-3 dari Chelsea di Piala Carabao pada Rabu. Farke tidak mencari alasan dan menyebutnya debut yang buruk, meski menegaskan Zetterer tetap kiper berkualitas yang bermain untuk klub besar.
Terhadap Jaissle, Farke justru akan menyambut dengan lebih hangat dibandingkan lawan lain. Keduanya sama-sama dekat dengan Klopp dan Thomas Tuchel, meski posisi Jaissle belakangan di Jeddah bersama Al-Ahli membuat jalur karier mereka belum pernah bersinggungan. Kedekatan itu membuat duel ini punya dimensi personal tersendiri di luar urusan poin.
“Dia membuat awal yang cerah,” kata Farke tentang Jaissle. “Newcastle sangat berbahaya, terutama saat menyerang balik dan ini akan sulit. Tapi kami ingin mengatasi tantangan mereka dan meraih poin sebanyak mungkin.”
Dengan taktik yang fleksibel, skuad yang semakin matang, dan dukungan penuh dari manajemen, Leeds United di bawah Daniel Farke berada di jalur yang tepat. Titik balik di Etihad menjadi penanda bahwa kemampuan beradaptasi sang manajer mampu mengubah tekanan menjadi peluang. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan momentum itu di tengah persaingan yang ketat dan ekspektasi yang terus naik.
